Kini, Mata Pelajaran Informatika Ajak Siswa Berpikir Komputasi

INILAH, Jakarta – Siswa di sekolah akan mulai mendapatkan kembali mata pelajaran informatika. Kali ini materi yang diajarkan akan lebih berbobot kepada ajakan agar siswa mampu berpikir komputasi.

Kini, Mata Pelajaran Informatika Ajak Siswa Berpikir Komputasi
Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Atas (SMA) Kemendikbud Purwadi
INILAH, Jakarta – Siswa di sekolah akan mulai mendapatkan kembali mata pelajaran informatika. Kali ini materi yang diajarkan akan lebih berbobot kepada ajakan agar siswa mampu berpikir komputasi. 
 
Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Atas (SMA) Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Purwadi mengatakan, mata pelajaran informatika akan mulai kembali diajarkan mulai tahun ajar 2019/2020.
 
Namun Purwadi menjelaskan, mata pelajaran informatika kali ini tidak lagi membahas atau memperkenalkan siswa kepada bagaimana caranya menggunakan aplikasi ketik-mengetik atau membuat tabulasi di komputer. Melainkan mempelajari pemograman, algoritma, ataupun robotic pada tingkat lanjut.
 
Lebih lanjut dia menerangkan berpikir komputasi merupakan salah satu metode pemecahan masalah dengan melibatkan teknik yang digunakan oleh para ahli perangkat lunak dalam menulis sebuah program. 
“Informatika menjawab tantangan di era globalisasi seperti saat ini,” kata Purwadi kepada wartawan di Jakarta, Kamis (7/2/2019).
 
Dia melanjutkan, untuk menjawab tantangan zaman maka kurikulum pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhannya. Salah satu cara lainnya yang telah dilakukan Kemendikbud adalah dengan mendidik siswa di sekolah berdasarkan bakat yang dimilikinya. Hal ini sesuai dengan Kurikulum 2013 yang berlaku.
 
Dampak Revolusi Industri 4.0, kata Purwadi, membawa tantangan bagi sistem pendidikan Indonesia dengan adanya perubahan paradigma pola pikir, pola rasa, dan pola tindakan dalam berkomunikasi, bekerja, belajar, dan juga gaya hidup sampai dengan budaya.
 
Sementara pemerhati pendidikan Yohana Elizabeth Hardjadinata mengatakan, berdasarkan hasil penelitian Indonesia Career Center Network (ICCN) tahun 2017 disebutkan 87% mahasiswa Indonesia mengakui bahwa jurusan yang diambil tidak sesuai dengan minatnya. Sedangkan 71,7% pekerja berprofesi tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya.
 
Disebutkan bahwa siswa yang salah memilih jurusan kuliah akan berdampak pada ketidakmaksimalan dalam pekerjaan atau profesi yang akan digeluti. Sehingga yang bersangkutan tidak dapat berprestasi. 
 
Selain itu, kemampuan dan keterampilan yang dimiliki tidak berkembang dengan baik. Sebaliknya, mereka yang bekerja pada bidang yang diminati pasti akan lebih mencintai dan bahagia dalam menjalankan pekerjaannya. “Dampak selanjutnya, yang bersangkutan akan bekerja lebih giat dan punya rasa tanggung jawab yang tinggi,” kata Yohana.


Editor : inilahkoran