Industri Fiber Optik BCC Bidik Omset Dua Kali Lipat

Sebagai pelaku industri fiber optik, PT Borsya Cipta Communica (BCC) optimistis bisa mengembangkan bisnisnya. Saat ini, President Director dan CEO BCC Boris Syaifullah mengatakan, penghasilan yang berhasil diraup sebesar Rp50 miliar per bulan.

Industri Fiber Optik BCC Bidik Omset Dua Kali Lipat
Foto: Doni Ramdhani

INILAH, Bandung - Sebagai pelaku industri fiber optik, PT Borsya Cipta Communica (BCC) optimistis bisa mengembangkan bisnisnya. Saat ini, President Director dan CEO BCC Boris Syaifullah mengatakan, penghasilan yang berhasil diraup sebesar Rp50 miliar per bulan.

“Ke depan, target saya bisa mencapai Rp100 miliar. Karena, khusus telekomunikasi itu kita membukukan Rp50 miliar per bulan,” kata Boris, usai kunjungan Duta Besar Negara Republik Islam Pakistan Abdul Salik Khan ke pabrik fiber optik BCC di Bandung, beberapa waktu lalu. 

Menurutnya, target sebesar itu relatif realistis. Pasalnya, saat ini perkembangan dunia telekomunikasi menjadikan fiber optik sebagai konektor utama. BCC diakunya sebagai satu-satunya perusahaan fiber optik di Indonesia yang memproduksi total pasif solusi.

Sebagai langkah strategis, Boris mengaku saat ini pihaknya berencana membangun pabrik fiber optik terbesar di Bandung. Visinya, BCC bakal membangun lingkungan industri optik (LIO) di Kota Kembang yang notabene dikenal sebagai pusat industri kreatif Tanah Air.

“Itu semua untuk mewujudkan target utama saya. Kalau di Sulawesi ada Kalla Group, di Lampung ada Bakrie Group, mimpinya di Bandung ini ada Borsya Group. LIO itu menjadi kawasan industri telekomunikasi dari hulu ke hilir. Di situ bukan hanya pabrik, tapi kita juga memikirkan tempat di mana para karyawan tinggal,” jelasnya. 

Boris menyebutkan, BCC merupakan perusahaan yang memproduksi total pasif solusi. Dia mengibaratkan, produk total pasif solusi itu pemakaiannya seperti komoditas beras dalam sebuah rumah makan. BCC merukapan perusahaan assembling yang fokus mengembangkan material fiber-to-the-x (FTTX), fiber to the home (FTTH), fiber to the antenna (FTTA), dan semua aksesoris yang berbasis fiber optik. 

Terkait pemasaran, dia menyebutkan produk buatannya kini luas dipakai di Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman. Namun, kendala mindset pasar domestik menjadikan produknya justru tidak digunakan di Tanah Air.

Disinggung mengenai bahan baku, Boris mengaku sejauh ini 50% komoditas itu didominasi pasokan Korea Selatan. Sisanya, dia mengimpor dari dua negara lain. Meski demikian, dia mengklaim produk fiber optik buatannya mengandung tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sebesar 42%.


Editor : Doni Ramdhani