Ketika Dunia Kembali Terlihat Jernih
DUNIA Alufia perlahan kembali jernih. Sepasang kacamata membantunya mengikuti pelajaran tanpa harus menyipitkan mata.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Sebelum bel pulang berbunyi, rasa lelah lebih dulu datang. Dari bangku kelas 9 SMP Negeri 3 Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, Alufia Putri Hariyansyah kerap menyipitkan mata setiap kali menatap papan tulis.
Huruf-huruf di kejauhan tak selalu terbaca jelas. Ia harus mendekatkan wajah, menebak tulisan guru, lalu kembali berusaha mengikuti pelajaran dengan pandangan yang terbatas.
Minus 1,75 di kedua matanya membuat proses belajar tidak selalu mudah.
Kondisi itu berlangsung cukup lama hingga sebuah pemeriksaan mata menyeluruh datang ke sekolahnya.
“Belajar itu terganggu.
Kalau melihat papan memang harus menyipitkan mata,” kata Alufia saat ditemui usai pembagian kacamata gratis di PT Rohto Laboratories Indonesia, Cimareme, Kamis (8/10).
Kini, sepasang kacamata bertengger di wajahnya.
Pandangan yang sebelumnya kabur perlahan menjadi lebih jelas.
Alufia menjadi salah satu dari enam siswa di kelasnya yang mendapat pemeriksaan mata sekaligus kacamata gratis. Prosesnya dimulai dari pendaftaran, pemeriksaan ketelitian penglihatan hingga memilih bingkai yang sesuai.
“Prosesnya gampang banget. Langsung daftar, antre, periksa, selesai.
Bingkainya juga gratis. Saya sangat bersyukur,” ujarnya.
Bagi Alufia, kacamata itu bukan sekadar benda baru. Ada papan tulis yang kini lebih mudah dibaca dan pelajaran yang bisa diikuti dengan lebih nyaman. Dia pun berharap kesempatan serupa bisa dirasakan siswa lain.
“Semoga program ini terus berlanjut, membantu siswa-siswi lain agar belajarnya lebih semangat lagi,” katanya.
Cerita Alufia menjadi bagian kecil dari persoalan penglihatan yang ditemukan melalui program Rohto Peduli “Joy of Seeing”. Di balik ribuan pemeriksaan, terdapat anak-anak yang bertahun-tahun tidak memeriksakan mata.Bahkan ada yang tetap menggunakan kacamata rusak karena tidak mampu membeli pengganti.
Presiden Direktur PT Rohto Laboratories Indonesia, Mukdaya Massid mengatakan, persoalan penglihatan pada anak kerap tidak terlihat karena sebagian siswa memilih diam.
Padahal, gangguan tersebut dapat perlahan memengaruhi proses belajar.
“Program ini menyisir tanpa membuat mereka merasa segan atau malu.
Ada yang kacamatanya diselotip, ada yang sudah lama tidak periksa. Setelah diperiksa dan diberi kacamata yang tepat, mereka bisa melihat normal kembali,” kata Mukdaya.
Persoalan penglihatan juga mengubah cara guru membaca perilaku siswanya.
Anak yang sering menyipitkan mata, menunduk ketika membaca atau mulai tertinggal pelajaran tidak selalu berarti kehilangan konsentrasi. Bisa jadi, ada sesuatu yang tidak terlihat jelas dari bangku guru: pandangan yang mulai kabur.
Edukasi mengenai kesehatan mata pun menjadi bagian dari program. Anakanak diingatkan untuk mengurangi durasi menatap layar gawai, memberi jeda bagi mata dan lebih sering berkedip agar mata tidak mudah kering.
Tahun kelima pelaksanaan program sekaligus momentum 30 tahun Rohto di Indonesia, jangkauannya diperluas. Bertepatan dengan Hari Penglihatan Sedunia pada 8 Oktober 2026, sebanyak 2.000 pasang kacamata dibagikan secara cuma-cuma, meningkat dari 1.200 pasang pada tahun sebelumnya.
Program yang berlangsung sejak 8 September itu menyasar pelajar, warga lanjut usia hingga tenaga kerja di lingkungan pabrik. Sebelum menerima kacamata, lebih dari 3.000 peserta menjalani pemeriksaan ketajaman penglihatan.
Pemeriksaan menggunakan perangkat refractometer dan phoropter untuk memastikan lensa yang diberikan sesuai dengan kondisi masing-masing penerima.
Dari total 2.000 pasang kacamata, sebanyak 1.500 pasang dialokasikan bagi siswa SD dan SMP di 15 sekolah yang tersebar di Bandung, Purwokerto, Malang, Surabaya hingga Jember.
Sementara 500 pasang lainnya diberikan kepada lansia di sekitar kawasan pabrik Cimareme dan Laksana Mekar, Kabupaten Bandung Barat, serta operator pabrik yang membutuhkan.
“Kami yakin kegiatan ini menjangkau mereka yang benar-benar membutuhkan alat bantu penglihatan dalam proses belajar,” kata Mukdaya di PT Rohto Laboratories, Cimareme, Kamis (8/10).
Namun, kepedulian tidak berhenti pada kacamata.
Gangguan penglihatan yang lebih serius juga menjadi perhatian melalui bakti sosial operasi katarak gratis di delapan titik, dengan target 500 pasien.
Lokasinya tersebar di Jakarta, Banten, Makassar, Surabaya, Malang, Solo hingga Semarang. Penanganan dilakukan bersama tim dokter spesialis mata di masing-masing daerah.
“Bakti sosial operasi katarak gratis digelar di 8 titik dengan target 500 pasien, bekerja sama dengan tim dokter spesialis mata di daerah masingmasing,” ungkapnya.
Rangkaian kegiatan juga mencakup kerja bakti lingkungan, donor darah, serta bantuan bagi panti disabilitas dan panti anak berkebutuhan khusus.
Program tersebut didukung Pesona Optic untuk memastikan ketepatan pemeriksaan dan kualitas lensa, serta Bank Resona Perdania yang telah berpartisipasi sejak 2024.
Bagi seorang pelajar seperti Alufia, pandangan yang kembali jernih berarti kesempatan untuk membaca papan tulis tanpa menyipitkan mata. Dia pun bisa mengikuti pelajaran lebih nyaman dan menatap masa depan dengan lebih percaya diri.
“Dari anak yang baru belajar membaca hingga lansia yang ingin melihat wajah cucunya dengan jernih, Rohto menegaskan bahwa penglihatan yang sehat merupakan hak semua kalangan,” pungkasnya.
(agus satia negara/gin)
Editor : Inilahkoran
