Investor Jajaki Investasi Ubah Air Laut Menjadi Air Minum di Kabupaten Cirebon

PT Mahardika mengaku siap melakukan investasi di Kabupaten Cirebon.  Mereka berencana berinvestasi untuk pengolahan air laut menjadi air bersih.

Investor Jajaki Investasi Ubah Air Laut Menjadi Air Minum di Kabupaten Cirebon
Bupati Cirebon Imron

INILAHKORAN. ID - PT Mahardika mengaku siap melakukan investasi di Kabupaten Cirebon.  Mereka berencana berinvestasi untuk pengolahan air laut menjadi air bersih. 

Bupati Cirebon, Imron menyebutkan,  PT Mahardika berencana membangun fasilitas pengolahan air laut (desalinasi) di wilayah Kabupaten Cirebon.

Menurutnya,  pemerintah daerah pada prinsipnya menyambut baik rencana tersebut, selama pelaksanaannya tetap mengutamakan kepentingan masyarakat. Salah satunya, agar tarif air yang dihasilkan tidak lebih mahal dari biaya yang saat ini ditanggung warga.

“Mudah-mudahan saja investasi ini bisa terwujud,  yang penting harganya terjangkau oleh masyarakat. Jangan sampai, biaya yang dikeluarkan saat ini lebih mahal," ungkap Imron, Kamis 27 November 2025.

Imron menjelaskan air hasil pengolahan nantinya direncanakan dimanfaatkan untuk dua kebutuhan. Pertama, untuk kebutuhan masyarakat serta untuk kebutuhan sektor industri. Bahkan, rencana lokasi pengembangan fasilitas pengolahan air laut itu berada di dua kawasan, yaitu Cirebon timur dan utara yang merupakan wilayah pesisir.

Salah satu skema pemanfaatan yang sudah dibahas dengan investor tersebut, yaitu terkait pasokan air baku untuk perusahaan daerah air minum (PDAM). Nantinya, dustribusi air bkepada warga,bbisa lebih terjamin.

“Justru nanti PDAM yang ngambil dari situ. Intinya dari pemerintah daerah sangat menyambut baik,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Cirebon Hilmi Rivai menjelaskan dari sisi pendanaan, investor tersebut mendapat dukungan pendanaan dari lembaga pembiayaan berbasis syariah.

Pendanaan tersebut, kata Hilmi, melibatkan investor dari Korea Selatan dan konsorsium finansial gabungan perusahaan Arab Saudi, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

Ia mengungkapkan pola bisnis yang ditawarkan bukan semata-mata berorientasi keuntungan, tetapi juga memasukkan aspek sosial dalam pemanfaatan air bagi masyarakat.

“Profitnya ada, tapi tidak profit oriented. Mereka tetap mengusung kebutuhan sosial,” ucapnya.

Ia menyampaikan, skema kerja sama yang diinginkan adalah Build Operate Transfer (BOT), di mana pemerintah daerah menyediakan lahan dan investor yang membangun serta mengoperasikan fasilitas pengolahan air laut tersebut.

Namun, Hilmi mengakui masih ada pembahasan lanjutan yang perlu dilakukan, terutama terkait kewenangan pemanfaatan wilayah laut yang berada pada pemerintah provinsi, serta ketersediaan lahan milik pemerintah daerah.

“Karena ini kan laut yang digarap, jadi bukan kewenangan kita. Itu kewenangan provinsi, jadi harus ada diskusi kelanjutan,” ujarnya.

Ia menyebutkan kebutuhan air untuk masyarakat Cirebon saat ini sekitar 100 ribu meter kubik per hari. Sementara itu, investor menyatakan mampu memasok hingga sekitar 4,7 juta meter kubik per hari untuk konsumsi.
Sedangkan untuk industri, mampu menyediakan 477 juta meter kubik untuk kebutuhan industri dan lainnya.

Dia menambahkan,  untuk nilai investasi, Hilmi mengaku belum ada angka pasti karena masih dilakukan penghitungan detail mengenai kebutuhan lahan serta komposisi pemanfaatan untuk konsumsi dan industri.

“Kalau nilai investasi tadi belum disebutkan berapa nilainya, kita masih hitung-hitung dulu kebutuhannya berapa,” tukasnya. 


Editor : Ahmad Sayuti