Konflik Internal Tak Kunjung Usai, Farhan Ancam Evaluasi Izin Kebun Binatang Bandung
Kebun Binatang Bandung terpaksa menghentikan operasionalnya pada Kamis 3 Juli 2025, akibat konflik internal antara manajemen lama dan manajemen baru yang tak kunjung selesai.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Kebun Binatang Bandung terpaksa menghentikan operasionalnya pada Kamis 3 Juli 2025, akibat konflik internal antara manajemen lama dan manajemen baru yang tak kunjung selesai.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyatakan, kekecewaannya atas situasi tersebut dan menegaskan bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung tidak akan lagi memfasilitasi mediasi.
"Saya sudah capek memediasi. Sudah berkali-kali turun tangan, tapi selalu berakhir konflik. Silakan selesaikan sendiri. Tunjukkan bahwa anda dewasa," kata Farhan pada Kamis 3 Juli 2025.
Menurutnya, konflik internal yang terus berlangsung bukan hanya menghambat operasional kebun binatang. Tetapi juga berdampak langsung pada kesejahteraan satwa. Pihaknya menilai, para pengelola gagal menunjukkan tanggung jawab mereka sebagai pemegang izin konservasi.
"Inilah momen yang pas untuk menunjukkan tanggung jawab. Izin konservasi itu diberikan kepada yayasan, bukan kepada pemerintah. Buktikan bahwa anda layak," ucapnya.
Farhan juga menyampaikan, apabila situasi terus memburuk. Tidak menutup kemungkinan untuk meminta Kementerian Kehutanan meninjau ulang izin konservasi yang diberikan kepada pengelola.
"Kalau seperti ini terus, saya bisa saja meminta Kementerian Kehutanan mengevaluasi pemberian izinnya. Tegas saya sampaikan," ujarnya.
Ia turut menyoroti minimnya kontribusi Kebun Binatang Bandung terhadap pemerintah kota. Pihaknya menyebut, selama ini pengelola tidak membayar sewa lahan. Tidak melakukan bagi hasil, dan hanya menyetor pajak hiburan dalam jumlah kecil.
"Tanah itu punya pemerintah. Tapi tidak pernah ada sewa, tidak ada bagi hasil. Pajak hiburannya pun kecil karena sifatnya edukatif. Kurang baik apa pemerintah?," jelasnya.
Kondisi internal yang tidak stabil disebutnya telah berlangsung selama empat bulan terakhir. Upaya mediasi telah dilakukan berkali-kali, namun tidak membuahkan hasil. Farhan menyatakan, kedua pihak kerap kembali berselisih setelah pertemuan.
"Setiap kali ada rembukan, sudah sepakat. Pulangnya berantem lagi. Lalu masing-masing bawa nama besar. Sudahlah, ini Kota Bandung. Jangan bawa-bawa nama besar, selesaikan secara dewasa," tandasnya.
Editor : Doni Ramdhani

