Menyedihkan, Angkutan Delman Tagog Padalarang Nasibmu Kini....

Delman di wilayah Tagog, Padalarang, kian tersisih. Selain perubahan skema transportasi, juga karena pandemi menisbikan wisatawan.

Menyedihkan, Angkutan Delman Tagog Padalarang Nasibmu Kini....
Delman Tagog Padalarang

INILAHKORAN, Ngamprah - Saat senja mulai menyingsing, Endang (61) bersama delman kesayangannya sudah mangkal di pertigaan Jalan Tagog Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Namun hingga matahari tepat di atas kepala, tak seorang pun penumpang yang menggunakan jasanya.

Di tengah teriknya matahari, Endang telah menghabiskan hampir setengah bungkus rokok kretek. Namun, lagi-lagi tak seorang pun menghampiri delmannya.

Meski demikian, ia enggan untuk menyerah, mengingat pekan ini pelajar mulai masuk sekolah. Masih ada secercah harapan, tengah hari mungkin waktunya mereka pulang ke rumah.

Dalam hati ia berharap, barangkali ada satu-dua siswa SMP minta diantar ke daerah Kepuh atau Sudimampir.

"Ya beginilah kondisi kita sekarang, penumpang makin sulit. Sejak pagi belum dapat muatan. Ini menunggu anak sekolah keluar, mudah-mudahan mau naik," ungkapnya saat ditemui di pangkalan delman Tagogapu Padalarang, Kamis 23 September 2021.

Baca Juga: Kusir Delman di Garut Tewas Tersambar Petir Saat Cari Rumput

Endang mengaku, dirinya sudah menekuni sebagai kusir delman sejak 1989. Menurutnya, profesi ini pernah berada di masa keemasan di tahun 90-an.

"Delman dari pertigaan Tagog memiliki berbagai trayek seperti Tagog-Baloper, Tagog-Kepuh, Tagog-Sudimampir, hingga Tagogog-Cijeungjing. Pasar Tagog menjadi sentral lantaran di kawasan itu terdapat pasar," tuturnya.

Dari tahun ke tahun, ia merasa pengguna angkutan tradisional delman makin menyusut. Bahkan, hal ini pun berbanding lurus dengan angkutan yang kian menurun.

"Dari total 150 delman pada tahun 90-an, kini jumlahnya tak lebih dari 20 unit saja," sebutnya.

Baca Juga: Pemkab Garut Larang Delman Beroperasi di Jalur Mudik Lebaran

Ia menjelaskan, banyak di antara kusir delman yang memilih banting setir ke profesi lain, mulai jadi tukang ojek hingga buruh lantaran minimnya penumpang. Tak ayal, kondisi ini mempercepat derap langkah delman berada diambang kepunahan.

"Dulu sehari paling sedikit bisa dapat untung bersih Rp100 ribu, sekarang dapat Rp50 ribu saja sulitnya minta ampun. Kusabab teu kaharti, nya loba nu teu narik delman deui," jelasnya.

Ada berbagai faktor yang menjadi penyebab masa depan angkutan delman di Bandung Barat kian meredup. Salah satunya, orientasi transportasi modern yang dinilai lebih cepat dan nyaman.

Ia menambahkan, ada juga faktor lain yang membuat angkutan delman semakin cepat punah adalah pandemi COVID-19 dan hilangnya Pasar Pos Wetan pasca digusur Satuan Polisi Pamong Praja.

"Pandemi Covid-19 tentunya semakin mempersulit kita sehingga banyak yang gak narik lagi dan menjual kudanya. Selain itu, Pasar Pos Wetan Padalarang juga hilang nggak ada yang minta anterin ke sini,” ujarnya. (agus satia negara)


Editor : inilahkoran