Kisah-kisah Mantan TKI Jadi Pengusaha di Jawa Barat
PEKERJA migran itu tak melulu penderitaan. Dia sejatinya adalah peluang. Tak sedikit dari mantan TKI itu yang kini jadi pengusaha.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
PEKERJA migran itu tak melulu penderitaan. Dia sejatinya adalah peluang. Tak sedikit dari mantan TKI itu yang kini jadi pengusaha.
Tak mungkin Ujang Suryana melupakan pengalaman itu. Empat tahun dia meninggalkan Kabupaten Garut. Dia terima kesempatan menjadi pekerja migran. Korea Selatan, negara di semenanjung Pasifik itu jadi tujuannya.
Datang pada 2010, dia baru pulang kembali pada 2014. Selama empat tahun itu, Ujang bekerja keras di Negeri Ginseng. Won demi won dia kumpulkan. Dia pelajari pula bagaimana perilaku kerja keras masyarakat Korea Selatan.
Pulang ke Garut, Ujang tak ingin won-won yang dia kumpulkan itu, pelan-pelan habis dengan sia-sia. Tak lama setelah berada kembali di kampung halaman, ide tercetus dalam benaknya. Dia harus berusaha. Bukankah Garut kaya dengan sumber daya alam yang bisa dijadikan bahan baku?
Ujang juga merasa beruntung. Ketika dia pulang, di Kabupaten Garut sudah ada Komunitas Keluarga Buruh Migran (KKBM). Komunitas inilah yang dijadikan Ujang sebagai wadah untuk bereksplorasi mewujudkan mimpinya.
Ujang pun menyebut parfum kopi produknya sebagai Kogar. Produknya ini termasuk salah satu yang dipajang pada Gelar Produk PMI Purna 2019 di Kantor Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Bandung, Kota Bandung, Senin (16/12).
“Kogar itu ada artinya Kopi Orang Garut,” ujar Ujang, tersenyum.
Ujang mengatakan, sebagai pelaku usaha yang mengandaklan kopi sebagai bahan baku, dirinya memang harus bersaing dengan produk-produk sejenis. Terlebih, produsen lain sudah menggeluti produk kopi lebih dulu dan memiliki modal yang cukup besar.
Ujang tidak ingin kalah sekalipun dia mengawali dengan modal minim. Salah satu caranya yaitu dengan mengedepankan produk turunan dari kopi.
“Karena yang bermain di kopi sudah banyak, jadi saya lari ke produk turunan seperti parfum kopi, minuman dari kulit kopi, atau cascara. Selain itu juga ada ekstrak herbal seperti bahan baku untuk parfum, sabun, dan lain-lain,” paparnya.
Khusus cascara, Ujang mengolah kulit biji kopi tersebut menjadi teh yang dapat diseduh. Itu diawali setelah dia melihat banyaknya kulit biji kopi yang dibuang ketika proses produksi.
“Sayang sekali kalau dibuang. Karena itu kami manfaatkan untuk diseduh seperti teh,” ucapnya.
Sejauh ini, dia mengandalkan dua jenis kopi, yaitu arabika dan robusta untuk produknya. Produk yang dijual dibanderol dengan kisaran harga Rp5 ribu hingga Rp25 ribu. Harga tertinggi adalah parfum aroma kopi ukuran 60 mili.
“Kami benar-benar murni tanpa esense atau kimia, tapi 100% wanginya dari kopi asli. Kalau parfum ini saya menggunakan jenis robusta,” katanya.
Sejauh ini terdapat tiga lokasi di Kabupaten Garut yang kerap Ujang datangi untuk mendapatkan bahan baku kopi, yaitu Wanaraja, Cikajang dan Bayongbong. Kendati demikian, dia belum dapat memproduksi seluruh produknya ini secara masal.
“Menjualnya juga baru lewat bazar-bazar atau kegiatan yang seperti sekarang. Kami belum menjual online karena belum produksi masal,” katanya.
Kendati demikian, dia menambahkan, tahun depan pihaknya akan memulai produksi parfum kopi secara masal. Dengan begitu, pihaknya lebih percaya diri untuk memasarkan hingga skala besar.
