Mengenal Krikago, Olahraga Ketangkasan Anyar Ciptaan Dosen STKIP Pasundan

Dosen STKIP Pasundan Bandung Akhmad Olih Solihin menciptakan cabang olahraga ketangkasan baru yaitu Krikago. 

Mengenal Krikago, Olahraga Ketangkasan Anyar Ciptaan Dosen STKIP Pasundan
Seseorang saat mencoba memainkan  olahraga baru, Krikago. (istimewa)

INILAHKORAN.ID - Dosen STKIP Pasundan Bandung Akhmad Olih Solihin menciptakan cabang olahraga ketangkasan baru yaitu Krikago

Krikago merupakan olahraga permainan ketangkasan melempar bola yang dirancang dengan memadukan aktivitas fisik, unsur kompetisi, serta nilai-nilai kearifan lokal budaya Sunda.

Olih menjelaskan, nama Krikago tersebut diambil dari tiga kata yang memiliki makna berkaitan dengan permainan melempar bola.

Kata pertama adalah Krida yang bermakna permainan, olahraga, dan ketangkasan. Kemudian Kanda yang berarti bola atau benda berbentuk bulat, serta Gola yang memiliki arti melempar.

“Dari tiga unsur kata tersebut maka muncul nama Krikago yang secara harfiah berarti permainan ketangkasan melempar bola. Olahraga ini dirancang untuk mengembangkan koordinasi mata dan tangan, konsentrasi, daya tahan mental, serta sportivitas setiap atletnya,” ujar Olih, Rabu (19/8/2026).

Menurut Olih, Krikago tidak hanya mengedepankan aspek fisik dan ketepatan dalam melempar. Olahraga tersebut juga memiliki landasan filosofis yang mengadopsi tiga prinsip luhur dalam budaya Sunda, yakni Silih Asah, Silih Asih, dan Silih Asuh.

Silih Asah diwujudkan melalui dorongan kepada setiap pemain untuk terus meningkatkan kemampuan teknik lemparan, akurasi, hingga strategi permainan.

Sementara Silih Asih tercermin dalam semangat berkompetisi secara sehat dengan tetap menghargai lawan sebagai bagian dari proses berkembang bersama.

Adapun Silih Asuh diterapkan melalui sikap saling membimbing antarpemain, baik antara senior dan junior maupun sebaliknya. Prinsip tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga keselamatan dan keadilan selama pertandingan.

Dari sisi sarana, Krikago tidak membutuhkan lapangan dengan fasilitas yang kompleks. Permainan dapat dilakukan di area yang relatif sederhana dengan sistem lemparan linear dan pembagian zona berdasarkan jarak. Masing-masing berjarak 1,5 meter, 2 meter, dan 2,5 meter dari papan sasaran.

“Lapangan tidak harus khusus dan bisa dibuat dengan mudah. Yang terpenting permukaannya tidak licin dan harus rata, garis zona harus terlihat kontras, serta ketinggian langit-langit minimal empat meter jika digelar di dalam ruangan,” jelas Olih.

Sementara itu, papan sasaran Krikago menggunakan sistem lingkaran atau bullseye yang terbagi menjadi enam zona dengan nilai berbeda. 

Zona pusat berwarna merah memiliki diameter 15 sentimeter dan bernilai enam poin. Berikutnya, zona oranye berdiameter 30 sentimeter dengan nilai lima poin, zona kuning berdiameter 45 sentimeter dengan nilai empat poin, serta zona hijau berdiameter 60 sentimeter dengan nilai tiga poin.

Selanjutnya, zona putih atau abu-abu memiliki diameter 75 sentimeter dengan nilai dua poin. Sedangkan zona terluar berwarna biru berdiameter 90 sentimeter dan memiliki nilai satu poin.

Untuk bolanya, Krikago menggunakan bola berdiameter 10-12 sentimeter dengan bobot 200-250 gram. Bola tersebut menggunakan bahan sintetis bersertifikat yang memungkinkan bola menempel pada papan sasaran setelah dilempar.

Dalam satu sesi permainan, setiap pemain mendapatkan tiga bola. Lemparan dilakukan secara berurutan dari tiga zona jarak yang telah ditentukan.

Krikago juga memiliki tiga teknik lemparan resmi, yakni overhead atau lemparan dari atas kepala, sidearm atau lemparan dari samping, serta underhand atau lemparan dari bawah.

Setiap pemain diperbolehkan menentukan posisi tubuh ketika melakukan lemparan, selama tetap mengikuti teknik yang ditetapkan. Pemain juga tidak boleh menginjak atau melewati garis batas zona lemparan.

“Skor total dihitung dari akumulasi poin yang diperoleh dari tiga lemparan,” kata Olih.

Saat ini, Krikago mulai diperkenalkan di sejumlah wilayah Jawa Barat. Pengenalan dilakukan mulai dari lingkungan mahasiswa STKIP Pasundan hingga sejumlah daerah, termasuk Kota Bandung.

Olih berharap Krikago dapat berkembang lebih luas dan memiliki wadah organisasi resmi sehingga bisa menjadi salah satu pilihan olahraga masyarakat.

“Saat ini kita sedang mengupayakan Krikago ini masuk sebagai anggota KORMI (Komite Olahraga Rekreasi dan Masyarakat Indonesia) dengan organisasi POKI (Persatuan Olahraga Krikago Indonesia) sebelum masuk sebagai olahraga prestasi dan menjadi anggota KONI,” pungkasnya.


Editor : Doni Ramdhani