Hotel, Restoran dan Kafe Masih Jadi Tulang Punggung PAD Pariwisata Kota Bandung

Hotel, restoran dan kafe masih menjadi penyumbang utama pendapatan asli daerah (PAD) Kota Bandung dari sektor pariwisata. Tiga sektor tersebut, menjadi basis perhitungan pajak yang dikelola oleh Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Bandung.

Hotel, Restoran dan Kafe Masih Jadi Tulang Punggung PAD Pariwisata Kota Bandung
Hotel, restoran dan kafe masih menjadi penyumbang utama pendapatan asli daerah (PAD) Kota Bandung dari sektor pariwisata. Tiga sektor tersebut, menjadi basis perhitungan pajak yang dikelola oleh Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Bandung.

INILAHKORAN.ID - Hotel, restoran dan kafe masih menjadi penyumbang utama Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Bandung dari sektor pariwisata. Tiga sektor tersebut, menjadi basis perhitungan pajak yang dikelola oleh Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Bandung.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung, Adi Junjunan Mustafa menyatakan, perhitungan PAD pariwisata tidak bisa dilakukan secara instan karena harus melalui proses resmi bersama Bapenda. Pihaknya hanya bertugas mengumpulkan dan menyampaikan data.

“Kalau PAD biasanya rilisnya tidak instan. Sudah ada laporan, tapi perhitungan resmi dilakukan bersama Bapenda. Jadi, Bapenda yang menghitung PAD dari tiga sumber utama, yaitu kafe, restoran dan hotel. Kita menunggu rilis resmi dari Bapenda,” kata Adi Junjunan Mustafa, Kamis 8 Januari 2026.

Ia menjelaskan, sektor pariwisata memberikan kontribusi signifikan terhadap total PAD Kota Bandung. Dari potensi PAD yang diproyeksikan mencapai Rp1,2 triliun, sekitar 60 persen di antaranya berasal dari sektor pariwisata khususnya pajak hotel, restoran dan kafe.

“Tiga sektor itu masih menjadi tulang punggung PAD pariwisata Kota Bandung,” ucapnya.

Terkait target PAD 2026, Adi menyebut penetapan target tidak hanya didasarkan pada angka semata. Tetapi juga pada potensi yang dimiliki Kota Bandung. Menurutnya, Wali Kota Bandung melihat peluang peningkatan PAD sekitar 20 persen dari proyeksi awal Rp1 triliun menjadi Rp1,2 triliun.

“Kalau target PAD memang harus ditetapkan, tapi pak wali kota melihatnya dari potensi. Dari Rp1 triliun bisa naik menjadi Rp1,2 triliun. Artinya ada peningkatan sekitar 20 persen yang harus dikejar,” ujar dia.

Dengan kontribusi pariwisata sebesar 60 persen dari total PAD tersebut, pihaknya memproyeksikan PAD sektor pariwisata juga berpeluang meningkat. Jika pada tahun ini target PAD pariwisata berada di kisaran Rp600 miliar, maka pada tahun berikutnya dapat mencapai sekitar Rp720 miliar.

Meski demikian, Adi kembali menegaskan angka tersebut masih bersifat proyeksi. Perhitungan final dan penetapan PAD tetap mengacu pada hasil resmi dari Bapenda, khususnya terkait pajak yang berasal dari hotel, restoran dan kafe di Kota Bandung.

“Disbudpar hanya mengumpulkan data dan memotret potensi. Untuk angka resminya, tetap Bapenda yang menghitung dan merilis,” tandasnya.***


Editor : JakaPermana