Industri Padat Karya di Jabar Bakal Digeser ke Utara-Timur
Tingginya upah sektoral suatu daerah mempengaruhi investor menanamkan modalnya. Untuk itu, rencananya Pemprov Jabar bakal menggeser sejumlah industri padat karya.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Tingginya upah sektoral suatu daerah mempengaruhi investor menanamkan modalnya. Untuk itu, rencananya Pemprov Jabar bakal menggeser sejumlah industri padat karya.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jabar M Arifin Sordjayana mengatakan, sejauh ini industri padat karya itu berada di sebelah barat. Ke depan, dia menyebutkan orang nomor satu di Jabar akan menggesernya ke sebelah timur-utara Jabar.
“Nantinya, Gubernur Jabar Ridwan Kamil ingin menggeser industri padat karya yang banyak di barat itu ke sebelah utara-timur Jabar. Daerah tujuan itu seperti Majalengka, Subang, dan Indramayu yang upah sektoralnya masih di bawah Rp2 juta,” kata Arifin usai penutupan Bimbingan dan Sertifikasi SKKNI IKM Pakaian Jadi di Bandung, Jumat (11/10/2019).
Menurutnya, salah satu industri padat karya yang akan digeser itu yakni industri tekstil dan produk tekstil (TPT). Dia menyebutkan, industri TPT di Jabar itu merupakan unggulan yang mencatatkan kontribusi perekonomian daerah. Peringkatnya hanya tersaingi industri otomotif dan bergantian posisi dengan industri alas kaki.
Arifin menyebutkan, upah sektoral di sebelah barat saat ini terbilang mencapai Rp4 juta. Sedangkan, upah sektoral di sebelah utara-timur itu relatif masih di bawah Rp2 juta.
“Selain akan menggeser industri di sebelah barat, kita pun akan menggeser industri TPT yang berada di DAS (daerah aliran sungai) Citarum. Relokasi itu sesuai dengan amanat Perpres terkait Citarum,” sebutnya.
Dia menambahkan, agar proses relokasi itu mulus pihaknya akan membuat terobosan yang saling menguntungkan. Selain itu, Pemprov Jabar akan menggiring para calon investor untuk bisa menanamkan modalnya ke daerah sebelah utara-timur di kawasan segitiga emas Cirebon-Subang-Majalengka (Rebana) yang diproyeksikan menjadi pusat perekonomian baru Jabar.
Disinggung mengenai adanya isu lebih dari 100 industri TPT yang bangkrut, Arifin menjelaskan lebih jauh. Dia mengaku pihaknya melakukan cross-check dengan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jabar.
“Angka seratus lebih itu dibantah API. Mereka bilang hanya ada 18 pabrik yang tutup. Itu pun karena pabrik itu kebanyakan order dari Eropa yang ongkos produksinya tinggi,” ujarnya seraya menyebutkan industri TPT di Jabar ini masih relatif tumbuh positif.
Pertumbuhan industri TPT itu pun diakui Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Direktut Industri Kecil Menengah (IKM) Kimia, Sandang, Kerajinan dan Industri Aneka Kemenperin Ratna Utarianigrum menegaskan, industri TPT itu memang mengalami dinamika.
Dia menuturkan, industri pakaian jadi merupakan salah satu sektor industri padat karya yang memiliki peran penting dalam perekonomian nasional. Industri itu mengalami pertumbuhan positif setiap tahunnya dan memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
“Selama periode Januari-September 2019, nilai ekspor produk pakaian jadi itu mencapai US$5,6 miliar,” ucapnya.
Untuk itu, pihaknya memberikan bimbingan dan sertifikasi yang sesuai dengan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Sertifikat kompetensi yang didapatkan 165 peserta itu menjadi keunggulan dan meningkatkan daya saing para penjahit.
Ratna menambahkan, secara umum program bimbingan dan sertifikasi SKKNI itu akan menjangkau 500 penjahit. Selain di Bandung, pelatihan serupa akan dilakukan di Surabaya, Jakarta, Tangerang, Bogor, Depok, Semarang, dan Yogyakarta.
“Kita pun sedang membangun ekosistem bisnis clothing line yang akan mempertemukan para pelaku IKM Konveksi dan IKM Fesyen. Kolaborasi ini sejalan dengan revolusi industri 4.0 yang akan meningkatkan daya saing, memperluas akses pasar, meningkatkan produktivitas, dan tentunya pendapatan,” jelasnya. (dnr)
Editor : Doni Ramdhani


