Menelisik Makna Dibalik Sesajen dan Sastra Jendra Rahayu Ningrat dalam Tradisi Tanggap Warsa 1 Sura 1959 Saka Indonesia di Desa Sariwangi 

Bagi sebagian besar masyarakat, tradisi sesajen atau persembahan dan Sastra Jendra Rahayu Ningrat yang kerap disuguhkan dalam sebuah acara adat atau tradisi masih diidentikkan dengan hal-hal mistis.

Menelisik Makna Dibalik Sesajen dan Sastra Jendra Rahayu Ningrat dalam Tradisi Tanggap Warsa 1 Sura 1959 Saka Indonesia di Desa Sariwangi 
Bagi sebagian besar masyarakat, tradisi sesajen atau persembahan dan Sastra Jendra Rahayu Ningrat yang kerap disuguhkan dalam sebuah acara adat atau tradisi masih diidentikkan dengan hal-hal mistis.

INILAHKORAN, Ngamprah - Bagi sebagian besar masyarakat, tradisi sesajen atau persembahan dan sastra jendra rahayu Ningrat yang kerap disuguhkan dalam sebuah acara adat atau tradisi masih diidentikkan dengan hal-hal mistis.

Padahal, para budayawan mengungkapkan, keberadaan sesajen dan sastra jendra rahayu Ningrat merupakan sebuah simbol wujud syukur kepada Tuhan yang Maha Esa. Termasuk, bentuk penghormatan atas jasa para leluhur.

Hal tersebut dibeberkan Koordinator Aliran Kebatinan Perjalanan Provinsi Jawa Barat, Kiki Tarki saat peringatan Tanggap Warsa 1 Sura 1959 Saka Indonesia yang digelar di Gang Pasewakan, Pasewakan Wangun Sari Jati Mandiri di Desa Sariwangi, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Dalam peringatan tersebut, warga hadir dengan mengenakan pakaian adat Sunda, yakni pangsi lengkap dengan iket kepala khas Jawa Barat.

Tak ketinggalan, berbagai macam hasil bumi lengkap dengan sesajen yang disusun rapi menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai budaya warisan leluhur masih hidup dan dijunjung tinggi.

"Saya ingin meluruskan pemahaman yang keliru mengenai sesajen dan ajaran sastra jendra rahayu Ningrat," kata Kiki kepada wartawan.

Kiki menjelaskan, sastra jendra rahayu Ningrat itu bahan semua bangsa yang ada dan dibutuhkan di dunia ini. Namun, hal tersebut tak berkaitan erat dengan magis atau hal mistis lantaran merupakan ciptaan Tuhan.

"Kemudian budaya yang disebut oleh pemerintah sebagai budaya luhur itu, pada dasarnya mengandung nilai-nilai pendidikan, petuah, dan panduan hidup bagi anak dan cucu," jelasnya.

Menurutnya, akar budaya bangsa berasal dari budaya suku-suku yang tersebar di seluruh Nusantara. sastra jendra rahayu Ningrat dalam pandangannya adalah ilmu pengetahuan luhur yang diwariskan kepada makhluk Tuhan agar hidup selaras dengan alam dan sesama manusia.

"Ada Sastra Jendra, ada tulisan rumah agung. Itu semua adalah warisan nilai, bukan benda mati. Tidak ada pabrik pisang atau jeruk, tapi ada alam yang menghasilkan. Itu jati diri," sebutnya.

Pisepuh Aliran Kebatinan Perjalanan Kabupaten Bandung Barat, Suwardi, menekankan bahwa sesajen adalah bentuk teladan dari para leluhur.

"Itu hanya contoh. sesajen bukan untuk cucunya saja, tapi untuk semua. Filosofinya adalah mengingatkan agar kita tidak menyalahkan, tapi menyelamatkan," jelas Suwardi. 

"Semua tergantung, apakah orang yang akan diselamatkan itu bisa menerima saran atau tidak,” sambungnya.

Tak cuma itu, Suwardi mengaku prihatin dengan penerapan konsep gotong royong yang mulai pudar dalam kehidupan masyarakat saat ini.

"Kegiatan ini dari gotong royong, dan kalau ke depan kita masih diberi nikmat, maka gotong royong harus dipertahankan. Jangan sampai hilang. Sebab di kita gotong royong hampir punah," ucapnya.

Suwardi menerangkan, nilai-nilai gotong royong yang melekat dalam tradisi ini tidak hanya menjadi pondasi sosial masyarakat, melainkan bagian dari pengetahuan hakiki yang menjunjung kejujuran, belas kasih, hidup rukun, serta mendahulukan kepentingan umum di atas pribadi. 

"Pengetahuan yang diajarkan para leluhur bukan hanya sebatas spiritualitas, tapi juga mencakup perilaku sosial dan kebangsaan," ujarnya.

"Seperti tidak mengakui hak milik orang lain, mengendalikan nafsu, menahan amarah, serta hidup rukun dalam bingkai Pancasila dan UUD 1945," tambahnya.***


Editor : JakaPermana