Lautan Manusia Padati Alun-Alun Cimahi Sangkuriang Festival 2025 Berikan Pesan Persatuan dari 13 Etnis

Sejak pagi buta pukul 07.00 WIB, Alun-alun Kota Cimahi tak lagi sepi. Lautan manusia memenuhi setiap sudut, dengan riuh tepuk tangan dan sorak kegembiraan yang menggema seiring berjalannya para peserta Sangkuriang Festival 2025, perayaan budaya tahunan yang menghadirkan parade 13 etnis yang hidup dan tumbuh di kota yang kerap disebut "kota kecil" ini.

Lautan Manusia Padati Alun-Alun Cimahi Sangkuriang Festival 2025 Berikan Pesan Persatuan dari 13 Etnis
Sejak pagi buta pukul 07.00 WIB, Alun-alun Kota Cimahi tak lagi sepi. Lautan manusia memenuhi setiap sudut, dengan riuh tepuk tangan dan sorak kegembiraan yang menggema seiring berjalannya para peserta Sangkuriang Festival 2025, perayaan budaya tahunan yang menghadirkan parade 13 etnis yang hidup dan tumbuh di kota yang kerap disebut

INILAHKORAN.ID – Sejak pagi buta pukul 07.00 WIB, alun-alun Kota Cimahi tak lagi sepi. lautan manusia memenuhi setiap sudut, dengan riuh tepuk tangan dan sorak kegembiraan yang menggema seiring berjalannya para peserta sangkuriang festival 2025, perayaan budaya tahunan yang menghadirkan parade 13 etnis yang hidup dan tumbuh di kota yang kerap disebut "kota kecil" ini.
 
Pawai Nusantara yang diberi nama "Pawai Keberagaman" dimulai dari Jalan Gandawijaya dan berakhir di alun-alun, membentang melintasi pusat kota. 

Sepanjang rute, berbagai etnis menampilkan identitas budaya mereka dengan penuh kebanggaan, yakni mulai dari Tionghoa, Ambon, Papua, hingga Kalimantan, semuanya berjalan beriringan, seolah menegaskan pesan sederhana namun kuat, yakni perbedaan bukan penghalang untuk bersatu.
 
Antusiasme warga yang datang menyaksikan langsung tak tertutupi. Banyak yang tiba sejak pagi hari, membawa kamera dan pakaian segar untuk merayakan momen keberagaman. Salah satunya Sidiq Satya Nadella (26), warga Cimahi yang pertama kali menyaksikan Festival Nusantara di kotanya sendiri.
 
"Saya enggak nyangka bisa melihat perayaan kebudayaan yang begitu lengkap di sini. Di Cimahi meski kota kecil, keberagaman suku budaya bisa rukun dan menjaga persatuan," ujar Sidiq dengan mata yang terfokus ke arah parade. 

Kostum adat Dayak dari Kalimantan menjadi sorot utamanya, yang ia sebut "sangat keren dan penuh makna."
 
Antusiasme serupa juga dirasakan Dina Mariana Renata (21), yang berasal dari latar belakang etnis Tionghoa. Wanita muda ini terharu saat menyaksikan penampilan sesama etnisnya, di mana para lansia menari dengan energi yang memukau.
 
"Seneng banget lihat opa-opa dan oma yang menari. Sebagai orang Tionghoa, aku sangat apresiasi adanya festival ini yang memberi wadah untuk semua etnis menunjukkan kekayaan budayanya," kata Dina.

Ia menambahkan, festival ini menjadi cermin bahwa Cimahi menyimpan kekayaan budaya yang jauh lebih besar dari ukurannya.
 
Di tengah arus modernisasi yang kerap membuat perbedaan menjadi sekat, Sangkuriang Festival 2025 hadir sebagai pengingat penting lantaran Cimahi dibangun dari banyak warna budaya. 

"Dan justru dari keberagaman itu, rasa kebersamaan dan persatuan menemukan maknanya yang sesungguhnya," ucapnya.
 
Dina bahkan berharap festival ini tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi terus dilestarikan sebagai ruang ekspresi budaya dan simbol persatuan warga. 

"Dengan adanya festival ini, kita bisa menunjukkan pada dunia bahwa ragam budaya di Cimahi banyak dan bersatu," tuturnya. *** 


Editor : JakaPermana