Kembali Gelar Talkshow Literasi Digital, Kemenkominfo Ajak Masyarakat Tangkal Radikalisme di Media Sosial

Pemerintah pusat melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengajak masyarakat, untuk sama-sama menangkal radikalisme di media sosial, dalam talkshow literasi digital di Kabupaten Bekasi baru-baru ini.

Kembali Gelar Talkshow Literasi Digital, Kemenkominfo Ajak Masyarakat Tangkal Radikalisme di Media Sosial

INILAHKORAN, Bandung - Pemerintah pusat melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengajak masyarakat, untuk sama-sama menangkal radikalisme di media sosial, dalam talkshow literasi digital di Kabupaten Bekasi baru-baru ini.

Talkshow literasi digital yang dibarengi dengan istighosah dan doa bersama memeringati Hari Jadi Kabupaten Bekasi ke 74 ini, melibatkan puluhan ribu Komunitas Pecinta Dakwah di Lapangan Plaza Pemerintah Kabupaten Bekasi.

Trainer Kemenkominfo Aidil Wicaksono terkait etika digital memaparkan, radikalisme di media sosial memiliki beberapa bentuk, seperti provokasi, menyebarkan kebencian dan ajakan melakukan kekerasan.

"Dampaknya sangat serius, termasuk polarisasi, perpecahan dan ancaman terhadap keamanan nasional. Berpikir kritis adalah kunci untuk menghindari pengaruh radikalisme di media sosial. Kita perlu memeriksa sumber informasi, mencocokkan dengan fakta dan menghindari bias dalam menilai konten," kata Aidil.

Sementara Pemateri Budaya Digital Ismita Putri menyampaikan, pergeseran interaksi, mendapatkan informasi dan membentuk opini dari sosial media, memberi celah berkembangnya radikalisme.

Media sosial yang memiliki akses cepat dalam informasi dan berita, juga memiliki kekurangan yakni faktualitas. Dimana tidak sedikit informasi menyesatkan beredar di media sosial.

Selain itu, platform media sosial yang dapat memfasilitasi pembentukan komunitas online, juga dinilainya dapat menjadi tempat tumbuh kembang ideologi ekstrem dan radikalisme.

"Penting untuk membangun budaya digital yang sehat, dengan mempromosikan nilai-nilai toleransi dan dialog untuk menciptakan ruang digital yang aman dan damai, serta meningkatkan literasi digital masyarakat untuk menjadi pengguna media sosial yang bijak dan bertanggung jawab," ucapnya.

Sedangkan Rizky Ardi Nugroho, yang mengupas tentang aman digital menjelaskan, kini mayoritas masyarakat semakin nyaman dengan digitalisasi karena menawarkan kemudahan dan praktis. Salah satunya dalam pengelolaan finansial mereka.

Di balik kemudahan itu kata Rizky, ada bahaya yang mengancam bila masyarakat tidak waspada. Penipuan dan pencurian akun berpotensi terjadi, sehingga diperlukan pemahaman masyarakat terkait keamanan digital.

"Tidak hanya bertujuan untuk melindungi data yang kita miliki, tetapi juga untuk menjaga kerahasiaan informasi pribadi yang sangat penting. Sebab di dunia digital, tidak ada yang bisa  menjamin keamanan 100 persen, tapi kita bisa  berusaha mengurangi risikonya sebanyak mungkin. Meskipun kadang dianggap rumit, tapi sedikit hati-hati bisa membuat kita jauh lebih aman," terangnya.

Talkshow literasi digital bertajuk tangkal radikalisme di media sosial ini merupakan rangkaian kegiatan Kemenkominfo, guna meningkatkan pengetahuan masyarakat agar waspada terhadap konten di media sosial.

Sekaligus upaya Kemenkominfo untuk meningkatkan literasi digital 50 juta masyarakat di 2024, menuju Indonesia #MakinCakapDigital.

Berdasarkan hasil survei, Indeks Literasi Digital Nasional pada 2022 naik sebesar 0,05 poin menjadi 3,54 dari capaian indeks di 2021. Ada tiga pilar yang meningkat, yaitu Pilar 1 (Digital Skill) naik sebesar 0,08 poin, Pilar 2 (Digital Ethics) naik sebesar 0,15 poin dan Pilar 3 (Digital Safety) naik 0,02 poin. Namun Pilar 4 (Digital Culture) menurun sebesar 0,06 poin.

Pola pada pilar ini tidak mengalami perubahan dari tahun sebelumnya. Secara umum urutan pada tiap indikator memiliki urutan yang sama, walaupun terdapat kecenderungan penurunan pada tiap indikator pada indikator teratas.

Seperti penyesuaian cara berkomunikasi agar kedua pihak tidak tersinggung mengalami penurunan dari 3,82 (2021) menjadi 3,81 (2022). Sedangkan indikator dengan nilai indeks terendah cenderung mengalami kenaikan. Seperti keterbiasaan mencari tahu apakah informasi yang ditemukan di website benar atau salah naik dari 3,05 (2021) menjadi 3,25 (2022).

Walaupun secara umum terdapat kenaikan indikator, namun pengetahuan responden mengenai perangkat keras dan lunak mengalami penurunan dari tahun sebelumnya.

Pengetahuan perangkat keras mengalami sedikit penurunan dari 49 persen menjawab benar, menjadi 42 persen menjawab benar. Begitu juga pengetahuan tentang perangkat lunak yang mengalami penurunan dari 48 persen menjawab benar, menjadi 45 persen menjawab benar.  ***


Editor : Ahmad Sayuti