Kartini Bekasi, Mengubah Limbah Jadi Energi

DARI sebuah bank sampah di Bekasi, para perempuan mengolah limbah plastik. Bukan sekadar mengurangi sampah, tetapi mencari energi baru.

Kartini Bekasi, Mengubah Limbah Jadi Energi
BANK SAMPAH: Aktivitas olah sampah Bank Sampah Unit Gempita di Perumahan Puri Gading Cluster Villa Carita RT 05, RW 08, Kelurahan Jatimelati, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, Jawa Barat, Minggu (27/9).(ANTARA/PRADITA KURNIAWAN SYAH)

Matahari baru saja muncul dari ufuk timur ketika Hesti Warih MR bersama tujuh perempuan lainnya sudah sibuk di Bank Sampah Unit (BSU) Gempita, Kota Bekasi.

Ada yang membersihkan area bank sampah. Ada pula yang menyiapkan galon bekas, keranjang, air, dan gas elpiji. Di sudut lainnya, mesin pirolisis mulai dipersiapkan.

Pagi itu, sekitar pukul 06.30 WIB, pekerjaan mereka bukan sekadar memilah sampah. Di kompleks Puri Gading Cluster Villa Carita RT 05/ RW 08, Kelurahan Jatimelati, Kecamatan Pondok Melati, para perempuan tersebut mengolah sampah yang selama ini dianggap tak lagi bernilai.

Kantong plastik, kemasan styrofoam hingga bubble wrap menjadi bagian dari pekerjaan mereka. Mereka adalah para Kartini Bekasi yang memilih bergerak dari lingkungan sendiri.

Di tangan mereka, bank sampah tidak berhenti sebagai tempat mengumpulkan dan menjual sampah. Ada upaya untuk mengolah apa yang tersisa.

Sekitar dua jam kemudian, pasokan sampah mulai berdatangan. Pengayuh becak dan pengendara motor roda tiga satu per satu membawa sampah yang sudah dipilah warga.Sampah organik memiliki jalannya sendiri. Sebagian diolah menjadi kompos dan media budidaya maggot. Sementara plastik yang sulit didaur ulang dikumpulkan untuk diolah seminggu sekali. Dari plastik itulah mesin pirolisis bekerja.

Gagasan tersebut lahir dari persoalan sederhana yang mereka temui setiap hari. Setelah sampah dipilah, masih ada plastik yang tidak memiliki nilai ekonomi dan sulit dijual.

Hesti dan kawan-kawan kemudian mencari cara agar bank sampah tidak meninggalkan terlalu banyak residu.

“Kami menyadari masih ada sisa sampah plastik setelah proses pemilahan.

Dari situ kami berpikir bagaimana sampah tersebut tidak lagi menjadi residu,” kata Hesti, seperti dikutip dari ANTARA, Minggu (27/9).

Jawabannya datang melalui mesin pirolisis. Mesin seharga Rp28,5 juta itu dibeli secara pre-order dari Blitar, Jawa Timur. Kapasitasnya mencapai lima kilogram dalam sekali proses.

Dana pembelian berasal dari Program Lingkungan Masyarakat Kota Bekasi Keren atau Lingkar Keren.

Program Pemkot Bekasi tersebut memberikan hibah Rp100 juta per RW setiap tahun. Karena aktivitas BSU Gempita berada di lingkup RT 05, mereka menerima seperlima dari nilai bantuan tersebut.

Mesin itu kemudian menjadi bagian penting dari upaya mereka mengurangi sampah plastik.

Cara kerjanya tidak rumit.

Plastik dimasukkan ke dalam tabung dan dipadatkan.

Tabung kemudian ditutup rapat sebelum bagian bawahnya dipanaskan menggunakan gas.

Air dialirkan ke kondensor untuk mendinginkan uap yang dihasilkan. Dari proses tersebut keluar cairan yang kemudian dipisahkan berdasarkan kandungannya menjadi beberapa jenis bahan bakar.

