Generasi Emas Garuda Muda: 22 Pemain Timnas U-17 dari EPA Liga 1 Buktikan Kualitas di Piala Asia U-17 2025
Kemenangan bersejarah Timnas Indonesia U-17 atas Korea Selatan U-17 dalam laga pembuka Grup C Piala Asia U-17 2025 menjadi bukti sahih bahwa pembinaan usia muda yang terstruktur mulai menunjukkan hasil nyata.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung – Kemenangan bersejarah Timnas Indonesia U-17 atas Korea Selatan U-17 dalam laga pembuka Grup C Piala Asia U-17 2025 menjadi bukti sahih bahwa pembinaan usia muda yang terstruktur mulai menunjukkan hasil nyata.
Dalam pertandingan yang digelar di Stadion Prince Abdullah Al-Faisal, Jeddah, Jumat (4/4), Garuda Muda berhasil menang tipis 1-0 berkat gol semata wayang dari Evandra Florasta.
Yang lebih membanggakan, dari 25 pemain yang didaftarkan ke turnamen ini, sebanyak 22 pemain merupakan jebolan Elite Pro Academy (EPA) Liga 1 Indonesia. Mereka adalah produk pembinaan usia muda klub-klub Liga 1, baik di level U-16, U-18, maupun U-20.
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, mengungkapkan rasa bangganya atas pencapaian ini. Menurutnya, hasil ini tak lepas dari kerja keras PSSI dalam membangun sistem yang terstruktur untuk pembinaan pemain usia muda.
"PSSI terus berkomitmen menjaga program Timnas Indonesia dari usia junior hingga senior, termasuk juga Timnas Indonesia Putri," ujar Erick dikutip dari ANTARA.
Salah satu pemain yang tampil menonjol adalah Muhammad Zahaby Gholy, winger Persija Jakarta U-20. Ia tampil sejak menit awal menghadapi Korea Selatan dan menunjukkan kedewasaan bermain yang luar biasa untuk usianya.
Begitu juga dengan Muhammad Mierza Firjatullah, striker muda Persik Kediri U-18, yang tampil agresif dan menjadi ancaman bagi pertahanan lawan sepanjang pertandingan.
Di bawah mistar, Dafa Setiawarman dari Dewa United U-20 tampil heroik dengan sejumlah penyelamatan penting yang membuat gawang Garuda Muda tetap perawan.
Tak kalah mencuri perhatian adalah Evandra Florasta, pencetak gol kemenangan sekaligus alumnus EPA Liga 1 U-16 musim 2023/24 bersama Bhayangkara FC.
Direktur Utama PT LIB, Ferry Paulus, juga menegaskan pentingnya jam terbang di kompetisi usia muda seperti EPA dalam membentuk mental dan kemampuan teknis para pemain.
"Kami bersyukur dengan apa yang ditunjukkan oleh para pemain jebolan EPA. Ini membuktikan bahwa jam terbang yang didapatkan di level tersebut, membawa pengaruh yang sangat signifikan terhadap performa para pemain ketika mereka dipanggil Timnas Indonesia," ujar Ferry.
Dari 22 pemain jebolan EPA yang memperkuat Timnas U-17, dua di antaranya bahkan telah menembus skuat utama di Liga 1 musim ini, yaitu Zahaby Gholy (Persija Jakarta) dan Dafa Setiawarman (Dewa United). Hal ini menjadi sinyal positif bahwa transisi dari level junior ke senior semakin terfasilitasi dengan baik.
Erick Thohir juga menekankan bahwa keberhasilan ini merupakan bagian dari program jangka panjang PSSI untuk mencetak generasi baru sepak bola Indonesia yang lebih siap secara mental, fisik, dan taktik.
"Jika diamati para pemain Timnas Indonesia U-17 saat ini merupakan generasi baru setelah kami di PSSI melakukan persiapan Timnas Indonesia usia muda yang lebih terprogram. Prinsipnya, tidak akan ada hasil jika tidak kerja keras," lanjut Erick.
Kemenangan atas Korea Selatan membuat Timnas U-17 kini menempati peringkat kedua Grup C dengan tiga poin dari satu laga, hanya kalah selisih gol dari Yaman yang memuncaki klasemen. Peluang Garuda Muda untuk melangkah ke Piala Dunia U-17 2025 di Qatar (3–27 November) kini terbuka lebar.
Dengan fondasi kuat dari EPA Liga 1 dan komitmen PSSI dalam pengembangan usia muda, generasi emas Garuda Muda tampaknya bukan sekadar harapan—melainkan sedang terbentuk di depan mata.***
Editor : Yosep Saepul Ramadan

