Di Balik Dinding Hotel Tjimahi, Ada Kisah Perempuan Sunda Keturunan Prabu Siliwangi

Hotel Tjimahi bukan sekadar reruntuhan zaman, melainkan sebuah monumen hidup yang menceritakan kisah perempuan tangguh berdarah kerajaan, kejayaan yang menyala terang, dan derita yang tertahan dengan kesabaran lintas generasi

Di Balik Dinding Hotel Tjimahi, Ada Kisah Perempuan Sunda Keturunan Prabu Siliwangi
Theresia Gerungan Soetamanggala pemilik Hotel Tjimahi generasi ketiga

INILAHKORAN.ID – Di tengah hiruk-pikuk lautan kendaraan yang melintas tanpa jeda di Jalan Jenderal Amir Machmud, berdiri sebuah bangunan tua yang seolah menyimpan napas panjang masa lalu, yakni Hotel Tjimahi

Hotel Tjimahi bukan sekadar reruntuhan zaman, melainkan sebuah monumen hidup yang menceritakan kisah perempuan tangguh berdarah kerajaan, kejayaan yang menyala terang, dan derita yang tertahan dengan kesabaran lintas generasi.
 
Di balik nama resmi Nyi Raden Fatimah Singawinata yang dulu dikenal sebagai Nyi Raden Mardiah Singawinata, tersembunyi sosok yang dijuluki Ratu Tagog oleh warga sekitar. 

perempuan Sunda asli Purwakarta ini membawa darah yang mengalir langsung dari garis keturunan Prabu Siliwangi, sang raja besar Tanah Sunda.
 
"Memang masih ada silsilahnya di sejarah. Kalau ditarik ke atas, itu nyambung ke Prabu Siliwangi. Kalau tidak salah, beliau keturunan anak keenamnya,” ujar Theresia Gerungan Soetamanggala (65), pemilik ketiga yang akrab disapa Thea, Senin 12 Januari 2026.
 
Ketika hati perempuan berdarah kerajaan itu bersanding dengan Simon David Johan Veen, seorang pria asal Belanda, mereka memilih Cimahi sebagai tempat untuk membangun rumah dan masa depan. 

Saat itu, tahun 1920-an, kawasan ini masih sepi dan damai, jauh dari hiruk-pikuk seperti lihat saat ini.
 
“Dulu ya, waktu saya masih kecil aja. Saya kalau enggak bisa makan sama mama itu ditaruh di depan gitu suruh lihat mobil. Itu paling sejam, satu dua mobil lah lewat. Sekarang per menit aja udah berapa puluh mobil ya,” kenang Thea.
 
Di depan bangunan yang kelak jadi hotel berdiri jalan yang tak kalah bersejarah, bagian dari Jalan Anyer-Panarukan yang dibangun Daendels, dulu dikenal sebagai Jalan Raya Cimahi atau bahkan Jalan Raya Nomor 11M. 

“Blok M-nya Cimahi ya bukan Jakarta,” terangnya.

Awalnya, tanah luas yang dikelilingi hamparan hijau itu hanya menjadi vila pribadi, di mana puluhan anjing peliharaan berkeliaran bebas. 

“Awalnya villa punya nenek saya terus punya anjing 24 ekor. Jadi kalau ngasih makan anjing tuh di empat penjuru,” cerita Thea.
 
Namun tak lama kemudian, tempat itu mulai berubah wajah. Sejak 1927, vila pribadi itu bertransformasi menjadi pension atau penginapan sederhana, jauh sebelum izin resmi sebagai hotel tercatat pada 19 Februari 1953. 

Pada tahun 1932, penginapan ini sudah memiliki empat kamar yang siap menerima tamu, dan tahun 1953 lahirlah nama resmi Hotel Tjimahi.
 
Di masa kejayaannya, hotel ini menjadi tempat singgah favorit kalangan Belanda dan kemudian dihuni oleh para pejabat militer beserta keluarga mereka. Bahkan keluarga Jenderal Sarwo Edhie yang tak lain merupakan ayah dari Ani Yudhoyono, pernah menetap di bagian belakang hotel, dan sang putri bahkan memiliki dua kamar pribadi di sana.
 
“Sekitar tahun 50-an, sekitar 90 persen kamar selalu terisi. Di depan ada lima kamar untuk tamu harian, tapi di belakang penuh semua oleh tentara,” ungkapnya.
 
Namun kejayaan itu perlahan sirna ketika tahun 1965 tiba. Pergantian kepemimpinan membawa badai ekonomi yang menghantam keluarga. 

Bangunan yang digunakan oleh institusi negara tak pernah dibayar, menyisakan beban piutang yang kelak membuat keluarga terpuruk.
 
“Realitanya, kami tidak dibayar. Ada banyak kalau mau menyusuri hotel-hotel yang dipakai sama tentara, tidak pernah dibayar,” imbuhnya.

Ketika ia mencoba menghitung nilai piutang tersebut dengan bantuan kecerdasan buatan, hasilnya membuatnya terdiam. 

“Dia bilang 2,5 miliar. Hah? Kaget! Ya Allah gitu nya, hutang negara ke kami itu 2,5 M jika dikonversikan ke uang sekarang.”
 
Upaya penagihan yang dilakukan bertahun-tahun tak pernah membawa hasil. Bahkan harapan yang muncul pada 1972 hanya berujung pada kekecewaan mendalam. 

“Tidak satu sen pun kami dapatkan. Kami miskin karena piutang loh, bukan karena hutang loh. Kami miskin loh susah, makan teh satu telur dibagi empat,” cerita Thea dengan mata yang berkaca-kaca, mengingat masa ketika ayahnya meninggal pada 1969 dan ibunya harus menjadi tulang punggung keluarga sendirian.
 
“Berhutang. Dipunahkeun we nya (dilunaskan saja), udah 50 tahun lebih,” ujarnya.
 
Sempat ada harapan baru ketika investor tertarik mengembangkan Hotel Tjimahi menjadi hotel heritage berkelas internasional. 

Namun rencana itu kandas lantaran usia dan ketiadaan generasi penerus yang siap melanjutkan tongkat estafet. 

Kini, keputusan melepas hotel telah diambil, sebuah langkah yang bukan sekadar urusan bisnis, melainkan penutupan bab panjang dalam sejarah keluarga dan Kota Cimahi.
 
“Yalah kalau bisa bantu, ya sebenarnya saya sangat terbuka apapun gitu ya, apapun bentuknya,” ujarnya. 

Ia berharap kisah Hotel Tjimahi bisa sampai ke telinga para pemangku kebijakan dari SBY, AHY, hingga pemimpin daerah seperti Pak Ngatiyana dan Pak Adhitia.

"Ini agar sejarah yang dicatat oleh dinding-dinding tua ini tidak hanya lenyap seiring waktu," ucapnya. ***


Editor : Ahmad Sayuti