Gedung DPRD Pesawaran Roboh Saat Salat Jumat, Warga Pertanyakan Anggaran dan Desak Investigasi
Gedung DPRD Kabupaten Pesawaran, Lampung, mengalami kerusakan parah setelah bagian depan bangunannya roboh secara tiba-tiba pada Jumat siang, 23 Mei 2025.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN - Gedung DPRD Kabupaten Pesawaran, Lampung, mengalami kerusakan parah setelah bagian depan bangunannya roboh secara tiba-tiba pada Jumat siang, 23 Mei 2025.
Insiden ini terjadi saat masyarakat tengah melaksanakan salat Jumat. Tidak ada hujan, angin kencang, ataupun bencana alam lain saat kejadian, namun atap dan plafon gedung mendadak ambruk.
Dalam video yang diunggah di Instagram fakta.indo, detik-detik Gedung DPRD roboh pun terekam jelas.
Peristiwa tersebut mengundang kekhawatiran sekaligus kemarahan warga, yang mempertanyakan kondisi struktur bangunan yang dibangun sejak 2015 dan diketahui belum pernah direhabilitasi. Warga pun curiga adanya kelalaian dalam pengelolaan anggaran.
Tokoh masyarakat setempat, Mualim Taher, menyebut robohnya gedung itu sebagai bukti lemahnya tata kelola anggaran oleh pemerintah daerah.
Ia menyoroti bahwa dengan APBD Pesawaran sebesar Rp1,3 triliun dan anggaran pembangunan mencapai Rp800 miliar, kejadian seperti ini seharusnya tidak terjadi.
“Tidak ada angin, tidak ada badai, apalagi puting beliung. Ini bukan bencana alam, ini akibat dari buruknya pengelolaan anggaran. Kami minta kejaksaan segera turun tangan,” tegas Mualim.
"10 tahun engga direhab, anggaran bertriliun-triliun, ngga di pilih lagi," ujarnya.
Video kejadian pun viral di media sosial. Dalam rekaman tersebut, tampak warga melontarkan protes keras kepada anggota DPRD yang berada di lokasi.
Alih-alih memberikan penjelasan, para anggota dewan justru hanya tersenyum dan terdiam saat ditanyai soal anggaran pembangunan gedung.
Peristiwa ini juga bertepatan dengan momentum penting, karena terjadi hanya sehari sebelum pelaksanaan Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pilkada di wilayah tersebut, yang semakin memanaskan tensi politik di tengah masyarakat.
Editor : Firda Rachmawati


