Janji Wamen, Subsidi Energi Berpihak Rakyat
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Jakarta-Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung menyatakan kebijakan subsidi energi akan terus dilakukan perbaikan agar semakin tepat sasaran.
Bagi masyarakat kecil, kabar mengenai anggaran dan angka-angka triliunan rupiah dari pusat sering kali terdengar mengawangawang.
Namun, ketika kata "subsidi" diucapkan, telinga mereka seketika tegak.
Di tengah impitan ekonomi, potongan harga untuk mengisi tangki motor tua atau membeli tabung gas melon adalah napas buatan yang menyambung dapur mereka agar tetap mengepul.
Realitas di lapangan sering kali berbicara lain. Di jalanan, mobil-mobil mewah berkapasitas mesin besar masih tampak mengantre di jalur BBM subsidi. Di perumahan elite, tabung LPG 3 kilogram—yang jelas-jelas bertuliskan "Hanya untuk Masyarakat Miskin"—berjejer rapi di dapur yang megah.
Keadilan yang pincang inilah yang kini sedang berusaha diluruskan oleh pemerintah.
Pemerintah berkomitmen bahwa kebijakan subsidi energi akan terus diperbaiki agar semakin tepat sasaran.
Kabar baik ini disampaikan langsung oleh Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, dalam acara Media Gathering Kementerian Keuangan di Bogor, Jawa Barat. Beliau menegaskan bahwa reformasi skema subsidi untuk listrik, BBM, hingga LPG sudah masuk dalam rencana matang pemerintah (on the pipeline).
"Ini kan sebagian belum benar-benar tepat sasaran.
Ini yang terus akan dilakukan perbaikan agar subsidi benar-benar mengena pada sasarannya," ujar Juda Agung dengan nada optimis.
Langkah ini bukan sekadar urusan bagi-bagi bantuan, melainkan sebuah benteng untuk menjaga kesehatan dompet negara.
Fluktuasi harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) di pasar global ibarat ombak yang bisa mengguncang perahu anggaran kita kapan saja. Pemerintah mencatat, setiap kenaikan harga minyak sekitar 6,1 dolar AS per barel, beban subsidi akan melonjak dan berpotensi membengkakkan defisit anggaran hingga Rp6,8 triliun.
Jika ruang fiskal ini tertekan, fleksibilitas pemerintah untuk membiayai sektor penting lainnya seperti pendidikan dan kesehatan akan ikut terancam.
Melalui APBN 2027, pemerintah bersama DPR RI telah mengetok palu untuk menyepakati anggaran subsidi energi sebesar Rp261,5 triliun. Angka ini sebenarnya turun sebesar Rp11,44 triliun dibandingkan alokasi sebelumnya yang mencapai Rp272,94 triliun. Pemangkasan ini paling besar dialami oleh pos kuota subsidi BBM dan LPG 3 kg yang disepakati menjadi Rp131,39 triliun, sementara subsidi listrik bertahan di angka Rp130,11 triliun. (bsf)
Editor : Inilahkoran

