Heboh UAS Disebut Dideportasi, Yusril “Semprot” Pemerintah Singapura

Kabar dideportasinya UAS dari Singapura itu pun mendapat respon dari Pakar hukum tata negara Yusril Ihza Mahendra.

Heboh UAS Disebut Dideportasi, Yusril “Semprot” Pemerintah Singapura
Heboh UAS Disebut Dideportasi, Yusril “Semprot” Pemerintah Singapura

INILAH KORAN, Bandung – Baru-baru ini heboh ulama Indonesia yakni Ustadz Abdul Somad (UAS) yang disebut dideportasi dari Singapura.

Kabar dideportasinya UAS dari Singapura itu pun mendapat respon dari Pakar hukum tata negara Yusril Ihza Mahendra.

Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) itu “semprot” pemerintah Singapura terkait kabar yang beredar tersebut.

Baca Juga: PLN UID Jabar: Libur Lebaran 2022, Beban Listrik di Jabar Naik 13,2 Persen

Yusril Ihza Mahendra menyebut pemerintah Singapura berkewajiban memberikan penjelasan terkait pencekalan terhadap UAS.

Hal ini ungkap Yusril Ihza Mahendra, mengingat UAS adalah seorang ulama yang sangat dihormati masyarakat Indonesia.

Kendati demikian, Yusril mengatakan bahwa kejadian yang menimpa Ustadz Abdul Somad itu bukanlah deportasi melainkan “pencegahan”.

Baca Juga: Spoiler Ikatan Cinta Selasa 17 Mei 2022: Elsa Histeris Dengar Kabar Kematian Keysha, Nino Jadi Gila?

Karena menurutnya UAS masih berada dalam area imigrasi Singapura dan belum benar-benar masuk ke negara itu.

“Kalau UAS sudah melewati area Imigrasi dan diperintahkan meninggalkan negara itu, barulah namanya dideportasi,” beber Yusril dikutip dari laman resmi PBB, partaibulanbintang.or.id, Selasa, 17 Mei 2022.

Namun, dia menegaskan bahwa apapun jenis tindakan keimigrasian Singapura terhadap UAS harus dijelaskan agar tidak timbul spkekulasi dan salah paham.

Baca Juga: Libur Waisak, Okupansi Hotel di Kota Bandung Lampaui Libur Lebaran

Dalam konteks ASEAN Community yang hubungan erat antarwarga, penolakan terhadap kehadiran UAS dapat menimbulkan tanda-tanya dalam hubungan baik antar etnik Melayu dan Islam di Asia Tenggara.

UAS selama ini dikenal sebagai ulama garis lurus yang tidak aktif berurusan dengan kekuasaan dan hubungan antar negara.

Apalagi kehadiran UAS ke Singapura adalah untuk liburan, bukan untuk melakukan kegiatan ceramah, tabligh dan sejenisnya yang bisa menimbulkan kekhawaritan pemerintah Singapura.***


Editor : inilahkoran