Farhan Minta Dampak Pembangunan BRT Ditekan
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Pembangunan halte Bus Rapid Transit (BRT) di kawasan Kebon Kawung hingga Kebon Jati bakal mengubah aktivitas di sekitar jalur pekerjaan. Arus lalu lintas, mobilitas warga, hingga kegiatan sehari-hari berpotensi ikut terdampak selama pembangunan berlangsung.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyadari pekerjaan tersebut tidak akan berjalan tanpa gangguan. Karena itu, dampak pembangunan diminta ditekan melalui koordinasi lintas pihak dan sosialisasi yang lebih masif kepada masyarakat.
“Kita akan seoptimal mungkin meminimalisir dampak. Kerja sama sama semua orang. Memang ini sesuatu yang saya sudah deg-degan banget, tapi harus kita hadapi. Mau gimana,” kata Farhan, Kamis (8/10).
Bagi Farhan, pembangunan BRT merupakan pekerjaan yang harus dihadapi. Namun, masyarakat tidak boleh dibiarkan menghadapi perubahan kondisi di lapangan tanpa informasi yang cukup.
Waktu dimulainya pekerjaan dan durasi pengerjaan menjadi informasi dasar yang perlu disampaikan sejak awal. Sosialisasi tidak cukup dilakukan sekali, tetapi harus terus berjalan selama pekerjaan berlangsung.
“Yang paling penting sekarang, kita mesti memberi tahu bahwa pekerjaan akan dimulai berapa hari, berapa lama. Itu mesti diinformasikan terus,” ujarnya.
Koordinasi dengan berbagai pihak disebut telah dilakukan. Selanjutnya, penyampaian informasi kepada masyarakat akan diperluas agar warga mengetahui perubahan kondisi di sekitar lokasi pembangunan.
“Dengan semua pihak sudah berkoordinasi. Kita akan atur sedemikian rupa, tapi nanti sosialisasinya akan lebih masif,” kata dia.
Persoalan komunikasi publik juga menjadi perhatian Farhan dalam penanganan traffic light yang belum berfungsi akibat pencurian. Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung diminta tidak hanya memperbaiki fasilitas tersebut, tetapi juga menyampaikan jadwal perbaikannya kepada masyarakat.
“Saya juga sekarang sama Dinas Perhubungan sedang menekan agar Dinas Perhubungan memberitahukan jadwal perbaikan semua traffic light yang dicuri agar bisa dinyalakan,” jelasnya.
Bagi warga, lampu lalu lintas yang mati bukan sekadar fasilitas yang berhenti bekerja. Ada perubahan arus, kebingungan di jalan, hingga pertanyaan mengenai kapan kondisi kembali normal.
Karena itu, Farhan meminta proses perbaikan dikomunikasikan secara terbuka. Masyarakat perlu mengetahui alasan pekerjaan membutuhkan waktu tertentu, termasuk apa saja yang dikerjakan dan lokasi yang menjadi sasaran perbaikan.
(yogo triastopo/gin)
Editor : Inilahkoran
