Lahan Meranggas Api Mengganas
LAHAN kosong menjadi ruang yang rentan tersulut api. Hingga September, 23 kejadian kebakaran lahan tercatat di Cimahi.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
Oleh : Agus Satia Negara
Kemarau membuat tanah kehilangan kelembapannya. Rumput mengering, lahan kosong berubah menjadi hamparan mudah terbakar, dan sebuah percikan kecil dapat berubah menjadi api yang menjalar tanpa banyak waktu untuk dicegah.
Kondisi itu tergambar dari catatan kebakaran di Kota Cimahi. Sepanjang 1 Januari hingga 21 September 2026, Satpol PP dan Damkar Kota Cimahi mencatat 64 objek mengalami kebakaran di berbagai wilayah. Lahan kosong menjadi lokasi yang paling banyak dilanda api.
Kepala Seksi Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Satpol PP dan Damkar Kota Cimahi, Aep Mulyana, mengatakan dari 64 kejadian tersebut, sebanyak 23 objek merupakan lahan kosong.
Jumlah itu lebih banyak dibandingkan kebakaran hunian atau rumah tinggal yang mencapai 16 objek. Berikutnya, pabrik dan gudang sebanyak 11 objek, pasar atau toko lima objek, serta kategori lain-lain sebanyak 10 objek.
"Dari rekapitulasi periode 1 Januari sampai 21 September 2026, tercatat sebanyak 64 objek kebakaran di Kota Cimahi. Kebakaran lahan kosong menjadi kejadian dengan jumlah tertinggi," kata Aep, Selasa (22/9).
Belum tercatat kebakaran pada kategori rumah makan dan perkantoran hingga periode tersebut. Namun, Satpol PP dan Damkar Kota Cimahi juga turut membantu menangani dua kejadian kebakaran yang terjadi di luar wilayah administrasi Kota Cimahi.
Tingginya kejadian di lahan kosong menjadi perhatian tersendiri. Saat musim kemarau membuat tanah dan vegetasi mengering, lahan yang semula terlihat sepele dapat berubah menjadi ruang yang mudah dilalap api. Percikan kecil bisa menjadi persoalan besar ketika bertemu rerumputan kering dan angin.
Aep menyebut pembakaran sampah sembarangan menjadi salah satu pemicu yang kerap terjadi. Karena itu, kewaspadaan masyarakat diperlukan, terutama ketika aktivitas yang melibatkan api dilakukan di sekitar lahan terbuka dan permukiman.
"Kondisi lingkungan yang kering dapat membuat api lebih mudah menjalar. Kami mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran di area lahan kosong maupun permukiman," ungkapnya.
Ancaman api sebenarnya tidak selalu bermula dari sesuatu yang besar. Bara yang dianggap sudah padam, sampah yang dibakar tanpa pengawasan, atau peralatan rumah tangga yang ditinggalkan dapat menjadi awal dari kebakaran.
Karena itu, pencegahan menjadi langkah pertama yang paling penting.
Warga diingatkan tidak membakar sampah sembarangan dan memastikan api benar-benar padam setelah digunakan. Instalasi listrik dan peralatan elektronik juga perlu diperiksa kelayakannya. (gin)
Editor : Inilahkoran

