Jalani Pernikahan tapi Memilih Tak Punya Anak, Ini Nasihat Hasto Wardoyo

Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K). menyampaikan bagaimana risiko bagi yang menjalani pernikahan tapi memilih tak punya anak.

Jalani Pernikahan tapi Memilih Tak Punya Anak, Ini Nasihat Hasto Wardoyo
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K) dalam wawancara dengan ANTARA pada Minggu, 5 September 2021.

INILAHKORAN, Jakarta - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K). mengatakan bahwa menjalani pernikahan tapi memilih tak punya anak atau childfree akan berisiko biologis, terutama bagi wanita.

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo menyampaikan dalam mempertimbangkan dan memutuskan pilihan hidup tersebut dengan mengetahui konsekuensi dan risikonya.

"Seberapa kita mau memenuhi hak kita, tetap perlu diimbangi dengan seberapa dalam kita mempertimbangkan dan memutuskan hak tersebut," kata Hasto Wardoyo kepada ANTARA, Minggu, 5 September 2021.

Baca Juga: Pemilik Kedai Seafood Kiloan Bang Bopak Pasang Baliho Nyeleneh 'Cari Jodoh'

"Jangan hanya karena kita bebas menentukan, tapi tidak mengetahui risikonya. Banyaklah membaca, karena lebih baik tahu duluan sebelum mengambil keputusan," ujarnya menambahkan.

Dari sisi biologis, dr. Hasto mengatakan kebanyakan para wanita yang mengidap tumor dan kanter rahim, adalah mereka yang tidak memiliki anak atau yang memiliki hanya satu orang anak.

Mengutip laman Cancer.org, kanker rahim dapat menyerang wanita tanpa memandang usia, namun lebih sering menyerang mereka yang tidak pernah memiliki anak, atau mereka yang memiliki anak pertama setelah usia 35 tahun.

Baca Juga: Sedang Viral Pernikahan 'Childfree', Begini Penjelasan Psikolog

"Mereka yang mengidap tumor rahim, (risiko) lebih cenderung meningkat pada mereka yang nuliparitas (tidak punya anak, atau punya anak satu)," kata dr. Hasto.

Pun dengan tumor dan kanker payudara. dr. Hasto mengatakan, tumor dan kanker payudara cenderung banyak menyerang wanita yang tidak menyusui.

Mengutip laman Cancer Center, wanita yang belum memiliki anak, atau yang memiliki anak pertama setelah usia 30 tahun, mungkin memiliki peluang sedikit lebih tinggi terkena kanker payudara. Itu karena jaringan payudara terpapar lebih banyak estrogen untuk jangka waktu yang lebih lama.

Baca Juga: Mahar Pernikahan Menurut Imam Syafii

Selain itu, ada juga kista endrometrosis, di mana sekitar 30-50 persen wanita yang mengalami endometriosis biasanya juga mengalami gangguan kesuburan atau infertilitas.

Meski endometriosis dapat mengganggu kesuburan, ada beberapa solusi yang mungkin bisa dijalani pasien agar bisa hamil, tergantung pada usia dan tingkat keparahan endometriosisnya.

"Oleh karena itu, jangan anggap kalau tidak punya anak itu bebas dari risiko. Pengetahuan kesehatan reproduksi perlu dibangun, terlebih karena perempuan siklusnya jalan terus; setiap bulan telurnya kecil, membesar, kemudian pecah dan menstruasi," kata dr. Hasto.

Baca Juga: Wajibkah Cerai Jika Pernikahan Akibat Sihir Pelet?

"Ketika wanita pernah hamil, siklus itu disetop selama 9 bulan, dan itu ada baiknya--mengistirahatkan rahim dari putaran siklus hormon itu," ujar mantan Bupati Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta tersebut menambahkan.

Lebih lanjut, dr. Hasto mengatakan bahwa penting bagi wanita yang memutuskan childfree untuk memperkaya wawasan terkait dampak dan risiko bagi tubuhnya.

"Seandainya mereka ingin childfree dan tahu risikonya dan kontrol secara baik, seperti misalnya payudara dikontrol secara rutin, rahimnya di-scanning secara periodik dari penyakit-penyakit yang biasanya datang kepada mereka yang tidak hamil, itu berarti baik karena dilakukan dengan rutin," kata dia.

"Hal-hal seperti itu perlu sebagai imbangan pendapat childfree karena terpengaruh oleh emosional, tapi kemudian tidak tahu risiko-risikonya. Itu perlu diingatkan," imbuh pria lulusan Fakultas Kedokteran UGM itu.

Ia juga mengusulkan bagi pasangan yang masih muda, sehat, dan mampu, untuk melakukan adopsi anak. "Usul saya, kalau mereka sehat dan mampu, mungkin bisa adopsi (anak). Karena banyak dari masyarakat yang anaknya banyak tapi tidak mampu (memenuhi kebutuhan). Kalau punya rezeki, silahkan," ujarnya. (antara).***


Editor : inilahkoran