Kasus Penderita ODHIV di KBB Terus Meningkat, Dinkes KBB: Ungkap Jumlah Angka dan Faktor Penyebabnya
Kasus orang dengan HIV/Aids atau ODHIV di Kabupaten Bandung Barat (KBB) terus mengalami peningkatan sepanjang periode tahun 2020-2024.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Kasus orang dengan HIV/AIDS atau ODHIV di Kabupaten Bandung Barat (KBB) terus mengalami peningkatan sepanjang periode tahun 2020-2024.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) KBB tercatat sebanyak 585 ODHIV dengan rincian 130 kasus baru hanya dalam rentang Januari-Agustus 2024.
Selain itu, sebanyak 46 ODHIV dilaporkan meninggal dunia dalam periode yang sama.
"Penanganan HIV memerlukan pendekatan medis, psikologis, dan sosial, meliputi diagnosis dan konseling, pengobatan antiretroviral (ARV), dukungan psikologis, dukungan sosial, serta pencegahan penularan," kata Kepala Dinas Kesehatan Bandung Barat, Dr. Ridwan Abdullah Putra, Minggu 12 Januari 2025.
Dari 500 ODHIV, sebut Ridwan, 300 orang diantaranya tengah menjalani pengobatan. Sedangkan, 200 orang lainnya masih menunggu untuk menerima pengobatan.
"Kalau untuk penanganan, Dinkes KBB melalui puskesmas gencar melacak, mendata, dan melaporkan warga terindikasi mengidap HIV," sebutnya.
Sementara itu, untuk menekan laju peningkatan ODHIV pihaknya melakukan edukasi terhadap masyarakat mengenai cara penularan HIV.
Menurut Ridwan, hal itu perlu dilakukan mengingat masih banyak masyarakat yang belum memahami bahwa penularan tidak terjadi melalui percakapan, sentuhan kulit, atau berbagi gelas minum.
"Untuk menekan laju penyebaran HIV, Dinkes KBB telah mengimplementasikan sejumlah program yang menyasar populasi kunci, khusus, dan rentan," tuturnya.
"Populasi kunci mencakup kelompok dengan perilaku berisiko tinggi, seperti pekerja seks komersial (PSK), pengguna narkotika suntik, waria, serta pria yang berhubungan sesama jenis," sebutnya.
Tak cuma itu, sambung Ridwan, pihaknya pun melakukan strategi penanggulangan dengan menerapkan skrining deteksi dini HIV pada kelompok berisiko, pengembangan layanan perawatan dukungan dan pengobatan HIV, serta pelacakan ODHIV yang baru ditemukan namun belum mengakses ARV.
"Kemudian, pemantauan keberhasilan pengobatan dilakukan melalui pemeriksaan viral load," ujarnya.
Ridwan mengaku, pihaknya bekerja sama dengan LSM, pendamping sebaya, kader masyarakat dalam menjalankan program-program tersebut. Termasuk, menggaet kelompok dukungan sebaya untuk menjangkau populasi berisiko tinggi serta memberikan pendampingan psikososial kepada ODHIV agar tetap menjalani pengobatan ARV.
"Dengan strategi yang terarah ini, diharapkan angka penularan HIV di KBB dapat ditekan dan masyarakat yang terinfeksi dapat menjalani pengobatan serta mendapatkan dukungan yang memadai," ujarnya.
Sama seperti daerah lainnya, sebut Ridwan, penularan HIV/Aids di KBB dipicu perilaku berisiko, seperti hubungan seksual tanpa menggunakan kondom dengan pasangan yang status HIV-nya tidak diketahui atau dengan banyak pasangan.
"Lalu, penggunaan jarum suntik bersama, terutama di kalangan pengguna narkoba suntik, dapat menyebabkan penularan HIV," sebutnya.
"Termasuk, HIV dapat ditularkan dari ibu yang terinfeksi ke bayi selama kehamilan, persalinan, atau menyusui jika tidak dilakukan pencegahan," ujarnya.
Kendati begitu, terang Ridwan, untuk penyebab yang paparkan sebelumnya itu baru terdeteksi. Sebab, pada umumnya penularan terjadi melalui transfusi darah yang tidak melalui skrining.
"Itu juga bisa jadi penyebab dan bisa melalui penggunaan alat medis atau alat tato/piercing yang tidak steril juga dapat menjadi jalur penularan," katanya.
Meski begitu, ungkap Ridwan, penularan HIV dapat dicegah dengan menghindari faktor risiko ini, seperti menggunakan kondom, tidak berbagi jarum suntik, dan melakukan tes HIV secara rutin bagi pasangan yang aktif.
"Dari 585 ODHIV kelompok dengan jumlah terbanyak adalah lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL)," imbuhnya. Menurut data yang dilaporkan, kasus HIV/AIDS di Kabupaten Bandung Barat paling banyak disebabkan oleh hubungan seksual sesama jenis di kalangan lelaki," ungkapnya.
Tak cuma itu, sebut Ridwan, terdapat peningkatan kasus HIV pada ibu rumah tangga yang menyumbang sekitar 14 persen dari total kasus. Rata-rata penemuan kasus baru di Bandung Barat mencapai 50 orang per tahun.
"Penyebarannya pun juga telah merata di setiap desa. Intinya ini menunjukkan bahwa infeksi tidak terbatas pada kelompok atau wilayah tertentu saja," tandas Ridwan.***
Editor : JakaPermana
