Hutan Organik Megamendung Melawan Panas Ekstrem dan Maraknya Pembangunan Vila Mewah
Bogor yang berada di wilayah pegunungan dilanda cuaca ekstrem, suhu terpanas di Bogor mencapai 36 derajat atau kabupaten atau kota kedua terpanas di Jawa Barat setelah Cirebon.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bogor - Bogor yang berada di wilayah pegunungan dilanda cuaca ekstrem, suhu terpanas di Bogor mencapai 36 derajat atau kabupaten atau kota kedua terpanas di Jawa Barat setelah Cirebon.
Namun, cuaca panas itu diredam hutan organik seluas 30 hektare di Desa Megamendung, Megamendung dan Desa Gunung Geulis, Sukaraja.
Tak tanggung-tanggung, cuaca panas yang diredam Rosita Istiawan pemilik hutan organik, lebih dari setengahnya. Karena suhu terpanas di siang hari hanya mencapai 16 derajat celcius.
Tak hanya melawan cuaca panas, Rosita Istiawan selama 25 tahun juga melawan edannya zaman karena rata-rata lahan di Kawasan Puncak dibeli warga luar Bogor untuk dibangun vila mewah.
Ia dan suami malah membangun hutan organik, dan akibat niat baiknya, mereka pun pernah diancam dengan golok oleh para calo tanah di Kawasan Puncak, karena membeli lahan warga tanpa menggunakan jasa mereka.
"Di awal 2000an, saya beli lahan tandus di Megamendung hingga cacing pun tidak ada, yang tumbuh hanya alang-alang. Saya lalu hutankan kembali, sedikit demi sedikit saya beli lahan dari warga hingga luasnya mencapai 30 hektare dan berada di dua desa di dua kecamatan. Alhamdulillah, cuaca ekstrim di Bogor mencapai 36 derajat, disini suhu terpanas hanya 16 derajat," kata Rosita Istiawan kepada wartawan, Minggu 20 Oktober 2025.
Ia menuturkan, 'pembangunan' hutan organik juga sempat 'gagal' karena pernah salah memilih pohon atau tanaman.
"Saya pernah nanam pohon buah durian dan jati, ternyata disini ga cocok. Saya pun kini lebih dominan menanam tanaman khas Bogor atau Jawa Barat, seperti rasamala, manii, dan lainnya. Tetapi di hutan organik, kini juga ada semua jenis meranti, eboni dan sonokeling serta juga ada Pohon Cendana, yang kini langka karena di daerah asalnya yaitu Nusa Tenggara Timur (NTT) itu juga jarang pohonnya," tuturnya.
Kini, berdasarkan penelitian Mahasiswa IPB University, di hutan organik ada 120 jenis pohon, dan ada 44 ribu batang pohon. Tak hanya itu, ada 25 jenis burung, kucing hutan atau macan akar dan lutung yang kini hidup di hutan organik.
"hutan organik ini saya inginkan menjadi kebun raya kecil, tempat orang belajar menamam pohon dan tempat penelitian mahasiswa. Semoga, sesuai dengan amanat almarhum Suami yaitu Bambang Istiawam, Pemkab Bogor, bisa mengukuhkan Kebun Raya Kecil ini," tambahnya.
Wanita asli Cimande, Bogor ini menjelaskan pendapatan hutan organik hanya didapat dari sebagai tempat belajar dan penelitian mahasiswa, dan juga dari penjualan furniture.
Furniture seperti meja makan dan kursi yang ia jual juga hanya diambil dari pohon yang tumbang, hingga ia tidak banyak menjual.
"Di usia 63 tahun ini, saya sudah tidak 'mengejar' dunia, tetapi 10 karyawan tetap harus saya hidupi. Jika dulu, saya masih bisa dapat uang dari nanam sayur dengan sistem tumpang sari, sekarang pohon-pohon sudah besar dan semakin rapat hingga sulit menanam sayuran karena sinar matahari sulit menembus hutan organik," jelasnya.
Keberhasilan Rosita Istiawan membuat pohon organik di lahan gersang pun membawa ia menjadi supervisi reboisasi atau penghijauan kembali Tretes, Jawa Timur.
"Saya diminta menjadi supervisi, menghutankan kembali Tretes yang kini gundul. Saya akan meneliti kondisi tanahnya, dan mengkaji pohon apa yang cocok ditanam di sana. Saya tak ingin mereka gagal dan harus belajar dari kegagalan tanam saya beberapa waktu lalu," tukas Rosita.
Editor : Doni Ramdhani

