Ini Strategi Bagi Kontestan Pilgub Jabar 2024, Bila Ingin Berkantor di Gedung Sate Tahun Depan...
Merujuk dari hasil survei yang dilakukan Skala Institute dan Ragaplasma Research, pada 1-7 Oktober 2024 lalu terkait Pilgub Jawa Barat 2024.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Merujuk dari hasil Survei yang dilakukan Skala Institute dan Ragaplasma Research, pada 1-7 Oktober 2024 lalu terkait Pilgub Jawa Barat 2024.
Dimana survei yang dilakukan di enam kota/kabupaten yakni Kota Bandung, Garut, Kabupaten Bekasi, Majalengka, Kota Cirebon dan Cianjur, dengan masing-masing responden 400 orang, terdiri dari laki-laki dan perempuan, melalui metode multistage random sampling wawancara tatap muka, margin of error sekitar 5 persen, didapati bahwa faktor popularitas yang meningkatkan ketertarikan masyarakat untuk memilih.
Direktur Skala Institute Wahyu Ginanjar mengatakan, nyatanya pada kontestasi kali ini popularitas sejalan dengan elektabilitas.
Sehingga yang harus dilakukan keempat pasangan calon di masa tahapan kampanye ini, menuju pemungutan suara pada 27 November mendatang adalah dengan mendongkrak popularitas.
Caranya? Perbanyak gimmick, rajin menyapa masyarakat, memassifkan alat peraga kampanye (APK), memanfaatkan media sosial dan media massa.
"Kalau tidak, akan sulit. Soalnya dari survei, menggambarkan bahwa mayoritas memilih karena merasa mengenal figur atau calon secara personal," kata Wahyu di Kota Bandung, Kamis 10 Oktober 2024.
Dimana angkanya rerata di atas 30 persen, baru disusul dengan pertimbangan figur atau tokoh pimpinan partai sekitar 15 persen, partai politik sekitar 10 persen.
"Tokoh agama, tokoh masyarakat atau artis tidak terlalu signifikan memberi pengaruh kepada masyarakat untuk memilih salah satu pasangan calon," ucapnya.
Saking dominannya popularitas ini lanjut Wahyu, visi dan misi serta program kerja para pasangan calon, tidak begitu dilirik oleh masyarakat.
Dimana di enam kota/kabupaten tersebut, angkanya di bawah 10 persen untuk mampu mendongkrak elektabilitas.
"Sama juga kampanye debat, persentasenya kecil. Sosok figur atau kandidat yang paling besar untuk elektabilitas. Selain rata-rata tingkat perubahannya juga cukup besar, 40 persen. Perubahan pilihan dapat terjadi karena figur, kunjungan atau kampanye. Kecuali di Kabupaten Bekasi, perubahan pilihan cenderung terjadi kalau ada pemberian uang, jasa atau barang. Money politic," paparnya.
Sementara Direktur Ragaplasma Research Romdin Azhar menambahkan, atas dasar itu mau tidak mau para pasangan calon harus meningkatkan apa yang sudah dilakukannya kini, setidaknya tiga kali lipat.
"Lebih banyak menyapa masyarakat dari jumlah yang sekarang, lebih banyak menyebar baliho dan sebagainya. Serta tentunya juga harus memiliki kesiapan logistik yang banyak," imbuhnya.
Seperti diketahui, dari hasil survei yang mereka lakukan di enam kabupaten/kota, didapati di Kota Bandung pasangan Dedi-Erwan mendapat elektabilitas 43,50 persen, Syaikhu-Ilham Habibie 21 persen, Acep Adang-Gitalis 14,75 persen, Jeje-Ronal 10,57 persen dan tidak tahu atau tidak jawab 10 persen.
Di Kabupaten Bekasi, Dedi-Erwan mendapat elektabilitas 63,16 persen, Syaikhu-Ilham Habibie 18,76 persen, Acep Adang-Gitalis 3,89 persen, Jeje-Ronal 5,8 persen dan tidak tahu atau tidak jawab 8,39 persen.
Kabupaten Garut, Dedi-Erwan elektabilitasnya 52 persen, Syaikhu-Ilham Habibie 17,50 persen, Acep Adang-Gitalis 10,25 persen, Jeje-Ronal 8,5 persen dan tidak tahu atau tidak jawab 11,75 persen.
Kabupaten Cianjur, Dedi-Erwan elektabilitasnya 58,9 persen, Syaikhu-Ilham Habibie 15,69 persen, Acep Adang-Gitalis 7,8 persen, Jeje-Ronal 6,7 persen dan tidak tahu atau tidak jawab 10,91 persen.
Kabupaten Majalengka, Dedi-Erwan elektabilitasnya 57,3 persen, Syaikhu-Ilham Habibie 13,7 persen, Acep Adang-Gitalis 18,55 persen, Jeje-Ronal 7,3 persen dan tidak tahu atau tidak jawab 3,15 persen.
Kota Cirebon, Dedi-Erwan elektabilitasnya 45,85 persen, Syaikhu-Ilham Habibie 21,4 persen, Acep Adang-Gitalis 17,45 persen, Jeje-Ronal 10,8 persen dan tidak tahu atau tidak jawab 4,5 persen.***
Editor : JakaPermana

