Kekeringan Jabar Meluas, 519.687 Jiwa Terdampak Krisis Air Bersih

Kekeringan di Jawa Barat meluas. BPBD mencatat 519.687 jiwa di 175 kecamatan terdampak krisis air bersih dan 11,1 juta liter air telah disalurkan.

Kekeringan Jabar Meluas, 519.687 Jiwa Terdampak Krisis Air Bersih
ilustrasi/net

INILAHKORAN.ID-Bencana kekeringan di Jawa Barat semakin meluas. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat per 18 Agustus 2026, sebanyak 519.687 jiwa dari 160.862 kepala keluarga (KK) terdampak krisis air bersih.

Pranata Humas BPBD Jawa Barat, Hadi Rahmat, mengatakan dampak kekeringan kini telah menjangkau 175 kecamatan dan 387 desa/kelurahan di Jawa Barat.

"Berdasarkan data infografis pembaruan per 18 Agustus 2026 pukul 14.00 WIB, bencana kekeringan telah berdampak pada 175 kecamatan yang tersebar di 387 desa/kelurahan di Jawa Barat. Secara total, dampak kekeringan menyasar 160.862 KK atau sekitar 519.687 jiwa," ujar Hadi, Rabu (19/8/2026).

11,1 Juta Liter Air Bersih Disalurkan

Untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak, pemerintah bersama berbagai instansi dan elemen masyarakat telah menyalurkan jutaan liter air bersih.

Hingga pembaruan data tersebut, total bantuan yang telah didistribusikan mencapai 11.121.000 liter air bersih.

"Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak, pemerintah dan berbagai pihak telah menyalurkan total 11.121.000 liter air bersih," tutur Hadi.

Bogor Jadi Daerah dengan Warga Terdampak Terbanyak

Kabupaten Bogor menjadi wilayah dengan jumlah penduduk terdampak kekeringan paling banyak di Jawa Barat.

Tercatat sebanyak 180.247 jiwa dari 55.958 KK terdampak di 123 desa/kelurahan dan 30 kecamatan. Wilayah tersebut telah menerima distribusi air bersih sebanyak 1.743.500 liter.

Sementara itu, Kabupaten Bekasi berada di posisi kedua dengan 61.886 jiwa terdampak dari 20.187 KK di 32 desa/kelurahan dan 11 kecamatan.

Meski jumlah warga terdampak lebih sedikit dibanding Kabupaten Bogor, Kabupaten Bekasi menerima distribusi air bersih paling besar, yakni mencapai 5.322.800 liter.

"Data tersebut menunjukkan bahwa dampak kekeringan dan kebutuhan penyaluran air bersih tidak selalu berbanding lurus dengan jumlah penduduk terdampak," kata Hadi.

Bandung hingga Tasikmalaya Ikut Terdampak

Krisis air bersih juga terjadi di sejumlah wilayah lain di Jawa Barat.

Kabupaten Purwakarta mencatat 39.409 jiwa terdampak, disusul Kota Sukabumi sebanyak 31.037 jiwa, Kabupaten Bandung 29.696 jiwa, dan Kabupaten Tasikmalaya sebanyak 29.014 jiwa.

Kabupaten Karawang juga mencatat 24.315 jiwa terdampak. Sementara Kota Tasikmalaya sebanyak 16.951 jiwa dan Kabupaten Cianjur mencapai 16.277 jiwa.

Di wilayah lainnya, Kota Cirebon mencatat 12.735 jiwa terdampak, Kabupaten Sukabumi 12.584 jiwa, Kabupaten Ciamis 8.076 jiwa, serta Kota Banjar sebanyak 8.068 jiwa.

Kabupaten Pangandaran tercatat 7.975 jiwa terdampak, Kabupaten Bandung Barat 6.131 jiwa, Kabupaten Garut 5.687 jiwa, dan Kabupaten Indramayu 5.512 jiwa.

Sementara itu, Kabupaten Majalengka mencatat 4.899 jiwa terdampak, Kabupaten Sumedang 4.042 jiwa, Kabupaten Subang 3.463 jiwa, dan Kota Bandung sebanyak 3.425 jiwa.

Krisis air bersih juga melanda Kota Cimahi dengan 3.100 jiwa terdampak, Kota Bekasi 2.700 jiwa, Kota Depok 1.918 jiwa, serta Kota Bogor sebanyak 540 jiwa.

Cirebon dan Kuningan Masih Nihil Dampak

Dari seluruh wilayah yang tercatat dalam pembaruan BPBD Jawa Barat, masih terdapat dua kabupaten yang belum mengalami dampak kekeringan.

"Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Kuningan dalam pembaruan data kali ini tercatat belum mengalami dampak kekeringan, dengan angka nol jiwa, nol KK, serta belum menerima distribusi air bersih," ungkap Hadi.

BPBD Salurkan Bantuan Terbesar

distribusi air bersih dilakukan secara gotong royong oleh berbagai instansi dan lembaga.

BPBD Jawa Barat menjadi penyumbang distribusi terbesar dengan 6.865.200 liter air. Selanjutnya PMI menyalurkan 1.803.000 liter dan PDAM sebanyak 1.761.000 liter.

Dukungan juga datang dari komunitas sebanyak 288.500 liter, dunia usaha 217.300 liter, Baznas 100.000 liter, BBWS 82.000 liter, serta Kodim sebanyak 4.000 liter.

Hadi mengatakan data dampak kekeringan tersebut masih bersifat dinamis dan akan terus diperbarui berdasarkan laporan BPBD kabupaten/kota di Jawa Barat.***


Editor : JakaPermana