Fakta Baru Jelang Penculikan KCP Bank di Jakarta Pusat, Kuasa Hukum Ungkap Kejanggalan

Kuasa hukum beberkan kejanggalan soal kasus penculikan kacab bank di Jakarta yang berakhir tewas.

Fakta Baru Jelang Penculikan KCP Bank di Jakarta Pusat, Kuasa Hukum Ungkap Kejanggalan
penculikan kacab bank

INILAHKORAN - Kuasa hukum almarhum Kepala Cabang Pembantu (KCP) bank di Jakarta Pusat, MIP (37), Boyamin Saiman, mengungkap sejumlah kejanggalan yang terjadi sekitar satu minggu sebelum korban diculik pada Rabu (20/8/2025).

Menurut Boyamin, gelagat aneh tersebut baru diketahui setelah kasus penculikan dan kematian MIP mencuat. Berikut poin-poin yang diungkapkan:

1. Korban Memarkir Mobil Jauh dari Rumah

  • Satu minggu sebelum penculikan, MIP tiba-tiba mengubah kebiasaannya dengan memarkir mobil sekitar 300–400 meter dari rumahnya di Tangerang Selatan.

  • Satpam kompleks mendapati MIP berjalan kaki menuju rumah, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah dilakukan.

  • Perubahan perilaku ini tidak diketahui oleh istrinya, karena MIP tidak pernah bercerita. Sang istri baru tahu setelah diberi tahu oleh Satpam pascakejadian.

2. Rumah Masa Kecil Korban Diikuti Orang Tak Dikenal

  • Boyamin menyebut ada orang yang terlihat menguntit rumah masa kecil MIP di Bogor, meski korban sudah lama tinggal di Tangerang Selatan.

  • Hal ini menambah dugaan bahwa korban memang sudah menjadi target sebelum peristiwa penculikan.

3. Orang Mencurigakan Datangi Kantor Cabang

Motif Penculikan: Dana di Rekening Dormant

Berdasarkan hasil penyidikan, para tersangka membutuhkan otoritas setingkat KCP bank untuk memindahkan dana dari rekening dormant (tidak aktif) ke rekening yang telah mereka siapkan.

Kepala Subdirektorat Kejahatan dan Kekerasan (Kasubdit Jatanras) Polda Metro Jaya, AKBP Abdul Rahim, sebelumnya menjelaskan bahwa otak pelaku berinisial K alias C sempat mencari kepala cabang bank yang mau diajak bekerja sama. Namun upaya itu gagal selama lebih dari satu bulan.

K kemudian menyerahkan data berupa kartu nama milik MIP kepada rekannya, DH. Dari situ, DH menggunakan kartu nama tersebut untuk menelusuri keberadaan korban hingga akhirnya menjadikan MIP target penculikan.


Editor : Firda Rachmawati