Keluarga Korban Setujui Evakuasi dengan Alat Berat di Ponpes Al Khoziny

Keluarga Korban Setujui Evakuasi dengan Alat Berat di Ponpes Al Khoziny

Keluarga Korban Setujui Evakuasi dengan Alat Berat di Ponpes Al Khoziny
evakuasi korban ponpes al khoziny

INILAHKORAN - Keluarga korban runtuhnya bangunan Pondok pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, akhirnya memberikan persetujuan penggunaan alat berat dalam proses pencarian dan evakuasi korban. 

Keputusan itu diambil setelah tim SAR gabungan tidak lagi menemukan tanda-tanda kehidupan di bawah reruntuhan bangunan empat lantai tersebut.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto menjelaskan, persetujuan dari pihak keluarga menjadi faktor penting sebelum operasi SAR berlanjut ke tahap evakuasi korban meninggal dunia dengan menggunakan alat berat.

“Setelah dilakukan dialog bersama, keluarga korban sudah sepakat dan meminta kami melanjutkan operasi SAR menggunakan alat berat. Mereka bahkan telah menandatangani berita acara sebagai bentuk kesepakatan,” ujar Suharyanto saat memberikan keterangan di tenda media center darurat, Kamis (2/10).

Suharyanto menambahkan, keputusan tersebut diambil setelah dirinya mendampingi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Pratikno berdialog dengan keluarga korban di lokasi kejadian. Keluarga korban yang sejak awal mengikuti proses pencarian menyatakan siap menerima hasil evakuasi.

“Tidak mudah memang bagi keluarga korban, tetapi mereka memahami kondisi di lapangan dan mendukung langkah ini,” kata Suharyanto.

Pada Rabu (1/10) malam, tim SAR gabungan masih mengandalkan metode manual untuk mengevakuasi korban. Saat itu, tujuh korban berhasil dievakuasi, lima di antaranya selamat dan dua lainnya meninggal dunia.

Namun, karena kondisi bangunan tidak stabil dan peluang menemukan korban selamat semakin tipis, operasi penyelamatan dialihkan ke tahap evakuasi korban meninggal dengan bantuan alat berat.

“Langkah ini diambil untuk mempercepat pencarian, sekaligus mengurangi risiko bagi petugas di lapangan,” jelasnya.


Editor : Firda Rachmawati