“Rencananya tahun depan, parfum ini akan kita produksi masal,” tambahnya.
Ujang hanyalah satu di antara 11 kelompok KKBM dan tiga komunitas Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang memamerkan produknya di Kantor Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Bandung, Kota Bandung itu.
Selaim parfum kopi, sejumlah produk usaha karya mantan pekerja migran yang dipamerkan pada acara tersebut ialah keripik tempe "Tempe Kojo", keripik sukun, opak, kopi gandasari, kerajinan akar wangi, yoghurt, baso aci mangbhubhu, kerudung, jamu, obat tradisional dan lain-lain.
Kepala BP3TKI Bandung, Delta mengatakan kegiatan tersebut digelar sebagai bentuk dukungan BP3TKI Bandung bagi komunitas-komunitas PMI Purna di Jawa Barat.
“Kegiatan ini merupakan bentuk dukungan dari BP3TKI Bandung kepada komunitas-komunitas PMI purna di Provinsi Jawa Barat agar lebih percaya diri dalam mengembangkan usaha mereka masing-masing,” kata dia.
Selain itu, kata dia, acara ini juga menjadi jembatan bagi para komunitas agar bisa membangun jejaring bisnis dengan dinas dan pemangku kepentingan lain.
Sejak tahun 2011, kata dia, melalui kegiatan edukasi keuangan dan kewirausahaan yang terselenggara di 19 kabupaten di Provinsi Jawa Barat, BP3TKI Bandung telah mempunyai 4.950 anggota binaan PMI Purna yang terbagi dalam 180 kelompok/paguyuban.
Namun dalam perjalanannya, lanjut dia, beberapa kendala yang kerap muncul antara lain terkait pembiayaan/modal usaha, distribusi dan pemasaran produk, kemasan produk dengan nilai jual rendah, hingga legalitas produk usaha.
“Maka dari itu, hari ini kami bersama dengan BNI menyelenggarakan kegiatan gelar produk PMI Purna,” kata dia.
Delta mengatakan tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memperkenalkan produk-produk yang dihasilkan dari kegiatan wirausaha para PMI Purna beserta keluarganya kepada setiap stakeholder dan tamu undangan.
“Dengan demikian, diharapkan akan terjadi sinergi program untuk ke depannya antara komunitas PMI Purna dengan stakeholder yang hadir,” kata dia.
Acara ini juga dihadiri Deputi Perlindungan BNP2TKI, perwakilan BP3TKI Jakarta, BP3TKI Serang, perwakilan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Barat, Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Provinsi Jawa Barat, APJATI, OJK, OK OCE, Bank Indonesia dan pihak perbankan, juga beberapa perusahaan e-commerce dan retail.
Ke-11 KKBM yang terlibat antara lain KKBM Kabupaten Subang, KKBM Kabupaten Garut, KKBM Kabupaten Indramayu (Majasih), KKBM Kabupaten Indramayu (Sukra), KKBM Kabupaten Majalengka, KKBM Kabupaten Kuningan, KKBM Kabupaten Purwakarta, KKBM Kabupaten Cirebon, KKBM Kabupaten Sukabumi, KKBM Kabupaten Karawang, juga KKBM Kabupaten Sumedang.
Sedangkan tiga komunitas PMI Purna yang terlibat diantaranya adalah Komunitas PMI Purna wilayah Priangan Timur, Komunitas PMI Purna di Kabupaten Bandung, Komunitas PMI Purna di Kabupaten Bandung Barat serta Komunitas PMI Purna di Kabupaten Cianjur.
Kegiatan Gelar produk PMI Purna bersama BNI ini terbagi menjadi tiga kegiatan utama, yaitu pasar bebas produk PMI Purna yakni talkshow bersama narsumber dari MUI, Dinas Koperasi dan Usaha Kecil, Bank Indonesia, cooking class dengan peserta dari 11 Kelompok Komunitas Buruh Migran (KKBM). (rianto nurdiansyah/ing)
Editor : Zulfirman

