Kunjungan Wisatawan ke Kawasan Objek Wisata Bandung Selatan Anjlok Imbas Daya Beli Masyarakat Menurun
Melemahnya daya beli masyarakat dirasakan sekali oleh pelaku usaha pariwisata di kawasan objek wisata Bandung Selatan. Angka kunjungan pada saat libur lebaran 2025 saat ini turun 30 persen dibandung tahun sebelumnya.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Soreang - Melemahnya daya beli masyarakat dirasakan sekali oleh pelaku usaha pariwisata di kawasan objek wisata Bandung Selatan. Angka kunjungan pada saat libur lebaran 2025 saat ini turun 30 persen dibandung tahun sebelumnya.
Hal tersebut diakui pengelola objek wisata alam Glamping Lake Side Situ Patengang di Kecamatan Rancabali Kabupaten Bandung. Menurutnya, penurunan daya beli masyarakat dirasakan sekali oleh para pelaku usaha pariwisata di tanah air, termasuk di kawasan objek wisata Bandung Selatan.
"Ada penurunan sekitar 30 persen dari tahun lalu. Baik itu pengunjung yang hanya datang ke objek wisata saja, maupun yang booking penginapan. Perbandingannya sih saat kemarin puncaknya pada Kamis atau H+3 Lebaran itu kunjungan antara 25 ribu hingga 3000 orang saja. Sedangkan diwaktu yang sama pada tahun lalu pengunjung yang datang 4000 hingga 5000 orang," kata Marcel melalui sambungan telepon, Minggu 6 April 2025.
Menurut Marcel, penurunan daya beli masyarakat ini dirasakan para pengelola usaha wisata sejak masuk lebaran tahun ini. Masyarakat mungkin banyak mengeluarkan uangnya untuk keperluan puasa dan hari raya. Disisi lain, perekonomian masyarakat semakin sulit. Hal ini berimbas kepada menurunnya kunjungan ke tempat-tempat wisata.
"Karena kondisi ekonominya kurang baik. Jadi masyarakat juga banyak yang spend money (menyimpan uang) ketimbang dibelanjakan. Selain itu, kalau untuk di tempat kami penurunan ini juga ada pengaruh dari hujan deras yang terus turun sejak sebelum lebaran," ujarnya.
Tak hanya itu saja, lanjut Marcel, menurunnya jumlah kunjungan wisatawan ke Bandung Selatan ini juga diperkirakan karena libur Lebaran 2025 ini lumayan panjang. Sehingga, wisatawan yang datang tidak bersamaan diwaktu yang berdekatan. Apalagi, usai libur Lebaran, akan ada juga libur panjang akhir pekan atau long weekend. Sehingga, calon wisatawan bisa datang ke tempat wisata diwaktu yang lumayan panjang.
"Kebanyakan pasar kami adalah wisatawan domestik. Jadi harapannya sih pemerintah juga bisa benar-benar memperbaiki kondisi ekonomi dalam negeri, agar sektor pariwisata ini tetap tumbuh. Selain pariwisata, yang harus dijaga dan dibantu oleh pemerintah itu yah para pelaku UMKM nya, karena mereka itu sudah terbukti tangguh dalam segala kondisi, termasuk saat pandemi covid kemarin kan UMKM yang bisa bertahan," katanya.
Marcel melanjutkan, hingga saat ini industri pariwisata yang masih bisa bertahan dari goncangan ekonomi. Berbeda dengan sektor lainnya yang mulai berguguran dengan ditandai banyaknya pemutusan hubungan kerja (PHK) terjadi dimana-mana. Kata dia, sektor pariwisata hingga saat ini masih dapat bertahan. Namun, jika tidak mendapatkan perhatian serius dari pemerintah, tidak menutup kemungkinan ikut terkena dampak goncangan ekonomi global.
"Apalagi sekarang kan sedang perang ekonomi global (Amerika) kalau pemerintah tidak memperhatikan dan memberikan kemudahan kepada investor, khususnya yang mau investasi dibidang pariwisata akan berat. Keinginan kami sih yah permudah ngurus perizinan, lalu kalau di tempat yang kondisi alamnya membahayakan, yah silakan melibatkan ahli-ahli dan aktivis konservasi, kami akan senang jika bisa bekerjasama dengan semua pihak," ujarnya.
Editor : Doni Ramdhani
