Kolaborasi Bandung dan Jawa Barat, Tunawisma Dapat Peluang Hidup Lebih Baik

Penanganan tunawisma di Kota Bandung, tidak lagi sekadar penertiban di jalanan. Di balik upaya itu, terdapat koordinasi intens antara Dinas Sosial (Dinsos) Kota Bandung dan Dinsos Provinsi Jawa Barat memberikan rehabilitasi sosial dan kesempatan hidup yang lebih baik bagi mereka yang membutuhkan.

Kolaborasi Bandung dan Jawa Barat, Tunawisma Dapat Peluang Hidup Lebih Baik
koordinasi intens antara Dinas Sosial (Dinsos) Kota Bandung dan Dinsos Provinsi Jawa Barat memberikan rehabilitasi sosial dan kesempatan hidup yang lebih baik bagi mereka yang membutuhkan.

INILAHKORAN.ID - Penanganan tunawisma di Kota Bandung, tidak lagi sekadar penertiban di jalanan. Di balik upaya itu, terdapat koordinasi intens antara Dinas Sosial (Dinsos) Kota Bandung dan Dinsos Provinsi Jawa Barat memberikan rehabilitasi sosial dan kesempatan hidup yang lebih baik bagi mereka yang membutuhkan.

“Setelah ditertibkan, kami memberikan rehabilitasi sosial dasar. Untuk tunawisma yang berasal dari luar Kota Bandung, kami kembalikan ke daerah asalnya. Sementara untuk warga Kota Bandung, kami cek administrasi kependudukan, kebutuhan dasar dan kondisi sosialnya," kata Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial, Dinsos Kota Bandung, Irvan Alamsyah, Rabu 14 Januari 2026.

Dari hasil asesmen tersebut, Dinsos Kota Bandung akan menindaklanjuti dengan intervensi lanjutan atau merujuk yang bersangkutan untuk rehabilitasi sosial di panti dengan berkoordinasi bersama Dinsos Provinsi Jawa Barat.

Program itu, telah berjalan setiap tahun. Tahun lalu, beberapa tunawisma termasuk yang dikenal sebagai “manusia gerobak” dirujuk ke panti milik Provinsi Jawa Barat. Mereka menerima pelatihan keterampilan, bantuan modal usaha, peralatan kerja dan fasilitas tempat tinggal sementara.

Meski jumlah pastinya tahun lalu belum tersedia, tahun ini dua keluarga baru telah diusulkan. “Usulan berasal dari Dinas Sosial Kota Bandung, khusus untuk warga Kota Bandung. Sementara untuk tunawisma dari luar kota, kami kembalikan ke daerah asal masing-masing,”ucapnya.

Tidak semua keluarga yang dirujuk adalah tunawisma sejati. Beberapa masih memiliki tempat tinggal, tetapi tetap mengikuti program pelatihan di panti selama tiga sampai empat bulan. “Seluruh kegiatan dilakukan di dalam panti, dan kami terus berkoordinasi dengan pihak provinsi,” ujar dia.

kolaborasi tersebut, menunjukkan penanganan tunawisma tidak cukup hanya bersifat lokal. Dengan sinergi antara kota dan provinsi, mereka yang sebelumnya hidup di jalanan kini mendapatkan akses pelatihan, dukungan ekonomi dan pendampingan sosial yang berkelanjutan.

"Bagi kami, koordinasi lintas daerah adalah kunci agar program rehabilitasi sosial tidak hanya menjadi solusi sementara. Tetapi memberi peluang nyata bagi warga untuk membangun kembali hidup mereka," tandasnya.***


Editor : JakaPermana