KITA Hadirkan Politik Kesadaran
Kerapatan Tanah Air Indonesia (KITA) merupakan koalisi independen yang mengembangkan, dan melestarikan tanah air Indonesia. Tak hanya itu, KITA juga merupakan gerakan politik kesadaran.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Kerapatan Tanah Air Indonesia (KITA) merupakan koalisi independen yang mengembangkan, dan melestarikan tanah air Indonesia. Tak hanya itu, KITA juga merupakan gerakan politik kesadaran.
"KITA bergerak pada sebuah gerakan yang lebih optimistis memberikan masukan yang lebih konstruktif dan kita ingin mengajak semua kalangan bahwa pandemi ini memang sesuatu yang harus dihadapi bersama," kata Ketua Badan Kebijakan KITA Maman Imanul Haq, Rabu (9/9/2020).
Menurutnya, KITA merupakan gerakan yang tidak mengandalkan kerumunan lalu membuat narasi-narasi keputusasaan. KITA sendiri terdiri dari 17 Majelis Hikmah, delapan Dewan Kebijakan dan 19 Gugus Karsa.
"Nah anak-anak muda ini yang akan mengolah data isu-isu strategis soal kemiskinan ekstrim soal gotong royong, soal bagaimana Indonesia ke depan ini terus bergerak dan mereka melakukan rapat-rapat Reboan secara rutin," ucapnya.
Lebih lanjut Maman mengatakan, KITA bergerak dengan sebuah ide gagasan dan juga pemikiran positif tentang Indonesia dan disosialisasikan, serta dikomunikasikan dengan menteri terkait lembaga dan tentunya masyarakat.
Sementara itu, Ketua Majelis Hikmah KITA Taufik Rahzen mengatakan, di masa pandemi Covid-19 membuat tatanan masyarakat berubah secara mendalam. Normalitas baru membutuhkan moralitas baru. Masyarakat baru memerlukan etika yang baru, baik dalam kehidupan sosial maupun praktik politik.
Pada saat menjaga jarak fisik menjadi aturan sehari-hari, disebut dia, kerapatan batin para warga menjadi syarat kehidupan baru. Kerapatan batin ini yang sering kita sebut ikatan batin atau solidaritas. KITA pada dasarnya upaya memperteguh solidaritas bangsa.
"Karena itu, KITA bergerak di ranah politik-kesadaran, bukan kesadaran-politik. Yang pertama lebih mementingkan aspek kesadaran, yang mengutamakan solidaritas dan persatuan. Sementara yang kedua, kesadaran politik lebih mementingkan kekuasaan dan identitas kelompok," ujar dia. (Yogo Triastopo)
Editor : Doni Ramdhani

