Jejak Petir di Langit Jawa Barat: Ribuan Sambaran Setiap Jam Sepanjang 2025

BMKG mencatat selama satu tahun penuh, tercatat 8.642.348 kejadian petir menyambar wilayah Jawa Barat dan sekitarnya.

Jejak Petir di Langit Jawa Barat: Ribuan Sambaran Setiap Jam Sepanjang 2025
BMKG mencatat selama satu tahun penuh, tercatat 8.642.348 kejadian petir menyambar wilayah Jawa Barat dan sekitarnya.

INILAHKORAN.ID - Langit Jawa Barat sepanjang 2025 bukan sekadar dihiasi awan gelap dan hujan. Di balik dentuman yang kerap mengagetkan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Bandung mencatat aktivitas petir dalam jumlah yang mencengangkan. 

Selama satu tahun penuh, tercatat 8.642.348 kejadian petir menyambar wilayah Jawa Barat dan sekitarnya.

Angka tersebut menggambarkan betapa dinamisnya atmosfer di wilayah ini. Setiap sambaran petir menjadi penanda kuatnya proses pembentukan awan konvektif yang kerap terjadi, terutama saat memasuki masa peralihan musim.

Kepala BMKG Stasiun Geofisika Bandung, Dr. Teguh Rahayu, mengungkapkan bahwa puncak aktivitas petir terjadi pada Mei 2025. Pada bulan tersebut, tercatat 1.236.093 kejadian petir, menjadikannya periode dengan intensitas tertinggi sepanjang tahun.

“Pada Mei, aktivitas petir sangat dominan. Dari total kejadian, petir jenis cloud to ground bermuatan negatif atau CG (-) tercatat sebanyak 791.863 kejadian, sementara petir CG (+) mencapai 444.230 kejadian,” ujar Teguh dalam keterangan tertulisnya, Jumat 2 Januari 2025.

Sebaliknya, intensitas terendah terjadi pada Juli 2025, dengan jumlah sambaran petir sebanyak 156.470 kejadian. Kondisi ini seiring dengan berkurangnya pertumbuhan awan hujan di sebagian wilayah Jawa Barat pada periode tersebut.

Tak hanya waktu, lokasi pun menunjukkan pola tersendiri. Data BMKG mencatat wilayah Kabupaten Sumedang menjadi daerah dengan aktivitas petir tertinggi sepanjang 2025, yakni mencapai 1.800.024 kejadian. Angka ini disusul oleh Kabupaten Majalengka dengan 759.578 kejadian, serta Kabupaten Cianjur sebanyak 754.398 kejadian petir.

Fenomena ini, menurut Teguh, dipengaruhi oleh faktor topografi Jawa Barat yang didominasi pegunungan dan perbukitan. Kondisi tersebut memicu pertumbuhan awan cumulonimbus yang menjadi sumber utama terjadinya petir.

Di tengah tingginya aktivitas petir, BMKG mengingatkan masyarakat agar tetap waspada dan tidak mudah percaya pada informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu-isu yang tidak jelas kebenarannya,” tutur Teguh.

Lebih dari sekadar angka, jutaan sambaran petir sepanjang 2025 menjadi pengingat bahwa alam memiliki ritme dan kekuatan sendiri. Memahami fenomena ini, sekaligus meningkatkan kewaspadaan, menjadi kunci agar masyarakat dapat hidup berdampingan dengan dinamika cuaca yang terus berubah.


Editor : Ahmad Sayuti