Gasibu jadi Cara Unik SDN Cipageran Mandiri 4 Tingkatkan Minat Baca Siswa
Rendahnya minat baca di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan semua pihak. Terlebih di era gempuran teknologi digital seperti saat ini.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Cimahi - Rendahnya minat baca di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan semua pihak. Terlebih di era gempuran teknologi digital seperti saat ini.
Berdasarkan data United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO), hanya 0,001 persen masyarakat Indonesia yang memiliki minat baca.
Sementara itu, hasil penelitian Program for International Student Assessment (PISA) 2022 yang diumumkan pada 5 Desember 2023, Indonesia berada di peringkat 68 dengan skor matematika 379, sains 398, dan membaca 371.
Meski begitu, upaya untuk meningkatkan minat baca masih terus diupayakan. Salah satunya seperti yang dilakukan di SDN Cipageran Mandiri 4 Kota Cimahi yang memiliki cara unik untuk meningkatkan minat baca para siswa. Yakni dengan menggulirkan Gerakan Literasi Rabu (Gasibu) yang rutin dilaksanakan setiap hari Rabu.
"Kendati sebagian kecil siswa masih belum lancar membaca, pihak sekolah tetap menekankan pentingnya membaca sebagai bagian dari pengembangan literasi," kata Kepala SDN Cipageran Mandiri 4 Indri Puri, Rabu 9 Oktober 2024.
Indri mengakui, siswa kelas 1 yang akan naik ke kelas 2 masih ada yang belum bisa membaca. Namun, saat siswa naik kelas guru pun bakal memberikan bimbingan khusus.
Menurutnya, kegiatan Gasibu dibuat untuk menambah motivasi para siswa agar lebih gemar membaca buku. Oleh karena itu, sekolah melarang siswanya untuk membawa ponsel.
"Di sekolah kami melarang siswa membawa gadget karena dikhawatirkan dapat mengganggu fokus mereka dalam belajar," tuturnya.
Tak hanya itu, Indri juga menyoroti pentingnya peran orang tua dalam mendukung literasi anak, mengingat waktu bersama guru di sekolah terbatas.
Pasalnya, motivasi siswa juga dipengaruhi oleh dukungan orang tua. Beberapa orang tua ada yang merespon positif, namun ada juga yang tidak terlalu terlibat.
"Sebisa mungkin, para guru terus memotivasi siswa dan juga orang tua mereka," bebernya.
Terkait keterbatasan buku paket, SDN Cipageran Mandiri 4 bekerja sama dengan komunitas literasi di Cimahi untuk mendukung gerakan literasi di sekolah.
"Literasi ini lebih banyak minat baca pada buku fiksi atau cerita, dan kami alokasikan waktu khusus untuk pembiasaan membaca," jelasnya.
Selain membaca, sambung Indri, siswa pun diberikan diberikan penayangan cerita anak melalui YouTube, dan diminta menyebutkan tokoh-tokoh yang muncul dalam tayangan tersebut.
"Kami juga mendatangkan tokoh literasi dari Komunitas Taman Bacaan Masyarakat (TBM) untuk memberikan edukasi dan bimbingan terkait minat baca kepada siswa," ujarnya.
Ada juga kegiatan lain yang dilakukan termasuk meresume atau menceritakan kembali apa yang telah ditayangkan, terutama untuk siswa kelas 5 dan 6.
"Sementara siswa kelas 1 hingga 4 lebih diarahkan untuk membaca dan menjawab pertanyaan ringan dari guru," ucapnya.
Indri menekankan bahwa pembinaan literasi dilakukan rutin di seluruh kelas, mengingat kebijakan saat ini yang tidak lagi mengadakan tes masuk saat pendaftaran.
Dinas Pendidikan juga aktif dalam menggerakkan sosialisasi gerakan literasi sekolah, seperti program pemberdayaan perpustakaan sekolah atau pojok baca di setiap sekolah.
"Harapan kami adalah adanya kerja sama antara sekolah dan orang tua, serta dukungan dari lingkungan sekitar, karena lingkungan juga sangat mempengaruhi siswa," tutupnya.
Editor : Doni Ramdhani