Ada yang menyerupai premium, minyak tanah hingga solar. Mesin tidak dijalankan setiap hari. Pengolahan dilakukan ketika jumlah plastik yang terkumpul sudah mencukupi.

Hasil awalnya masih berwarna kehitaman. Karena itu, diperlukan proses lanjutan untuk mendapatkan cairan yang lebih jernih.

“Masih ada tahapan berikutnya. Yang kemarin sudah dilakukan itu dengan destilasi skala lab yang dibawa ke lapangan.

Hasilnya memang sudah ada, bagus, dan bening,” ujar Hesti.

Namun, menghasilkan bahan bakar bukan tujuan akhir mereka. Bagi Hesti dan para perempuan di BSU Gempita, yang lebih penting adalah mengurangi sampah non-ekonomis agar tidak berakhir sebagai residu.

BBM hasil pengolahan pun belum dijual secara luas. Untuk sementara, hasilnya digunakan sendiri untuk kebutuhan operasional, seperti bahan bakar motor roda tiga pengangkut sampah dan mesin pemotong rumput.

Di situlah kerja mereka menemukan makna yang lebih luas. Bank sampah tidak hanya mengurus sampah yang masih memiliki nilai jual. Sampah yang selama ini dianggap tidak bernilai pun dicari jalan keluarnya. Hesti berharap langkah kecil di BSU Gempita dapat ditiru bank sampah lain.

“Ke depan kami berharap semua BSU punya alat ini. Jadi tidak hanya mengumpulkan sampah anorganik yang bernilai jual, tetapi juga mengolahnya.

Tidak sekadar jadi tempat mengumpulkan dan menjual,” katanya.

Harapan itu hadir di tengah persoalan sampah yang masih panjang. Data yang dikutip dari peneliti BRIN menyebut Indonesia menghasilkan sekitar 38 juta ton sampah pada 2024.

Sekitar 19-20 persen di antaranya berupa sampah plastik.

Sementara Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional mencatat timbulan sampah nasional sepanjang 2025 mencapai sekitar 24,8 juta hingga 25,14 juta ton.

Di tengah angka-angka besar tersebut, pekerjaan para perempuan di BSU Gempita mungkin terlihat sederhana. Mengumpulkan, memilah, mengolah, lalu mencoba mengurangi apa yang tersisa.

Namun, dari pekerjaan sederhana itulah perubahan dimulai. Pemerintah Kota Bekasi juga terus mendorong pengelolaan sampah dari sumbernya.

Masyarakat diajak memilah sampah sejak dari rumah. Lingkungan pendidikan, pusat perbelanjaan, perkantoran hingga kawasan perdagangan juga didorong melakukan hal serupa.

Wali Kota Bekasi Tri Adhianto Tjahjono mengingatkan, teknologi saja tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan sampah.

Pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Bantargebang yang dijadwalkan beroperasi awal 2028, misalnya, tetap membutuhkan dukungan masyarakat. Fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas pengolahan 1.500 ton sampah per hari.

Masih ada sekitar 300 ton sampah harian yang perlu ditangani melalui berbagai upaya lainnya.

“Teknologi saja tidak cukup. Sebagus apa pun, tidak akan berhasil tanpa kesadaran masyarakat,” tegas Tri.

Karena itu, perubahan harus dimulai dari tempat paling dekat: rumah.

Memilah sampah organik dan anorganik dari dapur menjadi langkah sederhana agar sampah tidak tercampur. Dari sana, beban pengelolaan di tempat pembuangan akhir dapat ditekan.

BSU Gempita menunjukkan, persoalan sampah tidak selalu menunggu teknologi besar. Kadang, dia dimulai dari delapan perempuan yang datang pagi-pagi, menyalakan mesin, dan memilih untuk tidak membiarkan satu jenis sampah pun berhenti sebagai masalah. (gin)


Editor : Inilahkoran