Dinkes Perkuat Jejaring Layanan HIV di Kota Bogor, 3.040 ODHIV Terdeteksi
Dinkes Kota Bogor memperkuat jejaring layanan HIV di puskesmas, 9 RS, dan 7 klinik. Hingga Juli 2026 tercatat 3.040 ODHIV masih hidup.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor terus memperkuat penanggulangan HIV dengan memperluas akses pemeriksaan, diagnosis, perawatan, dukungan, dan pengobatan (PDP) bagi orang dengan HIV (ODHIV).
Kepala Dinkes Kota Bogor Erna Nuraena mengatakan, saat ini seluruh puskesmas dan rumah sakit (RS) di Kota Bogor telah dapat memberikan layanan tes dan diagnosis HIV. Dengan demikian, masyarakat memiliki akses lebih luas untuk melakukan deteksi dini dan memperoleh kepastian diagnosis.
“Selain layanan tes dan diagnosis, Kota Bogor juga terus memperkuat jejaring layanan PDP yang saat ini telah tersedia di seluruh Puskesmas, 9 RS, dan 7 klinik. Perluasan jejaring ini diharapkan dapat semakin mendekatkan layanan kepada ODHIV, mempercepat akses terhadap pengobatan dan pendampingan, serta mengurangi hambatan dalam memperoleh layanan kesehatan,” ungkap Erna kepada INILAHKORAN, Rabu (26/8/2026).
Menurut Erna, semakin luasnya ketersediaan layanan HIV di Kota Bogor diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk tidak ragu melakukan tes HIV dan memanfaatkan layanan kesehatan yang tersedia.
“Bagi ODHIV, akses terhadap pengobatan yang tepat dan berkelanjutan merupakan bagian penting dalam menjaga kesehatan dan meningkatkan kualitas hidup. Upaya ini terus diperkuat melalui kolaborasi antara pemerintah, fasilitas pelayanan kesehatan, komunitas, dan berbagai pihak terkait untuk mewujudkan penanggulangan HIV yang efektif dan berkelanjutan di Kota Bogor,” terangnya.
Dalam rangka mempercepat eliminasi HIV, Dinkes Kota Bogor juga memperkuat berbagai strategi penanggulangan secara komprehensif.
Strategi tersebut dilakukan melalui integrasi layanan HIV, peningkatan edukasi dan promosi kesehatan, serta penguatan upaya pencegahan dan penemuan kasus HIV pada kelompok sasaran.
“Di sisi lain, upaya penghapusan stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung agar setiap orang dapat mengakses layanan kesehatan secara aman dan setara,” paparnya.
Erna menjelaskan, masih terdapat sejumlah tantangan dalam penanggulangan HIV di Kota Bogor. Tantangan tersebut antara lain tingkat pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai HIV yang masih perlu ditingkatkan, stigma dan diskriminasi, serta persoalan psikologis dan sosial yang dihadapi ODHIV.
Selain itu, pemantauan dan kesinambungan layanan bagi ODHIV yang berdomisili di luar Kota Bogor, keterbatasan dukungan pendanaan, serta kebutuhan memperkuat kolaborasi lintas sektor juga menjadi tantangan yang harus ditangani bersama.
Pada kelompok remaja, penanggulangan HIV memiliki tantangan yang lebih spesifik. Menurut Erna, kelompok tersebut masih membutuhkan penguatan pengetahuan mengenai HIV, kesehatan reproduksi, serta edukasi seksual yang sesuai dengan usia dan kebutuhan mereka.
“Menghadapi berbagai tantangan tersebut, diperlukan pendekatan yang komprehensif dan kolaboratif dengan melibatkan pemerintah, fasilitas pelayanan kesehatan, keluarga, sekolah, komunitas, serta masyarakat,” bebernya.
Erna menjelaskan, HIV merupakan virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh dan dapat berkembang menjadi AIDS apabila tidak mendapatkan penanganan yang tepat.
Berdasarkan analisis situasi HIV di Kota Bogor, kasus HIV baru masih ditemukan setiap tahun dengan jumlah yang mengalami fluktuasi. Pada 2025 tercatat sebanyak 399 kasus HIV baru dan 134 kasus AIDS.
Sementara itu, sepanjang Januari-Juli 2026 telah ditemukan 255 kasus HIV baru dan 83 kasus AIDS.
Dari kelompok usia, kasus HIV baru yang ditemukan pada Januari-Juli 2026 paling banyak berada pada kelompok usia produktif 25-49 tahun dengan proporsi 64 persen. Sementara itu, masih ditemukan 21 kasus HIV pada kelompok usia remaja 15-19 tahun.
“Berdasarkan jenis kelamin, kasus HIV baru lebih banyak ditemukan pada laki-laki sebesar 82 persen, sedangkan perempuan sebesar 18 persen. Berdasarkan hasil analisis situasi hingga Juli 2026, temuan kasus HIV baru menurut kelompok risiko menunjukkan bahwa kasus paling banyak ditemukan pada kelompok Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL), yaitu sebanyak 139 kasus baru,” tambah Erna.
Erna mengatakan, data tersebut menjadi salah satu dasar bagi Pemkot Bogor untuk terus memperkuat strategi pencegahan, edukasi, deteksi dini, serta akses layanan HIV sesuai kebutuhan masyarakat.
Upaya tersebut dilakukan untuk mencapai target Triple 95, yakni 95 persen orang dengan HIV mengetahui status HIV, 95 persen dari mereka yang telah mengetahui statusnya mendapatkan pengobatan antiretroviral (ART), dan 95 persen dari mereka yang menjalani ART mencapai supresi viral load.
Berdasarkan data hingga Juli 2026, tercatat 3.040 ODHIV ditemukan dan masih hidup atau sebesar 67 persen dari estimasi ODHIV.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.544 ODHIV atau 84 persen telah menjalani perawatan dan pengobatan ART. Sementara itu, sebanyak 1.226 ODHIV atau 48 persen telah mencapai viral load tersupresi.
Editor : Ahmad Sayuti

