Minat Membaca di KBB Masih Rendah, Kondisi Perpustakaan yang Memprihatinkan jadi Salah Satu Faktornya

Kondisi perpustakaan yang kurang memadai baik sarana maupun prasarana diduga menjadi salah satu faktor pemicu rendahnya minat membaca di Kabupaten Bandung Barat

Minat Membaca di KBB Masih Rendah, Kondisi Perpustakaan yang Memprihatinkan jadi Salah Satu Faktornya
Kondisi perpustakaan yang kurang memadai baik sarana maupun prasarana diduga menjadi salah satu faktor pemicu rendahnya minat membaca di Kabupaten Bandung Barat

INILAHKORAN, Ngamprah - Masih minimnya Minat baca para siswa di Kabupaten Bandung Barat (KBB) memberikan dampak negatif pada kualitas generasi muda mendatang.

Pasalnya, selain kualitas siswanya sendiri hal itu pun akan sangat mempengaruhi kualitas bangsa negara Indonesia. Bahkan, mengalami ketertinggalan dan perkembangan jaman.

Salah satu faktor yang membuat masih minimnya minat membaca lantaran kondisi sarana dan prasarana, seperti Perpustakaan sekolah.

Di Bandung Barat, kondisi Perpustakaan di berbagai jenjang Sekolah Dasar (SD) masih banyak yang belum memadai, baik dari aspek ketersediaan buku maupun sarana prasarana bangunan dan pendukung lainnya.

Akibatnya, budaya literasi atau minat membaca di kalangan siswa masih rendah. Sehingga perlu perhatian dari pemerintah, dalam hal ini Dinas Pendidikan untuk dapat meningkatkan mutu, kualitas, dan kenyamanan Perpustakaan

Dengan begitu, para siswa bisa tertarik dan meningkatkan pengetahuan melalui membaca. 

Kondisi memprihatinkan tersebut, salah satunya terjadi di Perpustakaan yang berada di SDN Gandrung Endah, Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.

"Koleksi buku di Perpustakaan sekolah kami masih minim, kurang dari seribu buku, itu yang jadi salah satu sebab siswa kurang tertarik membaca buku di Perpustakaan," kata Kepala SDN Gandrung Endah, Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, KBB, Lisda Dewiningsih kepada wartawan.

Tak hanya itu, terang dia, di Perpustakaan sekolahnya juga minim buku literasi untuk kelas satu dan dua. 

"Kebanyakannya, buku tema pelajaran dan buku untuk kelas 4, 5, dan 6," terangnya.

Selain itu, gedung Perpustakaan juga masih menyatu dengan ruangan lain, dan kondisinya minim fasilitas bangku serta kursi. 

"Kami pernah pasang karpet sehingga anak bisa sambil lesehan membaca buku, tapi ketika ruangan bocor akhirnya karpet dibongkar karena basah," ujarnya.

Menurutnya, untuk Perpustakaan SD yang pertama kali dibangun di Kecamatan Cisarua, masih banyak yang harus dibenahi di Perpustakaan ini. 

"Perpustakaan itu harus layak, bukunya lengkap, dan nyaman, sehingga murid juga merasa kerasan. Sehingga lambat laun budaya membaca mereka bisa terbentuk dengan sendirinya," tuturnya.

"Adapun bantuan buku ke Perpustakaan kami terakhir kali datang sebelum pandemi COVID-19," sambungnya.

Kondisi serupa terjadi di Perpustakaan SDN 2 Jambudipa, secara bangunan dan koleksi buku sudah lebih baik. Di Perpustakaan ini sudah memiliki ruangan tersendiri dengan koleksi buku mencapai 1.200 lebih. 

Namun masih kekurangan rak penyimpanan buku, sehingga banyak buku yang belum tersimpan dengan rapih.

Guna mendorong Minat baca di sekolah ini, setiap murid dari tiap angkatan dijadwalkan bergiliran untuk membaca buku di Perpustakaan

Pasalnya, dengan banyaknya buku yang ada membuat siswa memiliki beragam pilihan buku untuk dibaca, dipelajari, dan didiskusikan dengan teman maupun guru. 

"Setiap hari selalu ada jadwal bagi siswa untuk membaca buku di Perpustakaan," ujar Kepala SDN 2 Jambudipa, Dedeh Sumardiah.

"Untuk menambah koleksi buku paling kami mengimbau siswa kelas enam yang akan lulus menyumbang satu buku untuk Perpustakaan," tandasnya.*** (agus satia negara)


Editor : Ghiok Riswoto