Ferdiansyah Bidik 5 Persen Guru Priangan Timur Ikut Lokakarya Pembelajaran STEM
Pembelajaran berbasis sains, teknologi, engineering, dan matematika (STEM) didorong tidak selalu identik dengan penggunaan teknologi canggih.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Pembelajaran berbasis sains, teknologi, engineering, dan matematika (STEM) didorong tidak selalu identik dengan penggunaan teknologi canggih.
guru justru diminta mampu memanfaatkan berbagai persoalan dan benda sederhana di lingkungan sekitar sebagai bahan pembelajaran bagi peserta didik.
Hal tersebut disampaikan Anggota Komisi X DPR Ferdiansyah dalam Lokakarya Pembelajaran STEM Komisi X DPR RI bersama Pusat Kurikulum dan Pembelajaran, Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah di Tasikmalaya, Sabtu (29/8/2026).
Ferdiansyah mengatakan, lokakarya tersebut membahas penerapan STEM sebagai pendekatan pembelajaran di berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD, SD, SMP, SMA hingga SMK. Kegiatan tersebut secara khusus melibatkan guru di Kota Tasikmalaya.
"Intinya, guru untuk melakukan STEM ini dalam konteks pembelajarannya, supaya juga menggunakan semua interdisiplin ilmu, atau multidisiplin ilmu," kata Ferdiansyah.
Menurutnya, penerapan STEM dapat dilakukan dengan mengangkat berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. guru tidak harus selalu menghadirkan perangkat atau teknologi berbiaya tinggi untuk membuat pembelajaran berbasis STEM.
Dia mencontohkan persoalan zakat yang dapat dikaitkan dengan matematika melalui perhitungan 2,5 persen. Begitu pula dengan materi pajak penghasilan yang dapat menjadi bahan pembelajaran untuk memahami perhitungan angka.
Persoalan sosial di daerah juga, menurut Ferdiansyah, dapat dikaji melalui pendekatan tersebut. Misalnya, perbandingan jumlah perkawinan dan perceraian di Kota Tasikmalaya dapat menjadi bahan analisis bagi peserta didik.
"Misalnya tadi saya menyatakan kayak zakat, kan ada 2,5 persen, ada matematikanya dari penghitungan tertentu. Kemudian pajak kita, termasuk yang ada di negara kita, pajak penghasilan itu juga," ujarnya.
"Jumlah angka perceraian di Tasik, jumlah perkawinan, misalnya 4.500 per tahun. Tapi yang cerai 2.000, berarti kan darurat bagi Kota Tasik bahwa tingkat perceraiannya bisa hampir 40 persen dengan perbandingan antara jumlah perkawinan. Nah, kayak gitu. Ini hanya contoh," sambungnya.
Selain persoalan sehari-hari, pemanfaatan barang sederhana juga dapat menjadi bagian dari pembelajaran STEM. Ferdiansyah mencontohkan pemanfaatan galon dan paralon untuk membuat biogas, serta sisa makanan yang diolah menjadi pupuk.
Menurutnya, kegiatan tersebut sudah mengandung unsur engineering meskipun tidak menggunakan teknologi tinggi.
"Teknologi yang kami sampaikan juga bukan yang sangat canggih. Pemanfaatan galon dan paralon untuk biogas misalnya, kemudian pemanfaatan bekas-bekas makanan untuk menjadi pupuk. Nah, itu kan juga ada engineering-nya," jelasnya.
Dia juga mencontohkan teknologi sederhana seperti kerekan timba atau sistem penggerak sumur yang dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran.
Ferdiansyah menilai guru perlu dilatih untuk melihat potensi yang ada di lingkungan sekitar sehingga tidak perlu repot menyediakan bahan pembelajaran baru.
"guru kita ajarkan untuk melihat sekeliling, apa yang bisa dimanfaatkan untuk bahan ajar tanpa repot-repot harus mengadakan sesuatu untuk bahan ajar," katanya.
Bahkan, benda sederhana seperti ranting yang berserakan di lingkungan sekolah PAUD dapat dimanfaatkan untuk kegiatan berhitung. Jika terdapat sekitar 200 ranting, benda tersebut bisa digunakan sebagai alat bantu pembelajaran matematika dasar.
Dengan pendekatan tersebut, pembelajaran STEM diharapkan dapat membuat peserta didik lebih kritis, jeli dalam melihat persoalan, sekaligus tidak gagap teknologi.
Dalam lokakarya kali ini, peserta juga mengikuti mekanisme seleksi melalui pretest. guru yang mendaftar terlebih dahulu mengikuti tes untuk memperebutkan kursi peserta yang tersedia.
Editor : Doni Ramdhani

