Sanghyang Kenit KBB, Geowisata Citarum Purba dengan Tiket Masuk Rp8.000

Sanghyang Kenit di Cipatat, Bandung Barat, menawarkan wisata alam Citarum Purba dengan tiket Rp8.000, aktivitas susur gua, rafting, dan panorama batu kapur.

Sanghyang Kenit KBB, Geowisata Citarum Purba dengan Tiket Masuk Rp8.000
wisatawan tengah menikmati suasana alam di kawasan wisata Sanghyang Kenit di Kampung Cisameng Cipanas, Desa Rajamandala Kulon, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

INILAHKORAN.ID – Keindahan bentang alam purba Sanghyang Kenit di Kabupaten Bandung Barat (KBB) semakin menarik perhatian wisatawan. Guratan stalaktit, dinding batu kapur putih, serta aliran Sungai Citarum Purba yang membelah kawasan gua menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.

Pemandangan alam tersebut bukan sekadar latar foto pranikah (pre-wedding) atau konten media sosial. Sanghyang Kenit juga menjadi destinasi geowisata yang menawarkan pengalaman menikmati alam dengan biaya terjangkau.

Terletak di Kampung Cisameng Cipanas, Desa Rajamandala Kulon, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, kawasan wisata ini menyuguhkan lanskap batuan gamping yang berpadu dengan aliran sungai dan suasana alam yang masih asri.

Perjalanan dari pusat Kota Bandung menuju Sanghyang Kenit berjarak sekitar 40 kilometer atau membutuhkan waktu kurang lebih 1,5 jam berkendara. Perjalanan tersebut akan terbayar dengan panorama tebing batu kapur dan gemericik air sungai yang menyambut pengunjung.

Untuk menikmati keindahan alam Sanghyang Kenit, wisatawan cukup membayar tiket masuk sebesar Rp8.000. objek wisata ini beroperasi setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB.

Sanghyang Kenit menjadi alternatif wisata akhir pekan bagi masyarakat yang ingin sejenak menjauh dari kepadatan perkotaan. Berbagai aktivitas dapat dilakukan, mulai dari susur gua (cave tubing) menuju kawasan Sanghyang Tikoro, arung jeram (rafting), body rafting, berenang, hingga bermain air menggunakan ban pelampung.

Selain aktivitas petualangan, kawasan ini juga menawarkan sejumlah spot fotografi, lokasi foto pre-wedding, serta area berkemah yang semakin melengkapi pengalaman wisata alam.

Sanghyang Kenit, Bentang Alam Purba yang Bertransformasi

Transformasi Sanghyang Kenit menjadi destinasi wisata turut berkaitan dengan perubahan fungsi kawasan bentang alam Citarum Purba.

Kawasan tersebut menjadi salah satu bagian dari upaya pengelolaan dan penataan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum yang membentang dari hulu Cisanti hingga Waduk Cirata.

Pembelokan aliran air melalui proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Indonesia Power disebut turut mengubah karakter arus Citarum Purba yang sebelumnya ekstrem.

Rekayasa aliran tersebut membuat kawasan yang dahulu lebih banyak diakses oleh penggiat alam bebas profesional dan atlet arung jeram kini dapat dinikmati oleh masyarakat umum, termasuk wisatawan pemula dan keluarga.

Keberadaan Sanghyang Kenit pun semakin dikenal seiring meningkatnya popularitas destinasi ini di media sosial.

Wisatawan Nilai Sanghyang Kenit Punya Potensi Besar

Daya tarik Sanghyang Kenit turut dirasakan Amalia (33), wisatawan asal Cimahi yang baru pertama kali berkunjung ke kawasan tersebut.

Ia mengaku tertarik datang setelah kerap melihat keindahan Sanghyang Kenit melalui media sosial. Menurutnya, panorama tebing batu kapur dan suasana alam yang asri menjadi pengalaman yang sepadan dengan perjalanan dari luar daerah.

"Jujur ini kedatangan pertama saya ke Sanghyang Kenit setelah sering lihat di media sosial. Ternyata pemandangan tebing batu kapur dan udaranya betul-betul masih asri. Sangat sepadan dengan perjalanan dari luar daerah. Harganya pun relatif bersahabat di kantong," kata Amalia saat ditemui di lokasi, Sabtu (7/11/2026).

Meski terkesan dengan keindahan alam dan harga tiket yang terjangkau, Amalia menilai masih terdapat sejumlah fasilitas pendukung yang perlu dibenahi.

Ia menyebut area parkir sudah cukup luas, meskipun sebagian masih dalam tahap pemerataan tanah.

"Secara keseluruhan wisatanya sangat potensial. Tiket masuknya murah, tempat parkir juga sudah cukup luas walau kemarin terlihat masih dalam tahap pemerataan tanah," ungkapnya.

Amalia juga berharap pengelola lebih memperhatikan kebersihan kawasan bantaran sungai serta meningkatkan ketersediaan fasilitas umum, seperti toilet dan tempat istirahat.

"Namun, saran saya pengelolaan kebersihan di sekitar bantaran sungai dan penyediaan fasilitas MCK atau tempat istirahat perlu ditingkatkan lagi. Kalau fasilitas umum makin ditata rapi, pengunjung pasti bakal lebih betah dan ingin balik lagi," jelasnya.

Dengan keindahan lanskap Citarum Purba, harga tiket yang terjangkau, serta beragam aktivitas wisata alam, Sanghyang Kenit berpotensi menjadi salah satu destinasi unggulan geowisata di Kabupaten Bandung Barat.


Editor : Ahmad Sayuti