Hari Bahasa Ibu Internasional, Ini Kata Budayawan Sunda

Sebanyak 49 guru, karyawan dan 497 siswa-siswi SD Darul Hikam menggelar Peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional, melalui zoom meeting, Jumat (19/2/2021).

Hari Bahasa Ibu Internasional, Ini Kata Budayawan Sunda
istimewa

INILAH, Bandung - Sebanyak 49 guru, karyawan dan 497 siswa-siswi SD Darul Hikam menggelar Peringatan hari bahasa ibu internasional, melalui zoom meeting, Jumat (19/2/2021).

Peringatan hari bahasa ibu internasional sendiri jatuh pada 21 Februari 2021 merupakan salah satu program UNESCO untuk melestarikan dan melindungi semua bahasa yang digunakan masyarakat di dunia. hari bahasa ibu internasional sendiri mulai disahkan sejak 1999 lalu.

Budayawan Sunda Hawe Setiawan mengatakan, bahasa ibu itu merupakan bahasa yang digunakan ibu sendiri (kita), bahasa yang digunakan ibu di lingkungan rumah tangga untuk mendidik anaknya sejak lahir.

"Misal ibunya Bu Wawat (Kepala SD Darul Hikam) orang Sunda, maka jika komunikasi dengan Bu Wawat menggunakan Bahasa Sunda, jadi bahasa ibu Bu Wawat adalah Bahasa Sunda," ujar Hawe.

Menurut Hawe, bahasa ibu itu belum tentu identik dengan bahasa daerah. Namun, di Indonesia jika membahas konteks bahasa ibu seringkali disamakan dengan bahasa daerah. Sebetulnya, mau mengingatkan para ibu di Indonesia bahwa bisa mengandalkan bahasa daerah untuk berbicara dan menggunakan bahasa ibu dalam mendidik anaknya sesuai latar belakang kebudayaannya masing-masing. 

"Seorang ibu memiliki peranan sangat penting dalam mendidik anaknya. Jadi itu yang dimaksud bahasa ibu," kata Hawe.

Bahasa daerah yang digunakan di Indonesia relatif banyak. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pada 2015 terdapat empat belas bahasa daerah yang memiliki penutur di atas 1.000.000 jiwa atau sekitar 69.22 persen dari total penduduk Indonesia. Adapun ke-14 bahasa daerah dengan jumlah penutur terbanyak di Indonesia yakni tertinggi bahasa Jawa dengan 84.300.000 jiwa penutur diikuti bahasa Sunda dengan 42.000.000 jiwa penutur.

"Selajutnya bahasa Melayu, Batak, Madura, Minangkabau, Betawi, Bugis, Aceh, Bali, Makassar, Sasak, Lampung, dan terakhir Gorontalo dengan kurang 1 juta penutur," imbuhnya.

Sementara itu, Kepala SD Darul Hikam Wawat Widiarty mengatakan momentum peringatan hari bahasa ibu internasional menjadi salah satu kesempatan untuk banyak orang lebih menyadari pentingnya bahasa yang digunakan. 

Momentum peringatan bahasa ibu melambangkan bahasa daerah yang dipelihara sebagai ‘bahasa ibu’ atau mother language atau biasa juga disebut bahasa lokal atau bahasa wewengkon di Sunda. Di Indonesia, Hari Bahasa Ibu diperingati untuk menyadarkan banyak orang akan keberadaan dan eksistensi bahasa daerah, karena dikhawatirkan Bahasa Daerah sudah ditinggalkan oleh orang daerah setempat bahkan mungkin sudah musnah.

"Bahasa ibu itu sangat penting dipelihara, untuk kelestarian bahasa Sunda, karena seorang ibu itu memiliki peranan yang sangat penting untuk mengajarkan mendidik anak-anaknya karena sesuai dengan latar belakang kebudayaannya," ujar Wawat.

Dia menambahkan, bahasa ibu itu patut dilestarikan karena sudah banyak di beberapa daerah sudah melupakan bahasa ibunya sendiri dan tentunya bisa memberi kesempatan kepada para siswa, kepada banyak orang.

"Agar menyadari pentingnya bahasa yang digunakan, baik itu seorang ibu dilingkungan keluarga termasuk juga pentingnya bahasa daerah dipelihara sebagai bahasa ibu," pungkasnya. (Okky Adiana)


Editor : Doni Ramdhani