Menanam Riset, Memanen Inovasi Bangsa

PERGURUAN tinggi didorong memperkuat budaya riset. Mahasiswa pascasarjana, laboratorium, dan kolaborasi menjadi penopangnya.

Menanam Riset, Memanen Inovasi Bangsa
DIALOG STRATEGIS: Mendiktisaintek Brian Yuliarto dalam Forum Dialog Strategis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)-Majelis Senat Akademik (MSA) PTN BH di Gedung Widya Graha BRIN di Jakarta, Selasa (29/9).(ANTARA/HO-KEMDIKTISAINTEK)

Kampus bukan hanya tempat ilmu dipelajari. Di ruang-ruang laboratorium, perpustakaan, dan pusat penelitian, pengetahuan diuji untuk menemukan jawaban atas persoalan yang terus berubah. Dari sana, riset diharapkan melahirkan inovasi yang memberi manfaat lebih luas bagi masyarakat dan negara.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mendorong Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) memperkuat budaya riset sebagai bagian dari pembangunan ekosistem ilmu pengetahuan dan teknologi nasional.

Menurut Brian, riset perlu ditempatkan sebagai bagian penting dari pengembangan perguruan tinggi. Penguatan itu dapat dilakukan dengan memperbanyak mahasiswa pascasarjana, memperkuat laboratorium, serta membangun manajemen penelitian yang mendukung dosen dan peneliti.

“Presiden Republik Indonesia berkata bahwa kampus adalah otak dari bangsa kita. Dan mahasiswa pascasarjana adalah aset terbaik untuk riset kita. Saya berharap kampus-kampus bisa terus mengembangkan jumlah mahasiswa pascasarjana, di sanalah riset akan menjadi kuat,” kata Brian, seperti dikutip dari ANTARA, Kamis (1/10).

Jumlah mahasiswa pascasarjana menjadi salah satu perhatian karena kelompok ini memiliki peran besar dalam kegiatan penelitian. Semakin kuat ekosistem pendidikan pascasarjana, semakin luas pula ruang bagi perguruan tinggi untuk menghasilkan penelitian.

Namun, riset tidak cukup hanya mengandalkan jumlah peneliti. Tata kelola penelitian juga perlu diperkuat agar gagasan, temuan, dan inovasi dapat berkembang lebih jauh.

Karena itu, PTN-BH didorong memperluas kolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta dunia industri. Kemitraan tersebut diharapkan membuka jalan bagi hasil penelitian agar tidak berhenti sebagai laporan atau publikasi, tetapi dapat dikembangkan menjadi inovasi yang memiliki manfaat nyata.

Kepala BRIN Arif Satria mengatakan, penguatan riset dan inovasi berkaitan erat dengan daya saing nasional. Menurut dia, kualitas sumber daya manusia, pendidikan tinggi, inovasi, produktivitas, hingga pertumbuhan ekonomi saling terhubung. (gin)


Editor : Inilahkoran