Garam di Kabupaten Cirebon Disiapkan Jadi Motor Ekonomi Pesisir.
Kabupaten Cirebon berpeluang besar menjadi pusat produksi garam nasional sekaligus solusi bagi tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor. Potensi ini mencakup dua segmen sekaligus yaitu garam industri dan garam kesehatan bernilai ekspor. Saat ini Pemkab Cirebon mulai melakukan pemetaan secara serius.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Cirebon - Kabupaten Cirebon berpeluang besar menjadi pusat produksi Garam nasional sekaligus solusi bagi tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor. Potensi ini mencakup dua segmen sekaligus yaitu garam industri dan garam kesehatan bernilai ekspor. Saat ini Pemkab Cirebon mulai melakukan pemetaan secara serius.
Hal tersebut dikatakan Kepala Bappelitbangda Kabupaten Cirebon, Dangi. Dia menilai, Pesisir utara dan timur Kabupaten Cirebon memiliki kualitas lahan ideal untuk pengembangan garam.
“Bermodal tekstur tanah yang baik, Cirebon bisa menjadi sentra produksi garam industri dan garam kesehatan. Ini bukan hanya soal komoditas, tapi pembangunan ekonomi pesisir yang berkelanjutan,” ucap Dangi, Minggu 3 Juli 2025.
Asumsinya lanjut Dangi, jika tersedia lahan 600 hektare dengan produksi 60 ton garam per hektare per tahun dan harga jual Rp 3.000 per kilogram, potensi omzet dari garam krosok untuk industri mencapai Rp 100 miliar per tahun.
Disinilah, nilai ekonomi melonjak signifikan jika garam diolah menjadi garam kesehatan atau konsumsi khusus. Dari lahan 100 hektare saja, dengan produksi sama dan harga Rp 15.000 per kilogram, omzet bisa mencapai Rp 90 miliar per tahun.
“Selama ini garam kita hanya jadi bahan baku. Padahal garam kesehatan punya pasar ekspor besar. Ini peluang emas untuk menaikkan nilai tambah,” ungkapnya.
Dia mengaku, saat ini Bappelitbangda sedang menyusun strategi hilirisasi garam. Mulai dari optimalisasi lahan potensial, peningkatan teknologi produksi, pembentukan kelembagaan petani garam, hingga fasilitasi sertifikasi dan kemitraan dengan industri hilir. Proposal investasinya sudah masuk ke DPMPTSP untuk menarik minat swasta.
Menurut Dangi, langkah ini juga bagian dari upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor garam yang masih tinggi, terutama untuk industri pangan dan farmasi.
“Cirebon bisa jadi bagian solusi. Produksi lokal tidak hanya menopang kebutuhan nasional, tapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir,” jelasnya.
Dia menilai, pengembangan sektor garam akan mengubah wajah ekonomi pesisir Kabupaten Cirebon. Tidak hanya sebagai penghasil bahan baku, tetapi sebagai pusat produk turunan bernilai tinggi, mulai dari garam kesehatan hingga kosmetik berbasis mineral laut.
“Dengan dukungan pemerintah daerah, kolaborasi swasta, dan pendampingan petani garam, ini bisa jadi Motor Ekonomi baru bagi Cirebon,” akunya.
Dia menambahkan, jika terealisasi, transformasi garam Kabupaten Cirebon bukan hanya soal industri, melainkan strategi nyata membangun kemandirian ekonomi nasional dari pesisir. (maman suharman)
Editor : Ahmad Sayuti

