Gerakan Bhinneka Perluas Pendidikan Inklusif, 13.000 Guru Telah Diberdayakan
Gerakan Bhinneka Yayasan Link Bandung telah menjangkau 13.000 guru. Dinas Pendidikan Kendari berencana mengadaptasi praktik pendidikan inklusif untuk anak berke
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Gerakan Bhinneka yang digagas Yayasan Lentera Insan Kreatif (LINK), menjadi salah satu upaya memperluas pendidikan inklusif di Indonesia. Melalui pemberdayaan guru dan pengembangan metode pembelajaran yang berpusat pada potensi serta kemandirian anak, gerakan ini telah menjangkau sekitar 13.000 guru dari Aceh hingga Makassar.
Pendekatan pendidikan inklusif yang dikembangkan Yayasan Link Kota Bandung menarik perhatian Dinas Pendidikan Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Mereka berencana mengadaptasi praktik Link untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus di Kendari.
Ketua Yayasan Lentera Insan Kreatif, Laurentia Mira mengatakan, pendidikan inklusif tidak cukup diwujudkan dengan membuka akses sekolah bagi semua anak. Lembaga pendidikan juga perlu membangun ekosistem yang mendukung guru, orang tua, dan peserta didik agar kebutuhan belajar setiap anak dapat dikenali dan ditangani dengan tepat.
"Sebetulnya, yayasan kami bukan cuma punya sekolah inklusif tapi sudah jadi ekosistem pendidikan begitu yang inklusif," kata Laurentia, Kamis (22/10/2026).
Ekosistem tersebut mencakup pendampingan guru dan orang tua, pengembangan sekolah mitra, serta Gerakan Bhinneka yang secara khusus memperkuat kemampuan guru dalam mengenali anak dengan kesulitan belajar.
Gerakan Bhinneka mulai dijalankan pada 2024 melalui kegiatan roadshow ke berbagai daerah. Program ini bertujuan mengubah cara pandang guru terhadap anak yang mengalami kesulitan mengikuti pembelajaran, yang kerap disalahartikan sebagai anak malas, nakal, atau kurang cerdas.
"Jadi memang tujuannya pemberdayaan guru supaya para guru mengenal ketika ada anak yang terlihat misalnya nakal atau malas di dalam kelas, sebetulnya anak itu tuh perlu bantuan," ujarnya.
Menurut Laurentia, anak-anak tersebut memiliki potensi yang perlu dikenali. Sebab itu, guru membutuhkan pemahaman untuk membedakan persoalan perilaku dengan kesulitan belajar yang memerlukan pendekatan khusus.
Sejak dilaksanakan pada 2024, Gerakan Bhinneka telah menjangkau sekitar 13.000 guru. Pada 2027, program tersebut direncanakan meluas ke Indonesia timur, antara lain Palu, Kendari, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua.
Gerakan Bhinneka merupakan unit kegiatan Yayasan Link yang bekerja sama dengan UN Dyslexia Network.
Laurentia mengungkapkan, pengembangan pendidikan inklusif di Indonesia masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan penelitian dan data mengenai anak yang mengalami kesulitan belajar. Bahkan, data mengenai jumlah anak dengan kesulitan belajar di berbagai daerah belum tersedia secara memadai.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Gerakan Bhinneka terus memperluas jangkauan ke berbagai wilayah untuk meningkatkan pemahaman guru sekaligus memetakan kebutuhan pendidikan inklusif.
Metode Montessori Tekankan Kemandirian
Selain pemberdayaan guru, Yayasan Link menerapkan metode Montessori dengan menitikberatkan pada pengembangan potensi dan kemandirian anak. Laurentia menegaskan, prinsip utama pembelajaran adalah memastikan setiap anak memperoleh kesempatan untuk berkembang sesuai kemampuannya.
"Jadi tujuan dari setiap guru di sini yang menyelenggarakan fungsi pendidikan adalah mencari potensi setiap anak," katanya.
Dalam penerapannya, lingkungan belajar dirancang agar anak mampu mengarahkan dirinya sendiri dan tidak terus-menerus bergantung pada bantuan orang lain. Pendekatan tersebut menjadi bagian penting dalam mendampingi anak dengan disleksia, ADHD, autisme, dan disabilitas intelektual.
Yayasan Link menyediakan layanan pendidikan mulai jenjang taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas. Selain memiliki tiga pusat kegiatan, yayasan ini mendampingi sejumlah sekolah mitra dalam pengembangan kurikulum dan kapasitas guru, termasuk di Pangalengan, Cimahi, Tangerang, Surabaya, dan Aceh.
Kendari Siapkan Model Pendidikan Inklusif
Metode pembelajaran dan ekosistem pendidikan yang dikembangkan Yayasan Link menjadi perhatian Dinas Pendidikan Kota Kendari, saat melakukan studi tiru ke Bandung, termasuk ke PKBM Sahabat Terang.
Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Kendari, Arnaldo mengatakan, kunjungan tersebut memberikan pemahaman baru mengenai pentingnya menyesuaikan metode pembelajaran dengan kebutuhan peserta didik.
"Saya membuka cakrawala pendidikan baru ketika datang di sini," ujar Arnaldo.
Dia menilai, keberhasilan pendidikan inklusif tidak cukup ditopang regulasi, tetapi juga kesiapan guru yang memiliki keterampilan dalam mendampingi anak dengan kebutuhan belajar berbeda.
Dinas Pendidikan Kota Kendari berencana merancang metode yang dapat diadaptasi sesuai kondisi daerah, termasuk mengembangkan praktik baik sebagai model percontohan pendidikan inklusif.
"Jadi, kebetulan saya dari Dinas Pendidikan Kota, kita akan coba merancang sebuah metode supaya ini dapat dilaksanakan, minimal kami mau buat juga satu best practice lah seperti yang dipunyai sekolah ini," katanya.
Kepala Satuan Pendidikan Nonformal (SPN) Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Kendari, Sarjan Abdullah Taewa menambahkan, pihaknya juga ingin memperkuat pendidikan vokasi agar peserta didik memiliki keterampilan praktis sebagai bekal memasuki dunia kerja.
"Dari kami melihat di tempat ini, kunjungan ini kami mungkin nanti akan mengembangkan metodenya selain pembelajaran akademik kami juga akan mengembangkan yang namanya vokasi," kata Sarjan.
Menurut Sarjan, pengembangan keterampilan vokasi diharapkan membantu peserta didik meningkatkan kemampuan diri dan memperbesar peluang untuk terserap di dunia kerja setelah menyelesaikan program pendidikan.
"Kami akan memberikan skill kemampuan bagi warga belajar, karena yang kita harapkan juga setelah tim mereka selesai dari program pembelajaran nanti juga mereka bisa diserap di dunia kerja seperti itu," ujarnya.
Editor : Ahmad Sayuti
