Minim Atensi, Orangtua Kesulitan Ajukan Bantuan ke Dinsos Cimahi untuk Anak Pengidap Cerebral Palsy

Minimnya atensi Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi membuat sebagian besar warga penyandang disabilitas harus berjuang keras untuk bisa bertahan hidup.

Minim Atensi, Orangtua Kesulitan Ajukan Bantuan ke Dinsos Cimahi untuk Anak Pengidap Cerebral Palsy

INILAHKORAN, Cimahi - Harapan kaum disabilitas di Kota Cimahi untuk bisa mendapatkan kesetaraan hidup laik nampaknya masih sekadar mimpi.

Minimnya atensi Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi membuat sebagian besar warga penyandang disabilitas harus berjuang keras untuk bisa bertahan hidup.

"Hingga kini belum ada perhatian yang signifikan dari Pemkot Cimahi, terutama Dinas Sosial (Dinsos)," kata Koordinator Wilayah komunitas Bumi Difabel Cimahi, Linda Marlina (45) belum lama ini.

Linda mengaku, pihaknya tidak mengetahui dimana bisa mengakses bantuan pemerintah agar bisa memenuhi berbagai syarat administrasi.

"Intinya untuk bisa mendapatkan bantuan selalu terbentur masalah administrasi," ujarnya.

Linda menuturkan, kondisi itu semakin rumit lantaran dirinya tinggal di Kota Cimahi, sementara kartu keluarga (KK) miliknya masih terdaftar di Kabupaten Bandung.

Alhasil, dirinya terpaksa harus bolak-balik saat dari Cimahi ke Kabupaten Bandung untuk membuat pengajuan bantuan kursi roda untuk anaknya, Naqi Rizqi Ramadan, 4 tahun yang juga penyandang cerebral palsy.

"Sempat ngajuin kursi roda ke Dinsos, tapi karena KK saya di Ciwidey jadi harus ngurus ke sana. Saya udah malas karena harus bolak-balik, belum lagi saya gak bisa ninggalin anak," ucapnya.

Lantaran keterbatasan waktu dan kondisi, serta anaknya yang butuh pengawasan penuh, Linda pun akhirnya mengajukan bantuan ke Kota Bandung. 

Menurutnya, proses administrasinya pun bergantung pada donatur pusat, dan dibagikan sesuai daftar kebutuhan tiap kota, termasuk Cimahi.

"Tapi itu pun dibagi secara bergiliran, nggak langsung semua dapat," ujarnya.

Persoalan utama lainnya, sambung Linda, minimnya pemahaman masyarakat terhadap disabilitas yang masih minim. Menurutnya, diskriminasi hingga pandangan sebelah mata terhadap difabel masih kerap terjadi di lingkungan sekitar.

"Masyarakat masih banyak yang belum paham difabel itu seperti apa. Mereka belum aware dan kadang memandang sebelah mata. Itu menyakitkan bagi orang tua yang punya anak difabel," ujarnya.***


Editor : Ahmad Sayuti