El Nino Picu Kekeringan di Jabar, BPBD Salurkan 4,2 Juta Liter Air Bersih

El Nino memicu kekeringan di 93 kecamatan di Jawa Barat. BPBD telah menyalurkan 4,2 juta liter air bersih untuk membantu ratusan desa terdampak.

El Nino Picu Kekeringan di Jabar, BPBD Salurkan 4,2 Juta Liter Air Bersih
Kepala BPBD Jawa Barat, Teten Ali Mulku Engkun/Istimewa

INILAHKORAN.ID-Fenomena El Nino yang mulai menguat memicu meluasnya krisis air bersih di Jawa Barat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat mencatat sebanyak 93 kecamatan dan 207 desa/kelurahan terdampak kekeringan sejak awal Juli 2026.

Kepala BPBD Jawa Barat, Teten Ali Mulku Engkun, mengatakan hingga akhir Juli pihaknya telah mendistribusikan sekitar 4,2 juta liter air bersih kepada masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan pasokan air.

"Sampai dengan bulan ini sejak tanggal 1 Juli saja sudah terdampak sekitar 93 kecamatan, 207 desa dan kelurahan, kemudian hari ini pun sudah terdistribusikan sekitar 4,2 juta liter," kata Teten di Bandung, Kamis (30/7/2026).

Menurutnya, dampak El Nino tahun ini lebih terasa dibandingkan musim kemarau pada tahun-tahun sebelumnya. Kondisi tersebut menyebabkan kebutuhan air bersih meningkat tajam di sejumlah daerah.

"Fenomena ini karena diakibatkan oleh El Nino, jadi kekeringan di Jawa Barat lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya," ujarnya.

Berdasarkan data BPBD, Kabupaten Bekasi menjadi wilayah dengan dampak kekeringan paling tinggi. Distribusi bantuan air bersih ke daerah tersebut telah mencapai sekitar 2,2 juta liter. Sementara Kabupaten Bogor menerima sekitar 800 ribu liter air bersih.

Teten menjelaskan, kondisi geografis menjadi salah satu penyebab tingginya kerentanan terhadap kekeringan, terutama di wilayah perbukitan dan pegunungan seperti Kecamatan Sukamakmur dan Jonggol, Kabupaten Bogor.

"Kalau hujan itu pasti dia banjir, tapi kalau kemarau aja 2-3 hari dia pasti kekeringan," katanya.

Selain krisis air bersih, musim kemarau juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hingga saat ini, BPBD Jawa Barat mencatat 48 kejadian kebakaran yang tersebar di 47 kecamatan dan 68 desa/kelurahan.

"Fenomena ini memang luar biasa, selain daripada kekeringan juga ada dampak-dampak lainnya, termasuk masalah kebakaran lahan dan hutan," ungkapnya.

Secara keseluruhan, sebanyak 17 kabupaten/kota di Jawa Barat telah terdampak kekeringan. Meski demikian, angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan kondisi pada 2023 ketika fenomena El Nino menyebabkan kekeringan di 26 kabupaten/kota hingga November.

"Dibandingkan tahun 2023, yang notabene ada fenomena El Nino juga, di tahun 2023 itu hampir 26 kabupaten kota, tapi itu sampai dengan bulan November. Mudah-mudahan sekarang di Jawa Barat ya cukuplah 17 kabupaten kota lagi, tidak usah bertambah-tambah lagi," harap Teten.

Untuk mengantisipasi meluasnya dampak kekeringan, BPBD Jawa Barat terus memperkuat penanganan melalui distribusi air bersih, peminjaman tangki air kepada pemerintah daerah, serta pembangunan sumur-sumur baru dengan dukungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

BPBD juga menggandeng berbagai pihak, termasuk perusahaan daerah air minum (PDAM) dan sektor swasta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), guna memastikan pasokan air bersih tetap tersedia bagi masyarakat terdampak.

Selain itu, alat water sanitasi telah disalurkan ke 27 kabupaten/kota di Jawa Barat untuk membantu proses penjernihan air sehingga layak digunakan oleh masyarakat.

"Kalau misalnya ditemukan hal tersebut silakan laporkan ke kami, kebetulan di kami juga ada alat water sanitasi yang bisa kita bantu," tandasnya.***


Editor : JakaPermana