Menilik Sejarah Hotel Tjimahi, Bangunan Ikonik Khas Kolonial Bernilai Rp35 Miliar

Hotel Tjimahi, bangunan berusia hampir satu abad yang menjulang di tepi Jalan Raya Amir Machmud kini nasibnya hampir sama dengan bangunan bersejarah lainnya yang akan hilang dari permukaan lantaran akan dijual oleh pemiliknya

Menilik Sejarah Hotel Tjimahi, Bangunan Ikonik Khas Kolonial Bernilai Rp35 Miliar
Hotel Tjimahi ramai di Tiktok akan dijual dengan mahar Rp35 miliar
Menilik Sejarah Hotel Tjimahi, Bangunan Ikonik Khas Kolonial Bernilai Rp35 Miliar

INILAHKRAN.ID - Hotel Tjimahi, bangunan berusia hampir satu abad yang menjulang di tepi Jalan Raya Amir Machmud, bukan sekadar tempat menginap, namun juga bangunan penuh sejarah. 

Hotel Tjimahi adalah fragmen hidup yang menghubungkan masa kolonial dengan Indonesia modern, kini terjebak di antara cinta keluarga, beban realitas, dan keprihatinan publik.
 
Kabar angin tentang rencana penjualan menyebar seperti kilat melalui layar ponsel, setelah sebuah akun TikTok mengungkapkan penawaran Hotel Tjimahi dengan harga Rp35 miliar. 

Bangunan yang menempati lahan seluas 3.254 meter persegi itu tengah dipertimbangkan untuk dilepas oleh pemiliknya. 

Di balik angka yang mencengangkan dan bayangan transaksi bisnis, tersimpan rentetan kisah panjang tentang warisan yang diperjuangkan, ketahanan yang diuji waktu, dan kelelahan yang datang setelah menjaga sejarah sendirian selama puluhan tahun.
  
Nama Hotel Tjimahi mungkin sudah akrab di telinga banyak orang, namun jejaknya jauh lebih tua dari yang terlihat. 

Awalnya, tempat ini adalah sebuah villa yang dikelilingi hamparan kebun mawar, dibangun oleh pasangan Nyi Raden Fatimah Singawinata dan suaminya Veen, seorang warga negara Belanda. 

Pada masa itu, vila berfungsi sebagai kediaman keluarga sekaligus tempat menginap bagi tamu, dikenal dengan nama Wisma Pension atau Losman Cimahi.
 
Perubahan besar datang pada tahun 1927, ketika izin bangunan resmi diubah menjadi hotel menandai kelahiran Hotel Tjimahi yang kita kenal hingga hari ini. 

Sejak saat itu, bangunan ini menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut nadi Kota Cimahi, menyaksikan pergantian zaman dari era kolonial, masa pendudukan Jepang, proklamasi kemerdekaan, hingga berkembangnya republik yang merdeka.
 
Tak hanya momen damai, Hotel Tjimahi juga menyimpan masa-masa kelam dalam lembaran sejarahnya lantaran pernah menjadi tempat singgah para tentara dan bahkan tercatat pernah didatangi Raymond Westerling pasca peristiwa Angkatan Perang Rakyat Aceh (APRA). 

Hingga kini, berbagai peninggalan bersejarah masih terawat dengan cermat, bukan hanya sebagai barang koleksi, melainkan sebagai bagian yang hidup dari narasi kota.
 
Saat ini, tongkat pengelolaan berada di tangan Theresia Gerungan Soetamanggala, cucu dari Nyi Raden Fatimah Singawinata dari generasi ketiga yang mewarisi amanah menjaga bangunan bersejarah ini. 

Di usia hotel yang menginjak 99 tahun, Theresia dihadapkan pada keputusan yang menyayat hati, melepaskan warisan keluarga yang telah menyimpan begitu banyak kenangan.
 
“Semua bilang jangan dijual, sayang sekali. Tapi jujur saja, saya sudah tidak kuat lagi. Sudah eungap lah ya, kata orang Sunda mah, lelah. Mungkin memang sudah waktunya,” ujar Theresia dengan nada yang penuh keputusasaan.
 
Keputusan ini bukanlah hasil pemikiran semalam suntuk. Theresia mengaku bergulat dengan dilema tersebut selama bertahun-tahun. 

Menurutnya, beban biaya operasional yang terus melambung menjadi alasan utama, diperparah oleh ketiadaan regenerasi pengelola di dalam keluarga.
 
“Bayangkan saja, hanya untuk Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) setiap tahunnya sudah minimal Rp60 juta, karena ini kawasan premium," tuturnya. 

"Saya punya tiga anak, tapi tidak ada satu pun yang mau meneruskan pekerjaan ini. Mereka sudah punya jalan hidup masing-masing,” jelasnya.
 
Ketiga anaknya memilih jalur yang sama sekali berbeda dengan bisnis perhotelan. Dua di antaranya telah menjadi instruktur selam, sementara satu lagi tengah mengikuti jejak kakaknya. 

Tak ada satupun yang menunjukkan minat untuk melanjutkan pengelolaan hotel yang telah menyaksikan hampir seratus tahun perjalanan sejarah.
 
Beban itu kian terasa ketika wabah Covid-19 melanda seluruh dunia. Hotel Tjimahi terpaksa menghentikan semua operasionalnya, namun Theresia memilih untuk tidak memecat satu pun karyawannya. 

Namun, kepedulian itu tidak dibalas dengan dukungan yang diharapkan.
 
“Waktu pandemi, hotel tutup total tapi saya tidak menyuruh satu pun karyawan pulang. Tapi sayangnya, tidak ada bantuan apapun dari pemerintah," ungkapnya. 

"Teman saya yang punya bisnis di Tangerang bahkan dapat diskon PBB hingga 30 persen. Sementara saya, ketika datang ke pemkot malah didenda,” ungkapnya.
 
Pengalaman itu meninggalkan bekas dalam dirinya. Ia harus menanggung beban pajak dan biaya perawatan bangunan bersejarah di tengah kondisi tanpa satu pun pemasukan. 

Di titik ini, idealisme untuk menjaga warisan leluhur berhadapan langsung dengan kenyataan keberlanjutan yang tak bisa dihindari.
 
Bagi Theresia, Hotel Tjimahi bukan sekadar aset yang bisa dihitung dengan angka. Bangunan itu adalah rumah di mana ia menghabiskan masa kecilnya, tempat di mana keluarga berkumpul, dan saksi dari setiap babak kehidupan keluarganya yang melintasi generasi. Melepasnya berarti harus merelakan sebagian dari identitas dirinya sendiri.
 
Meski hati sudah mulai menerima keputusan sulit itu, harapan agar Hotel Tjimahi tetap mempertahankan wajah dan jiwanya belum sepenuhnya padam. Jika kelak bangunan ini benar-benar berpindah tangan, Theresia memiliki satu permintaan kecil namun mendalam.
 
“Saya memang sudah ikhlas, tapi harapannya bangunan ini jangan dirombak sembarangan," ujarnya. 

"Atau kalau ada investor yang mau membantu menjaga dan mengembangkannya dengan tetap menghargai sejarahnya, saya sangat terbuka untuk membahas segala opsi yang mungkin,” sambungnya.***


Editor : Ahmad Sayuti