Kerek Daya Saing, Benahi Supply Chain Management
Guna meningkatkan daya saing terhadap produk-produk dalam negeri, pemerintah perlu memberikan perhatian Supply Chain Management.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Jakarta - Guna meningkatkan daya saing terhadap produk-produk dalam negeri, pemerintah perlu memberikan perhatian Supply Chain Management.
Sebab, meskipun ada permintaan yang kuat dari pasar ekspor seringkali produk-produk dalam negeri gagal memenuhi permintaan tersebut akibat Supply Chain Management yang tidak mampu dikelola dengan baik.
Demikian disampaikan I Made Adnyana, Ketua Program Studi Manajemen S2 MM, Sekolah Pascasarjana Universitas Nasional, dalam Focuss Group Discussion (FGD) diselenggarakan Pusat Kajian Sosial Politik (PKSP) dan Program Studi Hubungan Internasional, FSIP, Universitas Nasional, Jakarta.
Adnyana mengingatkan, dalam Supply Chain Management (SCM), ada integrasi kepentingan antara perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam memasok bahan baku, memproduksi maupun mengirimkannya ke pemakai akhir. "Pendekatan yang ditekankan dalam SCM adalah terintegrasi dengan semangat kolaborasi," kata Adnyana, Senin (25/11/2019).
Meski kelihatannya sederhana, dalam banyak hal gagal memenuhi kebutuhan pasar lokal maupun pasar ekspor, karena ketidakpastian rantai pasok yang disebabkan oleh bebagai hal, termasuk aspek permintaan (demand) maupun aspek pasokan (supply).
Dia mencontohkan, biaya pengangkutan sapi dari Nusa Tenggara Barat (NTB) ke Jakarta, mencapai 40% lebih mahal ketimbang dari Australia. Sedangkan biaya pengiriman daging sapi dari Nusa Tenggara Timur (NTT) hampir 4 kali lipat dibandingkan dari Australia.
Demikian juga, biaya pengangkutan ikan dari Ambon ke Surabaya rata-rata Rp1.800 per kilogram. Sementara dari China ke Surabaya rata-rata hanya Rp700 per kilogram.
Selain itu, adanya ketidakmampuan eksportir memenuhi permintaan pasar ekspor karena tingginya biaya pengiriman dan ketidakmampuan mempertahankan mutu produk akibat tidak mampu menjaga rantai pasok komoditas.
Faktor-faktor tersebut, jelas Adnyana, jelas diluar kemampuan produsen dalam negeri untuk menyelesaikannya. Pemerintah perlu turun tangan untuk menyelesaikan faktor-faktor di luar produksi tetapi pada ujungnya berpengaruh terhadap harga dan kualitas produk dalam negeri itu.
Apabila rantai pasok komoditas tidak dibenahi, Adnyana mengingatkan, bisa terjadi ancaman ketersediaan dan daya saing komoditas lokal, sehingga akan mengganggu ketahanan dan kedaulatan pangan nasional.
Menurut Adnyana, saat ini merupakan momentum tepat perencanaan penyelenggara pangan melalui perbaikan rantai pasok dengan mengacu kepada Undang-Undang Pangan. "Penyelenggaraan pangan harus dilakukan secara adil, merata, dan berkelanjutan berdasarkan kedaulatan pangan, kemandirian pangan, ketahanan pangan," tegas Adnyana. [ipe]
Editor : Bsafaat

