Kain Menyimpan Cerita, Lilin Menyalakan Asa
DARI pelatihan membatik, lahir karya yang terus berkembang. Batik Ciprat kini menjadi bagian dari ikhtiar warga membangun kemandirian ekonomi.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Cipratan lilin jatuh perlahan di atas kain, membentuk pola yang tak pernah benar-benar seragam. Ada bagian yang melebar, ada pula yang hanya meninggalkan titik-titik kecil.
Namun, dari ketidakteraturan itulah justru lahir keindahan yang menjadi ciri khas Batik Ciprat.
Proses sederhana itu kini menjadi bagian dari keseharian warga RW 07, Kelurahan Husein Sastranegara, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung. Di tangan mereka, cipratan lilin tak sekadar menjadi motif di atas kain, tetapi juga tumbuh menjadi keterampilan yang menghasilkan karya sekaligus membuka jalan menuju kemandirian ekonomi.
Perjalanan itu bermula dari pelatihan membatik di Sentra Wyata Guna. Setelah pelatihan, warga mendapat modal dan didorong untuk melanjutkan produksi secara mandiri di lingkungan tempat tinggal.
Ketua Kelompok Batik Ciprat, Yuliana, mengatakan pelatihan tersebut menjadi titik awal bagi warga untuk mengubah keterampilan menjadi kegiatan yang menghasilkan.
“Setelah pelatihan, kami diberikan modal dan diminta melanjutkan produksi di sini. Alhamdulillah sampai sekarang selalu ada pesanan,” ujar Yuliana.Pesanan pun perlahan datang dari luar wilayah.
Produk Batik Ciprat RW 07 telah dipesan hingga Tasikmalaya dan Cimahi. Warga memproduksi batik sesuai permintaan, mulai dari kain, pakaian hingga ikat kepala.
Keunikan Batik Ciprat terlihat sejak proses pembuatannya.
Motif dibentuk menggunakan teknik ciprat dengan lilin. Setelah itu, kain melalui tahapan pewarnaan, pencucian dan penjemuran yang dilakukan berulang.
Waterglass digunakan sebagai pengunci warna agar hasil batik lebih kuat dan tidak mudah luntur.
Setiap tahapan membutuhkan ketelitian, dari cipratan pertama hingga kain siap digunakan.
Hasilnya dijual dengan harga yang relatif terjangkau.
Kain Batik Ciprat dibanderol sekitar Rp130 ribu hingga Rp150 ribu, sedangkan produk pakaian mulai dari sekitar Rp250 ribu.
Dukungan terhadap kelompok batik ini juga datang dari Pemerintah Kelurahan Husein Sastranegara.
Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan Kelurahan Husein Sastranegara, Iwan Achmad Setiawan, mengatakan pemberdayaan UMKM menjadi salah satu upaya pemerintah kewilayahan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat.
Setelah dilakukan inventarisasi, pemerintah menemukan berbagai potensi masyarakat yang dapat dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi. Batik Ciprat di RW 07 menjadi salah satunya.
“Setelah kami inventarisasi, ternyata ada potensi masyarakat yang bisa dikembangkan untuk peningkatan ekonomi melalui UMKM. Salah satunya Batik Ciprat di RW 07,” kata Iwan.
Pemerintah kewilayahan kemudian mendorong pembentukan kelompok UMKM sekaligus membuka akses informasi pelatihan bagi masyarakat. Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas kesempatan warga untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan kemandirian ekonomi, termasuk bagi masyarakat penerima manfaat Program Keluarga Harapan (PKH).
“Pemerintah kelurahan harus hadir di tengah masyarakat, melengkapi dan mendorong keinginan masyarakat, khususnya dalam pengembangan ekonomi,” ujarnya.
Semangat itu juga tumbuh di tingkat warga. Ketua RW 07, Iyon Tahyan, mengatakan keberadaan Batik Ciprat mendapat sambutan positif. Bahkan, warga yang belum memperoleh kesempatan mengikuti pelatihan mulai tertarik untuk belajar.
“Warga sangat semangat.
Bahkan yang belum mendapatkan pelatihan juga ingin ikut. Insyaallah ke depannya kami akan mendorong pelatihan di tiap RT agar ekonomi warga semakin meningkat dan sejahtera,” tuturnya.
Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober menjadi pengingat bahwa batik bukan semata warisan budaya. Di tangan warga, batik juga dapat menjadi keterampilan, pekerjaan, sekaligus jalan menuju kemandirian.
Dari cipratan lilin yang jatuh di atas kain, tumbuh cerita tentang warga yang berkarya. Dari RW 07 Husein Sastranegara, Batik Ciprat menunjukkan, melestarikan budaya dapat berjalan beriringan dengan membuka peluang ekonomi.
(yogo triastopo/gin)
Editor : Inilahkoran

