Menjaga Eksistensi Kebaya, Lindungi Budaya dari Krisis Identitas

Massifnya modernisasi menjadi ancaman terhadap eksistensi budaya Indonesia, salah satunya kebaya.

Menjaga Eksistensi Kebaya, Lindungi Budaya dari Krisis Identitas
Massifnya modernisasi menjadi ancaman terhadap eksistensi budaya Indonesia, salah satunya kebaya.

INILAHKORAN, Bandung - Massifnya modernisasi menjadi ancaman terhadap eksistensi budaya Indonesia, salah satunya kebaya.

Diperlukan kolaborasi semua pihak, guna menjaga eksistensi kebaya, dimana secara tidak langsung juga melindungi budaya Indonesia dari krisis identitas akibat terpaan modernisasi.

Atas dasar ini, Bakti Budaya Djarum Foundation menggandeng berbagai pihak, salah satunya public figure Andien Aisyah dalam menggarap film pendek bertajuk Kita Berkebaya, dengan harapan mampu menjadi katalisator bagi kaum hawa untuk kembali membumikan kebaya di Indonesia.

Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation Renitasari Adrian menuturkan, selain Andien dalam film tersebut juga melibatkan tujuh public figure lainnya, serta lebih dari 250 perempuan dari berbagai latar belakang yang tampil mengenakan kebaya dengan gaya mereka masing-masing.

“Pesan yang ingin kami sampaikan adalah agar kebaya bisa menjadi bagian dari keseharian perempuan Indonesia. kebaya adalah identitas, dan kami ingin nilai itu melekat kembali di masyarakat,” ujar Renitasari di Posco, Kota Bandung, Sabtu 26 Juli 2025.

Lebih dari sekadar kampanye visual, gerakan tersebut juga menyasar aspek ekonomi. kebaya dinilai memiliki potensi menghidupkan ekosistem pelaku usaha lokal seperti penjahit, pedagang kain, pembuat aksesori, hingga pelaku UMKM yang menjual kebaya melalui media sosial dan e-commerce.

“Dengan semakin banyak perempuan memakai kebaya, maka roda ekonomi pelaku UMKM juga ikut bergerak. Mereka bisa terus hidup, terutama di tengah situasi yang tidak mudah seperti sekarang ini,” ucapnya.

Film pendek Kita Berkebaya juga hadir sebagai bentuk respons terhadap krisis identitas, yang dirasakan sebagian masyarakat. Melalui kebaya, kampanye ini ingin mengajak perempuan Indonesia menemukan kembali jati diri budaya yang mungkin sempat terpinggirkan.

Sementara Andien mengungkapkan kebanggaannya, karena bisa terlibat dalam kampanye. Dia menilai, kebaya bukan hanya warisan leluhur, tetapi juga memiliki tempat penting dalam kehidupan perempuan masa kini.

“Film ini menyadarkan kita bahwa masa depan kebaya ada di tangan perempuan Indonesia. kebaya bukan cuma bagian dari sejarah, tapi juga membentuk siapa kita dan ke mana kita melangkah sebagai perempuan,” ujar Andien.

Lebih lanjut Andien mengungkapkan, kehadiran film pendek ini tidak disangka langsung memberikan dampak nyata. Dalam hitungan hari setelah peluncuran, sejumlah pelaku UMKM yang menjual kebaya merasakan peningkatan minat dan penjualan dari masyarakat.

“Kampanye ini seperti membangunkan kesadaran banyak orang bahwa kebaya masih relevan dan bisa jadi bagian dari gaya hidup masa kini,” ungkapnya.

Melalui kampanye tersebut, Bakti Budaya Djarum Foundation berharap kebaya tak hanya dikenang sebagai pakaian tradisional, tetapi benar-benar hidup di tengah masyarakat dan terus menghidupi mereka yang menggantungkan hidup pada warisan budaya tersebut.***


Editor : JakaPermana