KJA Ramah Lingkungan untuk Citarum Harum

Setiap sektor memiliki peran penting untuk mewujudkan Citarum harum. Tak terkecuali Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jawa Barat yang turut mendukung program tersebut bekerjasama dengan Kementerian Kelautan. 

KJA Ramah Lingkungan untuk Citarum Harum

INILAH, Bandung- Setiap sektor memiliki peran penting untuk mewujudkan Citarum harum. Tak terkecuali Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jawa Barat yang turut mendukung program tersebut bekerjasama dengan Kementerian Kelautan. 

Salah satunya yaitu dengan mengkaji percontohan Keramba Jaring Apung (KJA) ramah lingkungan yang merupakan hasil penelitian badan riset pada sejumlah Unit Pelaksana Teknis (UPT) kelautan dan perikanan.  

Kepala Dinas DKP Jabar Jafar Ismail mengatakan, pihaknya akan mencoba KJA ramah lingkungan ini bakal diaplikasikan pada sejumlah waduk. Di antaranya Cirata dan Jatiluhur. 

"Gunanya bagaimana supaya pakan yang diberikan kepada ikan itu tidak mengotori lingkungan dengan cara menampung sisa sisa pakan di bawah," ujar Jafar, Rabu (4/3/2020).

Menurut Jafar, hal ini juga merupakan upaya DKP Jabar dalam mendukung kebijakan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang telah mengeluarkan Surat Keputusan Nomor: 660.31/Kep.923-DKP/2019 tertanggal 1 November 2019 tentang Jumlah KJA di Waduk Cirata, Waduk Saguling dan Waduk Jatiluhur yang memenuhi daya dukung lingkungan.

Adapun jumlah kuota KJA di tiga waduk tersebut yaitu, untuk Waduk Cirata, paling banyak 7.204, kemudian di Waduk Saguling, paling banyak 3.282, sedangkan di Waduk Jatiluhur paling banyak 11.306 KJA.

"Itu salah satu upaya kita dan dari kementerian kelautan untuk jaring jaring itu tetap digunakan di KJA tetapi tidak mencemarkan lingkungan," katanya.

Secara teknis, Jafar memaparkan, KJA ramah lingkungan ini dapat menampung sisa sisa pakan ikan. Sehingga akan meminimalisir pencemaran lingkungan sekaligus turut mendorong realisasi program Citarum Harum. 

"Jadi KJA ramah lingkungan inu di bawahnya ada lagi jaring yang menampung sisa pakan itu dan itu ditarik disedot lalu dikeluarkan," katanya.

Saat ini, menurut dia, KJA ramah lingkungan ini baru diujicobakan di waduk Cirata dan Jatiluhur. Adapun di masing-masing lokasi terdiri dari dua unit. 

"Satu unitnya itu empat petak jadi mungkin hanya delapan petak," katanya. 

Dia menargetkan, kelak KJA ramah lingkungan tersebut dapat diaplikasikan di tiga waduk. "Diharapkan semua yang di Jatiluhur, Cirata dan Saguling bisa memanfaatkan teknologi ini sehingga air di waduk itu tidak tercemar oleh sisa pakan," paparnya.

Disinggung seberapa besar tingkat ketercemaran dari sisa pakan ikan KJA, menurut Jafar, untuk mengetahui itu perlu adanya kajian yang mendalam.  Pihaknya tidak dapat berspekulasi, namun dengan upaya ini diharapkan dapat meminimalisir pencemaran yang  terdapat di sejumlah waduk tersebut.   

"Karena waduk itu ada limbah masuk dari luar, dan limbah  pabrik juga masuk situ," katanya.

Lebih lanjut, selain sedang mematangkan konsep KJA ramah lingkungan pihaknya pun baru berkoodinasi dengan sejumlah stakeholder, di antaranya dengan Satgas Citarum Harum dan Bappenas. Hal tersebut untuk mengkaji alih usaha bagi pelaku KJA. 

Untuk tahun ini, Jafar mengaku, memang belum tertera anggaran untuk alih usaha, mengingat urusan budidaya perikanan merupakan wewenang dari kabupaten kota. Sehingga tidak bisa dianggarkan melaui DPA dinas DKP Provinisi Jabar.

"Harusnya bentuknya bantuan keuangan dari provinsi ke kabupaten kota. Tapi Setelah konsultasi dengan bappeda, bahwa bantuan itu ditujukan untuk yang kegiatan sifatnya fisik. Sementara yang diminta adalah bantuan untuk modal alih usaha," paparnya.

Dia melanjutkan, tidak semua pembudidaya jaring apung meminta alih usaha kembali ke bidang perikanan. Namun ada juga yang meminta beralih ke bidang yang lain. 

"Sehingga kemarin itu diusulkan juga dari sektor-sektor lain, di Disnakertrans, peternakan dan lain lain," ungkapnya. 

Namun untuk pembudidaya yang masih tetap ingin melanjutkan di sektor perikanan, sistem bioflok menjadi salah satu solusi yang ditawarkan oleh DKP Jabar. Dengan begitu dapat tetap membudidayakan ikan di darat.

"Jadi kolamnya tidak menggunakan kolam tanah, dan dipelihara dalam air yang tidak mengalir tapi kita menggunakan bakteri di sana yang bisa menguraikan pakan pakan agar tidak menjadi racun," katanya seraya menyebut sistem ini sudah memiliki percontohan yang dilakukan oleh Badan Pengelola Waduk Cirata (BPWC) bekerjasama dengan pabrik pakan. (riantonurdiansyah) 


Editor : Bsafaat