Hadapi Ancaman El Nino, Kementan Siapkan Strategi Jaga Produksi Hortikultura
Kementan menyiapkan mitigasi El Nino hingga 2027 melalui bantuan pompa air dan benih adaptif untuk menjaga produksi serta pasokan hortikultura.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Ancaman kekeringan panjang akibat fenomena El Nino yang diproyeksikan berlangsung hingga April 2027 membayangi ketahanan pangan nasional, termasuk sektor hortikultura.
Guna mengantisipasi kelangkaan dan gejolak harga komoditas seperti cabai dan bawang merah, Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan sejumlah langkah mitigasi, mulai dari penyediaan sumber air hingga pengembangan benih adaptif terhadap perubahan iklim.
Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan, Freddy Lumban Gaol, mengatakan pemerintah telah memetakan wilayah rawan kekeringan dan menyandingkannya dengan lokasi sentra produksi hortikultura. Pemetaan tersebut menjadi dasar untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga komoditas.
Menurut Freddy, pemerintah juga memfasilitasi distribusi hasil panen dari daerah surplus ke wilayah yang kekurangan pasokan. Upaya lainnya dilakukan melalui penguatan kawasan produksi, pengembangan pangan pekarangan beragam dan bergizi, serta penyaluran bantuan pompa air bagi daerah terdampak kekeringan melalui koordinasi dengan Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian.
Mitigasi juga diperkuat melalui koordinasi dengan asosiasi champion cabai dan bawang merah, sosialisasi asuransi pertanian, serta pelibatan sektor swasta dan akademisi dalam merumuskan langkah antisipasi.
Guru Besar Universitas Padjadjaran, Prof. Dedi Ruswandi, M.Sc., Ph.D., mengingatkan, El Nino berstatus sangat kuat pada Oktober dan diperkirakan berlanjut hingga awal 2027. Fenomena tersebut berpotensi memperpanjang musim kemarau di Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT), sekaligus menggeser awal musim hujan.
Risiko tersebut semakin besar seiring pemanasan global yang diproyeksikan meningkatkan frekuensi El Nino ekstrem, dari sekali dalam 20 tahun menjadi sekali dalam 10 tahun.
Dedi menilai salah satu kelemahan penanganan El Niño selama ini adalah belum optimalnya penerjemahan informasi iklim dan peringatan dini dari BMKG menjadi tindakan nyata di tingkat petani. Padahal, informasi tersebut penting untuk menentukan waktu tanam dan memilih varietas tanaman yang sesuai dengan kondisi cuaca.
Sejumlah komoditas hortikultura, seperti cabai, tomat, dan bawang merah, termasuk yang paling rentan terhadap kekeringan. Tanaman tersebut memiliki akar relatif dangkal dan hasil panennya tidak dapat disimpan dalam waktu lama sebagai cadangan pasokan.
Suhu tinggi dapat menyebabkan bunga tanaman rontok sehingga menurunkan produksi. Sementara itu, kondisi kering berpotensi memicu peningkatan populasi hama penghisap yang membawa virus kuning.
Untuk mengantisipasi dampak jangka panjang, Dedi mendorong pengembangan varietas tanaman dengan ketahanan ganda terhadap berbagai cekaman lingkungan. Pemerintah juga perlu menyusun peta wilayah rawan berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) hingga tingkat kecamatan sebagai dasar penentuan kalender tanam yang dinamis.
Selain itu, penerapan pola tanam ganda atau multiple cropping, seperti tumpang sari cabai dan bawang merah, dapat menjadi salah satu strategi untuk mengurangi risiko kerugian petani.
"Mitigasi El Nino harus menjadi bagian tetap dari perencanaan pangan nasional. Ketahanan pangan tidak dibangun saat krisis, tetapi di antara krisis," kata Dedi.
Di sisi lain, sektor swasta turut berkontribusi melalui pengembangan benih unggul dan pendampingan petani. PT East West Seed Indonesia (EWINDO), misalnya, terus melakukan pemuliaan dan pengujian benih untuk menghasilkan varietas yang mampu menghadapi suhu tinggi, kekeringan, serta serangan hama dan penyakit.
Managing Director EWINDO, Isak Heryawan, mengatakan perusahaan mengembangkan varietas yang lebih adaptif terhadap berbagai kondisi lingkungan, terutama suhu tinggi yang berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman.
Beberapa varietas yang dikembangkan antara lain tomat SERVO F1 dan TYSON F1 yang memiliki ketahanan terhadap suhu tinggi untuk mengurangi risiko kerontokan bunga. Untuk komoditas cabai, tersedia varietas TANGGUH F1, TANGGUH 77 F1, dan JUWITA 25 F1.
EWINDO juga menyediakan benih sejumlah komoditas lainnya, seperti terong M 72 F1, jagung manis BONANZA MB F1 dan NB SUPER F1, pakcoy NAURA F1, caisim SHINTA dan TOSAKAN, bunga kol PM 3000 F1, serta paria, labu parang, dan kacang panjang New Kanton Tavi.
Menurut Isak, pengembangan benih diimbangi dengan pendampingan langsung kepada petani melalui edukasi praktik budi daya pertanian yang baik atau Good Agricultural Practices (GAP). Kegiatan tersebut mencakup penerapan sistem tumpang sari, penggunaan para-para, pembuatan demplot, serta penyuluhan di lapangan.
Perusahaan juga berupaya menjaga keterjangkauan harga dan konsistensi mutu benih melalui jaringan distribusi nasional agar petani tetap dapat berproduksi di tengah ancaman cuaca ekstrem. ***
Editor : Gin gin T Ginulur

