Menguak Pesona Purba Sanghyang Kenit, dari Jejak Mitologi hingga Potensi Ekonomi

Sanghyang Kenit KBB menyimpan jejak mitologi Sunda, keunikan batu kapur, arung jeram, dan susur gua 600 meter yang menjadi potensi ekonomi wisata berkelanjutan.

Menguak Pesona Purba Sanghyang Kenit, dari Jejak Mitologi hingga Potensi Ekonomi
Suasana wisata di kawasan batu kapur purba di Sanghyang Kenit.

INILAHKORAN.ID – Sanghyang Kenit di Kabupaten Bandung Barat (KBB) bukan sekadar destinasi wisata alam dengan bentang batu kapur putih dan aliran sungai yang memikat. Kawasan ini juga menyimpan jejak kepercayaan leluhur masyarakat Sunda, keunikan geologis, serta potensi ekonomi berkelanjutan yang terus berkembang.

Wakil Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sanghyang Kenit, Dodi Angsapibi, mengatakan nama Sanghyang Kenit memiliki makna budaya yang erat kaitannya dengan kepercayaan masyarakat setempat.

Secara turun-temurun, kawasan tersebut diyakini sebagai ruang sakral peninggalan leluhur. Imbuhan kata 'Sang' merupakan bentuk penghormatan terhadap sosok yang disepuhkan, sementara kata 'Hyang' dimaknai sebagai proses menyepi atau bersemadi.

“Kalau istilah 'Kenit', masyarakat lokal percaya itu merujuk pada domba atau kambing hitam berikat pinggang putih yang dahulu disembelih dalam tradisi ritual di lokasi ini,” kata Dodi.

“Dari perpaduan nilai historis dan kepercayaan spiritual itulah nama Sanghyang Kenit melekat,” sambungnya.

Keunikan Geologi dan Akses Wisata

Dodi menjelaskan, keunikan Sanghyang Kenit juga terlihat dari karakter geologisnya. Berbeda dengan sejumlah kawasan Sanghyang lain di sekitarnya yang didominasi batuan kali berwarna hitam pekat, Sanghyang Kenit memiliki gugusan batuan gamping atau batu kapur berwarna putih yang mengapit aliran sungai.

Keunggulan lainnya terletak pada aksesibilitas. Sanghyang Kenit dinilai lebih mudah dijangkau dari area parkir utama dibandingkan destinasi di sekitarnya, seperti Sanghyang Poek dan Sanghyang Heuleut, yang membutuhkan perjalanan tracking lebih jauh.

“Keunggulan komparatif lainnya terletak pada aksesibilitas: lokasi Sanghyang Kenit paling mudah dijangkau dari area parkir utama ketimbang destinasi tetangganya seperti Sanghyang Poek atau Sanghyang Heuleut yang membutuhkan perlintasan tracking lebih jauh,” sebutnya.

Dari sisi tata kelola, kawasan ini resmi dibuka sebagai objek wisata komunal pada akhir 2019. Pengelolaannya melibatkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari Indonesia Power sebagai pemilik lahan parkir atas, Satgas Citarum Harum, hingga pemuda lokal yang tergabung dalam Karang Taruna di bawah pimpinan Dodo.

Pengunjung dikenakan tiket masuk berkisar Rp8.000 hingga Rp15.000 per orang. Tarif tersebut disebut telah mencakup premi asuransi keselamatan.

“Pengunjung hanya dikenakan tarif tiket masuk antara Rp8.000 hingga Rp15.000 per orang, di mana besaran biaya tersebut sudah mencakup premi asuransi keselamatan pengaman,” ucapnya.

Sanghyang Kenit Jadi Pusat Aktivitas Arung Jeram

Selain menjadi destinasi rekreasi, Sanghyang Kenit memiliki fungsi lain bagi masyarakat sekitar. Aliran sungainya dimanfaatkan untuk kebutuhan pengairan sawah sekaligus dikembangkan menjadi wahana atraksi air komersial.

Dodi menyebut, kawasan ini rutin digunakan sebagai pusat pelatihan atlet arung jeram profesional dari Kabupaten Bandung Barat hingga Kabupaten Cianjur. Aktivitas tersebut dilakukan melalui operator seperti Kapinis dan Air Nusantara.

“Atlet dari Kapinis bahkan telah mengharumkan nama Indonesia di kejuaraan arung jeram tingkat dunia, mulai dari Jepang, Australia, hingga Republik Ceko,” ujarnya.

Bagi wisatawan yang ingin merasakan tantangan arung jeram, pengelola menawarkan paket dengan tarif Rp150.000 per orang dan minimal 12 peserta.

Paket tersebut mencakup perlengkapan keselamatan, transportasi lapangan, konsumsi, serta bimbingan teknis dari pemandu tersertifikasi.

Susur Gua 600 Meter Menuju Sanghyang Tikoro

Sanghyang Kenit juga menawarkan aktivitas susur gua yang menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan pencari petualangan.

Dodi menyebut, jalur susur gua di kawasan ini memiliki panjang sekitar 600 meter dan membentang hingga Sanghyang Tikoro. Perjalanan tersebut memakan waktu sekitar satu jam.

“Perjalanan susur gua memakan waktu sekitar satu jam. Waktu tempuh sering kali bertambah karena wisatawan berhenti untuk mendokumentasikan keindahan formasi batuan kapur dan stalaktit yang berkilau menyerupai kristal saat terkena cahaya penerangan,” paparnya.

Untuk aktivitas tersebut, pengelola mematok biaya keamanan sebesar Rp150.000 dengan minimal lima peserta. Tarif ini mencakup Alat Pelindung Diri (APD) lengkap, seperti helm, rompi pelampung, penerangan khusus, serta fasilitas makan.

Dodi menegaskan, penggunaan pelampung menjadi standar keselamatan wajib karena rute penjelajahan terdiri atas jalur darat kering dan jalur basah dengan kedalaman air yang mencapai dada orang dewasa.

“Penggunaan pelampung merupakan standar keselamatan wajib mengingat rute penjelajahan terbagi atas jalur darat kering dan jalur basah dengan kedalaman air sungai mencapai dada orang dewasa,” tegasnya.

Magnet Wisata dan Industri Fotografi

Seiring meningkatnya popularitas, Sanghyang Kenit kini mampu menarik ratusan pengunjung setiap hari. Destinasi ini tidak hanya menjadi pilihan wisata keluarga untuk menikmati panorama alam dan berpiknik di atas hamparan batu purba, tetapi juga berkembang menjadi lokasi favorit industri fotografi.

Dodi mengungkapkan, dalam satu bulan terakhir, rata-rata terdapat tiga sesi pemotretan pre-wedding setiap harinya yang memanfaatkan lanskap batuan eksotis Sanghyang Kenit sebagai latar visual.

“Dalam satu bulan terakhir, rata-rata terdapat tiga sesi pemotretan pre-wedding saban harinya yang memanfaatkan lanskap batuan eksotis ini sebagai latar belakang visual,” pungkasnya.

Dengan perpaduan nilai sejarah, keunikan geologi, aktivitas wisata petualangan, dan keterlibatan masyarakat lokal, Sanghyang Kenit berpotensi menjadi salah satu penggerak ekonomi wisata berkelanjutan di Kabupaten Bandung Barat.


Editor : Ahmad Sayuti